Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 1 Desember 2016 | 19.58 WIB

Dijanjikan Pekerjaan, Bunga Malah Jadi Korban Pemerkosaan

WASPADA MEDSOS: AKBP Muhammad Anwar Nasir (tengah) didampingi Kasatreskrim Kompol Manang Soebeti (kanan) menunjukkan sejumlah barang bukti tindak pidana dengan tersangka Haris (kiri) di Mapolresta Sidoarjo. - Image

WASPADA MEDSOS: AKBP Muhammad Anwar Nasir (tengah) didampingi Kasatreskrim Kompol Manang Soebeti (kanan) menunjukkan sejumlah barang bukti tindak pidana dengan tersangka Haris (kiri) di Mapolresta Sidoarjo.

JawaPos.com- Sebut saja namanya Bunga. Berawal dari media sosial (medsos), perempuan 19 tahun itu kini merasakan pengalaman hidup yang memilukan. Dia telah menjadi korban pemerkosaan disertai pencurian dengan kekerasan (curas). Pelaku tindakan bejat itu adalah M. Haris, 29.



Kejadian getir tersebut berawal dari perkenalan korban dengan Haris lewat jejaring sosial Facebook (FB). Kejadian itu belum lama, yakni awal November lalu. Saat itu akun FB korban mendapat permintaan pertemanan dari akun bernama Benny Cahyadi. Gayung bersambut. Tanpa menaruh rasa curiga, korban pun menerima permintaan pertemanan Haris tersebut.



Setelah terjalin pertemanan di FB, Haris rajin melancarkan jurus gombalnya dengan menggunakan akun Benny Cahyadi itu. Melalui chat inbox di FB, Haris juga mengaku seorang polisi. Pangkatnya, ajun komisaris polisi (AKP). Korban pun terbuai hingga masuk perangkap.



’’Dua hari setelah berkenalan di FB itu, korban memberikan kontak telepon kepada tersangka (Haris),’’ ujar Kapolresta Sidoarjo AKBP Muhammad Anwar Nasir.



Haris adalah lelaki pengangguran asal Desa Margorejo, Jatiagung, Lampung Selatan. Selama ini, dia tidak memiliki tempat tinggal tetap. Dia biasa nongkrong di warung di kawasan Porong, Sidoarjo.



Berbekal nomor telepon, Haris makin gencar mendekati korban. Hampir setiap waktu dia menelepon korban. Nah, di sela-sela komunikasi yang terjalin tersebut, korban mengaku sedang bingung mencari pekerjaan. Haris menangkap kesempatan itu. Dia siap mencarikan pekerjaan. ’’Selanjutnya, korban diajak ketemuan dengan dalih mau diantar ke rekan sesama polisinya yang punya lowongan,’’ tutur Anwar.



Korban menyetujui ajakan pertemuan tersebut. Mereka lantas janjian untuk kopi darat pada Minggu (27/11). Sekitar pukul 11.30, Haris dan korban berjumpa di Terminal Jombang. Dalam pertemuan itu, Haris mengaku bukan Benny Cahyadi seperti akun dalam FB. Dia justru mengaku sebagai ajudan Benny. ’’Dalih pelaku, Benny yang mengaku perwira polisi tersebut sedang sibuk sehingga mengutusnya untuk menjemput,’’ jelas Anwar.



Dari Terminal Jombang, Haris dan korban menumpang bus dengan tujuan Terminal Purabaya. Keduanya tiba sekitar pukul 14.00. Haris kemudian mengajak korban jalan-jalan ke Jembatan Merah Plaza (JMP). Dalam perjalanan dengan menumpang bus kota itu, Haris diam-diam mengirim pesan pendek (SMS) ke handphone korban.



’’Mengakunya tetap sebagai perwira polisi. Intinya, minta pengertian dari korban karena tidak bisa menjemput gara-gara sibuk,’’ kata Anwar.



Hari menginjak malam, Haris yang mengaku sebagai ajudan polisi tersebut mengajak korban mendatangi rumah pimpinannya di kawasan jalan arteri Porong. Mereka lalu naik angkutan umum dan tiba sekitar pukul 21.00. Setelah turun, keduanya berjalan kaki ke arah barat Jalan Raya Porong. Saat jalan kaki, mereka melewati bangunan musala yang sudah tidak terpakai.



Lalu, Haris mulai melakukan perbuatan bejatnya di tempat itu. Korban tentu saja menolak. Namun, Haris tidak kurang akal. Dia mengancam korban dengan menggunakan korek api berbentuk senjata api (senpi). ’’Disertai dengan kekerasan. Bahkan, karena menolak, pipi korban sempat dipukul dua kali. Perutnya diinjak oleh tersangka,’’ ujar Anwar.



Korban akhirnya tidak kuasa melawan. Korban hanya bisa pasrah saat disetubuhi Haris. Namun, Haris ternyata tidak berhenti sampai di situ. Dia juga membawa kabur dua handphone dan uang Rp 400 ribu milik korban sebelum meninggalkannya dalam kondisi tidak berdaya.



Anwar menjelaskan, sesaat setelah kejadian memilukan itu, korban langsung memberikan laporan. Jajaran reskrim pun dikerahkan untuk menemukan keberadaan pelaku. ’’Alhamdulillah, kurang dari 24 jam tersangka bisa kami amankan,’’ ungkap mantan Kapolres Nganjuk tersebut.



Saat melakukan penyelidikan, ungkap Anwar, pihaknya mendapat petunjuk yang berarti. Salah seorang warga sekitar lokasi mengaku tidak asing dengan ciri-ciri lelaki yang diceritakan korban. Orang itu biasa nongkrong di pinggir jalan arteri Porong, persisnya di Desa Pamotan. Benar saja, saat melakukan pengejaran, petugas mendapati Haris sedang santai di sebuah warung.



Anwar merasa prihatin dengan kejadian tersebut. Dia mengimbau masyarakat, khususnya perempuan, untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan media sosial. Sebab, banyak bertebaran akun palsu para pelaku kejahatan. ’’Beberapa waktu lalu kan juga ada modus kejahatan seperti itu. Awalnya, kenalan melalui Facebook. Bahkan, korbannya sampai dibunuh di sebuah kamar hotel,’’ ucapnya.

Editor: Fim Jepe
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore