Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 9 Oktober 2026 | 23.37 WIB

5 Cara Terhubung Kembali dengan Diri Sendiri dan Orang Lain di Dunia Nyata Menurut Psikologi

seseorang yang terhubung kembali dengan orang lain. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Ada masa ketika kita merasa begitu dekat dengan banyak orang, tetapi pada saat yang sama justru merasa semakin jauh dari siapa pun.


Kita bisa mengetahui apa yang sedang dilakukan teman melalui media sosial. Kita bisa mengirim pesan hanya dalam hitungan detik. Kita bisa mengikuti kehidupan orang lain dari layar ponsel tanpa harus benar-benar bertemu dengan mereka.

Namun anehnya, semua kemudahan itu tidak selalu membuat kita merasa lebih terhubung.

Justru sebaliknya.

Semakin banyak waktu yang kita habiskan di dunia digital, terkadang semakin sulit bagi kita untuk benar-benar hadir dalam kehidupan nyata. Kita mungkin duduk bersama seseorang, tetapi pikiran masih sibuk memeriksa notifikasi. Kita mungkin sedang sendirian di rumah, tetapi terus-menerus mengonsumsi konten sampai tidak memiliki ruang untuk mendengar apa yang sebenarnya kita rasakan.

Pada titik tertentu, kita mulai merindukan sesuatu yang sederhana: percakapan yang benar-benar hadir, berjalan tanpa tujuan sambil menikmati suasana, tertawa bersama tanpa perlu mengabadikannya, atau sekadar duduk dalam keheningan tanpa merasa harus membuka ponsel.

Keinginan untuk kembali terhubung dengan diri sendiri dan orang lain di luar jaringan bukan berarti kita harus meninggalkan teknologi sepenuhnya. Teknologi bukan musuh. Persoalannya adalah ketika kehidupan digital mulai mengambil terlalu banyak ruang dari pengalaman langsung yang sebenarnya juga dibutuhkan oleh manusia.

Psikologi telah lama menunjukkan bahwa manusia membutuhkan hubungan sosial yang bermakna, rasa memiliki, perhatian yang utuh, serta kesempatan untuk memahami pikiran dan emosinya sendiri.

Jadi, jika akhir-akhir ini kamu merasa terlalu terjebak dalam dunia online, mungkin sudah waktunya untuk perlahan kembali ke dunia nyata.

Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (9/10), terdapat lima strategi yang bisa kamu coba.

1. Ciptakan Waktu Tanpa Layar untuk Mendengarkan Dirimu Sendiri

Salah satu alasan kita sulit memahami diri sendiri adalah karena kita jarang memberi diri kita kesempatan untuk benar-benar diam.

Begitu ada waktu luang, tangan otomatis mencari ponsel.

Menunggu makanan? Membuka media sosial.

Menunggu kendaraan? Menonton video.

Sebelum tidur? Menggulir layar.

Bangun tidur? Memeriksa notifikasi.

Tanpa disadari, hampir setiap jeda dalam hidup kita diisi dengan rangsangan dari luar.

Padahal, jeda memiliki fungsi psikologis yang penting. Ketika tidak terus-menerus mendapatkan informasi baru, kita memiliki kesempatan untuk memperhatikan pikiran, perasaan, kebutuhan, dan pengalaman pribadi.

Cobalah membuat periode kecil tanpa layar setiap hari.

Tidak harus langsung berjam-jam.

Kamu bisa memulainya dengan 20–30 menit.

Letakkan ponsel di tempat yang tidak mudah dijangkau. Kemudian lakukan sesuatu yang sederhana: berjalan kaki, duduk di teras, minum kopi, membaca buku fisik, menulis jurnal, atau sekadar menikmati lingkungan sekitar.

Awalnya mungkin terasa aneh.

Bahkan membosankan.

Tetapi rasa bosan tidak selalu merupakan sesuatu yang harus segera dihilangkan.

Terkadang, kebosanan adalah pintu masuk menuju kesadaran.

Ketika tidak ada notifikasi yang perlu diperiksa dan tidak ada konten yang harus dikonsumsi, kamu mulai menyadari hal-hal yang sebelumnya tertutup oleh kebisingan digital.

Mungkin kamu menyadari bahwa sebenarnya kamu sedang lelah.

Mungkin kamu menyadari bahwa ada sesuatu yang membuatmu cemas.

Mungkin kamu menyadari bahwa hubungan tertentu sudah tidak terasa sehat.

Atau mungkin kamu menyadari bahwa selama ini kamu terlalu sibuk memenuhi ekspektasi orang lain sampai lupa bertanya apa yang sebenarnya kamu inginkan.

Inilah alasan waktu tanpa layar bukan sekadar "detoks digital".

Ini juga bisa menjadi kesempatan untuk kembali mendengarkan diri sendiri.

Cobalah latihan sederhana ini

Setiap hari, luangkan 15–30 menit tanpa ponsel dan tanyakan kepada dirimu:

Apa yang sedang aku rasakan?
Apa yang sebenarnya sedang aku butuhkan?
Apa yang membuatku lelah akhir-akhir ini?
Apa yang membuatku merasa hidup?
Siapa orang yang ingin benar-benar aku temui?
Apakah hidupku saat ini sesuai dengan hal-hal yang sebenarnya penting bagiku?

Tidak perlu memaksa mendapatkan jawaban.

Tujuannya bukan mencari solusi dalam satu malam.

Tujuannya adalah mulai kembali mendengar suara diri sendiri.

2. Ganti Interaksi Digital dengan Pertemuan yang Benar-Benar Hadir

Kita sering mengira bahwa mengirim pesan kepada seseorang sama dengan terhubung dengannya.

Padahal, komunikasi digital dan interaksi tatap muka memiliki pengalaman yang berbeda.

Pesan teks dapat membantu kita tetap berkomunikasi, tetapi pertemuan langsung memberikan banyak informasi yang tidak selalu tersedia melalui layar: ekspresi wajah, intonasi, bahasa tubuh, kontak mata, suasana, dan keheningan di antara percakapan.

Semua itu membantu kita memahami orang lain secara lebih utuh.

Karena itu, jika kamu merasa hubungan dengan orang-orang terdekat mulai terasa dangkal, jangan hanya mengirim pesan lebih banyak.

Cobalah bertemu.

Tidak harus dalam acara besar.

Justru pertemuan sederhana sering kali lebih bermakna.

Ajak seorang teman minum kopi. Makan siang bersama keluarga. Berjalan sore dengan pasangan. Mengunjungi teman lama. Atau sekadar duduk bersama seseorang tanpa agenda yang terlalu rumit.

Yang penting bukan aktivitasnya.

Yang penting adalah kehadirannya.

Ketika bertemu seseorang, cobalah membuat satu aturan sederhana: jangan terus-menerus memeriksa ponsel.

Letakkan ponsel di dalam tas atau jauh dari jangkauan.

Kemudian benar-benar dengarkan.

Ketika orang lain berbicara, jangan buru-buru memikirkan jawaban. Jangan sibuk memikirkan apa yang akan kamu katakan berikutnya.

Dengarkan untuk memahami.

Tanyakan pertanyaan lanjutan.

Misalnya, daripada hanya berkata, "Oh, begitu," kamu bisa bertanya:

"Bagaimana perasaanmu waktu itu?"

"Apa yang paling sulit dari semuanya?"

"Setelah kejadian itu, apa yang berubah dalam dirimu?"

Pertanyaan seperti ini membuka ruang bagi percakapan yang lebih dalam.

Dan terkadang, kita baru menyadari betapa kita merindukan percakapan semacam itu setelah benar-benar mengalaminya.

Jangan menunggu hubungan menjadi sempurna

Ada kesalahan yang sering kita lakukan: kita menunggu waktu yang tepat untuk menghubungi seseorang.

"Kapan-kapan kalau sudah tidak sibuk."

"Nanti kalau ada kesempatan."

"Nanti kalau suasana sudah lebih baik."

Padahal, hubungan membutuhkan tindakan nyata.

Jika kamu merindukan seseorang, hubungi dia.

Jika sudah lama tidak bertemu teman, ajak bertemu.

Jika hubungan dengan keluarga terasa renggang, mulai dengan percakapan sederhana.

Tidak semua hubungan akan kembali seperti dulu. Tetapi banyak hubungan tidak pernah memiliki kesempatan untuk membaik karena kedua pihak sama-sama menunggu.

3. Kembali Melakukan Aktivitas yang Membuatmu Hadir Secara Fisik

Dunia digital membuat kita banyak mengalami kehidupan melalui pikiran dan mata.

Kita melihat.

Membaca.

Menonton.

Menggulir.

Memberi reaksi.

Tetapi tubuh kita sering kali hanya diam di tempat.

Karena itu, salah satu cara untuk kembali terhubung dengan diri sendiri adalah melakukan aktivitas yang membuat tubuh benar-benar hadir.

Berjalan kaki adalah contoh sederhana.

Kamu tidak membutuhkan peralatan mahal. Tidak perlu menjadi atlet. Tidak harus mencapai target tertentu.

Cukup berjalan.

Perhatikan suara kendaraan.

Rasakan udara.

Lihat pepohonan.

Perhatikan orang-orang yang lewat.

Rasakan langkah kaki.

Biarkan perhatian kembali ke lingkungan fisik.

Aktivitas seperti memasak, berkebun, menggambar, bermain musik, berolahraga, membuat kerajinan, atau membersihkan rumah dengan sadar juga dapat membantu kita keluar sejenak dari kehidupan yang terlalu berbasis layar.

Yang menarik, aktivitas fisik juga bisa menjadi jembatan untuk membangun hubungan sosial.

Daripada mengajak teman untuk terus bertukar pesan, ajak mereka berjalan bersama.

Daripada hanya bermain gim bersama secara online, sesekali bermain olahraga secara langsung.

Daripada hanya membagikan foto makanan, masak bersama seseorang.

Kegiatan sederhana semacam itu menciptakan pengalaman bersama.

Dan pengalaman bersama merupakan salah satu bahan penting dalam membangun kedekatan.

Kita tidak hanya membutuhkan orang lain untuk berbicara.

Kita juga membutuhkan orang lain untuk mengalami sesuatu bersama.

4. Latih Kemampuan untuk Benar-Benar Mendengarkan

Salah satu bentuk keterhubungan yang paling kuat sebenarnya sangat sederhana: merasa didengar.

Banyak orang tidak kekurangan orang untuk diajak bicara.

Mereka kekurangan seseorang yang benar-benar mendengarkan.

Ketika seseorang bercerita, kita sering langsung memberikan nasihat.

"Kalau aku jadi kamu..."

"Seharusnya kamu..."

"Coba lakukan ini."

Padahal, tidak semua orang sedang mencari solusi.

Terkadang mereka hanya ingin pengalaman mereka dipahami.

Mendengarkan dengan baik berarti memberi perhatian kepada orang lain tanpa terus-menerus mengarahkan percakapan kembali kepada diri sendiri.

Misalnya, ketika teman bercerita tentang masalah pekerjaannya, kamu tidak harus langsung membandingkannya dengan pengalamanmu.

Kamu bisa mengatakan:

"Sepertinya itu benar-benar melelahkan."

"Aku bisa mengerti kenapa kamu merasa frustrasi."

"Bagian mana yang paling berat buat kamu?"

Kalimat sederhana seperti itu menunjukkan bahwa kamu hadir.

Dalam hubungan yang sehat, seseorang tidak hanya membutuhkan jawaban. Mereka membutuhkan pengalaman emosional bahwa perasaan mereka memiliki tempat.

Dan kemampuan mendengarkan juga dapat mengubah cara kita melihat orang lain.

Ketika kita benar-benar mendengarkan, kita mulai melihat manusia di balik perannya.

Teman bukan hanya orang yang menghibur kita.

Orang tua bukan hanya sosok yang harus kita patuhi.

Pasangan bukan hanya seseorang yang selalu tersedia untuk kita.

Rekan kerja bukan hanya orang yang menyelesaikan tugas bersama kita.

Mereka semua memiliki ketakutan, harapan, pengalaman, luka, dan impian yang mungkin tidak terlihat dari permukaan.

Percakapan yang mendalam membantu kita melihat semua itu.

5. Bangun Ritual Kecil yang Membuat Kehidupan Nyata Terasa Berarti

Kita sering berpikir bahwa untuk mengubah hidup, kita membutuhkan perubahan besar.

Padahal, keterhubungan sering kali dibangun melalui kebiasaan kecil yang dilakukan berulang kali.

Misalnya, makan malam bersama keluarga tanpa ponsel setiap Jumat.

Berjalan pagi bersama teman setiap akhir pekan.

Menelepon orang tua pada hari tertentu.

Minum kopi bersama sahabat sebulan sekali.

Membaca buku sebelum tidur.

Menghabiskan satu sore tanpa media sosial.

Atau membuat kebiasaan menulis jurnal selama sepuluh menit setiap malam.

Hal-hal tersebut mungkin terlihat sederhana.

Tetapi justru konsistensi yang membuatnya kuat.

Manusia membutuhkan pola dan ritual. Ritual kecil memberikan struktur pada kehidupan dan menciptakan momen yang dapat dinantikan.

Bayangkan jika setiap minggu kamu memiliki satu waktu khusus untuk bertemu seseorang yang kamu sayangi.

Lama-kelamaan, pertemuan itu bukan lagi sekadar aktivitas.

Ia menjadi bagian dari kehidupanmu.

Begitu juga dengan hubunganmu dengan diri sendiri.

Ketika kamu secara rutin memberikan waktu untuk berjalan, membaca, menulis, beristirahat, atau melakukan sesuatu yang bermakna, kamu sedang mengirimkan pesan kepada dirimu sendiri:

"Aku penting."

Kita sering mengira self-care berarti membeli sesuatu untuk diri sendiri atau pergi berlibur.

Padahal, salah satu bentuk perawatan diri yang paling mendasar adalah memberikan perhatian kepada kehidupanmu sendiri.

Jangan Berusaha Menghilangkan Dunia Digital Sepenuhnya

Ada satu hal penting yang perlu diingat.

Tujuan dari semua ini bukan menjadi anti-teknologi.

Internet memiliki banyak manfaat.

Media sosial dapat membantu kita menjaga hubungan dengan orang yang jauh. Teknologi dapat membuka akses terhadap pendidikan, pekerjaan, komunitas, dan informasi.

Masalahnya muncul ketika alat yang seharusnya membantu kehidupan justru mulai mengambil alih kehidupan.

Pertanyaannya bukan:

"Berapa lama aku menggunakan internet?"

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

"Apakah cara aku menggunakan internet membuat hidupku lebih bermakna atau justru membuatku semakin jauh dari hal-hal yang penting?"

Jika media sosial membantumu menjaga hubungan dengan teman yang tinggal jauh, itu bisa menjadi sesuatu yang positif.

Tetapi jika kamu menghabiskan berjam-jam melihat kehidupan orang lain dan kemudian merasa hidupmu sendiri kurang menarik, mungkin sudah waktunya mengevaluasi kembali kebiasaan tersebut.

Jika ponsel membantumu bekerja secara efisien, bagus.

Tetapi jika setiap kali merasa tidak nyaman kamu otomatis mengambil ponsel untuk menghindari perasaan tersebut, mungkin ada sesuatu yang perlu diperhatikan.

Teknologi seharusnya menjadi bagian dari kehidupan.

Bukan menjadi tempat kita melarikan diri dari kehidupan.

Keterhubungan Dimulai dari Kehadiran

Pada akhirnya, kembali terhubung dengan diri sendiri dan orang lain bukanlah tentang melakukan sesuatu yang spektakuler.

Ini tentang belajar hadir kembali.

Hadir ketika sedang makan.

Hadir ketika berbicara.

Hadir ketika berjalan.

Hadir ketika sendirian.

Hadir ketika seseorang menceritakan sesuatu.

Dan yang paling penting, hadir ketika kita sedang mengalami kehidupan kita sendiri.

Mungkin selama ini kita terlalu sibuk mencari koneksi di luar sana sampai lupa bahwa hubungan yang paling awal harus dibangun dengan diri sendiri.

Ketika kita mulai memahami apa yang kita rasakan, kita akan lebih mampu memahami orang lain.

Ketika kita belajar menikmati kesendirian, kita tidak lagi mencari orang lain hanya untuk menghindari rasa sepi.

Ketika kita belajar mendengarkan, hubungan kita menjadi lebih dalam.

Dan ketika kita mulai memberi ruang bagi kehidupan nyata, kita mungkin menyadari bahwa ternyata banyak hal yang selama ini kita cari di layar sudah ada di sekitar kita.

Ada teman yang ingin diajak bertemu.

Ada keluarga yang ingin diajak berbicara.

Ada tubuh yang ingin diajak berjalan.

Ada pikiran yang ingin didengarkan.

Dan ada diri kita sendiri yang mungkin sudah lama menunggu untuk diperhatikan.

Jadi, kamu tidak perlu mengubah seluruh hidupmu hari ini.

Mulailah dari sesuatu yang kecil.

Letakkan ponsel selama tiga puluh menit.

Keluar dan berjalan.

Hubungi seseorang yang kamu rindukan.

Dengarkan seseorang tanpa memeriksa layar.

Dan sebelum tidur malam ini, tanyakan kepada dirimu sendiri:

"Apakah hari ini aku benar-benar hadir dalam hidupku sendiri?"

Mungkin dari pertanyaan sederhana itulah perjalanan untuk kembali terhubung benar-benar dimulai.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore