Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 26 Agustus 2026 | 00.12 WIB

Jika Anda Menemukan 10 Tanda pada Pasangan, Dia Mungkin Bersikap Seperti “Hater” Menurut Psikologi

seseorang yang bersikap seperti hater kepada pasangannya. (magnific)

 

 
JawaPos.com - Dalam sebuah hubungan, tidak semua bentuk ketidaksetujuan berarti kebencian. Pasangan tentu boleh mengkritik, memiliki pendapat berbeda, atau memberi tahu kita ketika melakukan kesalahan. Namun, ada perbedaan besar antara kritik yang bertujuan membangun dan perilaku yang secara konsisten membuat pasangan merasa kecil, tidak dihargai, atau bahkan tidak bahagia atas keberhasilannya.

Istilah “hater” sendiri bukan diagnosis psikologis. Dalam bahasa sehari-hari, istilah ini biasanya digunakan untuk menggambarkan seseorang yang cenderung meremehkan, menjatuhkan, iri, atau menunjukkan sikap negatif terhadap orang lain. Dalam hubungan romantis, pola semacam ini bisa menjadi sangat melelahkan karena datang dari orang yang seharusnya menjadi salah satu sumber dukungan terbesar.

Psikologi hubungan menunjukkan bahwa kualitas hubungan tidak hanya ditentukan oleh seberapa sering pasangan mengatakan “aku cinta kamu”, tetapi juga oleh bagaimana mereka merespons keberhasilan, kegagalan, kebutuhan, dan kerentanan satu sama lain.

Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (25/8), terdapat 10 tanda yang patut diperhatikan jika Anda merasa pasangan mulai bersikap seperti seorang “hater”.

1. Dia Sulit Benar-Benar Bahagia atas Keberhasilan Anda

Bayangkan Anda mendapatkan promosi, berhasil menyelesaikan proyek penting, mendapat pujian dari orang lain, atau mencapai sesuatu yang sudah lama Anda perjuangkan.

Alih-alih ikut merayakan, pasangan justru berkata:

“Ah, itu kan cuma kebetulan.”

Atau:

“Jangan terlalu bangga dulu.”

Bahkan mungkin dia langsung mengalihkan pembicaraan kepada dirinya sendiri.

Dalam psikologi hubungan, respons terhadap kabar baik pasangan merupakan sesuatu yang penting. Pasangan yang sehat biasanya mampu memberikan respons positif dan aktif ketika orang yang dicintainya mengalami sesuatu yang menyenangkan.

Masalahnya bukan karena pasangan tidak berteriak kegirangan setiap kali Anda sukses. Setiap orang memiliki cara berbeda dalam mengekspresikan emosi. Yang perlu diperhatikan adalah pola yang konsisten.

Jika setiap pencapaian Anda selalu dikecilkan, dicari kekurangannya, atau dianggap tidak penting, lama-kelamaan Anda bisa merasa bahwa kesuksesan harus disembunyikan agar hubungan tetap tenang.

Dan itu bukan kondisi yang sehat.

2. Kritiknya Lebih Sering Menjatuhkan daripada Membantu

Kritik dalam hubungan sebenarnya bisa sehat.

Misalnya, pasangan mengatakan:

“Menurutku cara kamu menyampaikan itu bisa dibuat lebih baik. Kalau kamu mau, aku bisa bantu.”

Ada masalah yang disampaikan, tetapi tetap ada rasa hormat.

Berbeda dengan:

“Kamu memang selalu begini.”

“Makanya jangan sok pintar.”

“Aku sudah tahu kamu pasti gagal.”

Perbedaan utamanya terletak pada tujuan dan cara penyampaiannya.

Kritik konstruktif berfokus pada perilaku atau situasi tertentu. Kritik yang merendahkan cenderung menyerang karakter seseorang secara keseluruhan.

Jika hampir setiap kesalahan Anda dijadikan bukti bahwa Anda “bodoh”, “malas”, “tidak becus”, atau “tidak akan pernah berhasil”, masalahnya bukan lagi sekadar kritik.

Itu sudah menjadi pola komunikasi yang merusak harga diri.

3. Dia Sering Membandingkan Anda dengan Orang Lain

“Lihat temanmu, kariernya sudah jauh lebih bagus.”

“Kenapa kamu tidak bisa seperti pasangan orang lain?”

“Kalau aku punya pasangan seperti dia, mungkin hidupku lebih mudah.”

Perbandingan seperti ini mungkin terdengar sederhana, tetapi jika dilakukan terus-menerus, efeknya bisa sangat besar.

Hubungan yang sehat tidak seharusnya terasa seperti kompetisi permanen.

Pasangan idealnya membantu Anda berkembang tanpa membuat Anda merasa harus mengalahkan orang lain agar layak dihargai.

Perbandingan yang terus-menerus juga dapat membuat seseorang mulai mempertanyakan dirinya sendiri.

Anda mungkin mulai berpikir:

“Apa pun yang saya lakukan ternyata masih kurang.”

Jika perasaan tersebut muncul berulang kali setelah berinteraksi dengan pasangan, ada baiknya memperhatikan pola komunikasinya.

4. Dia Tampak Lebih Senang Saat Anda Gagal

Ini merupakan salah satu tanda yang paling mudah dirasakan tetapi sering sulit diakui.

Ketika Anda gagal, pasangan mungkin mengatakan sesuatu seperti:

“Tuh, kan. Aku sudah bilang.”

Atau bahkan menunjukkan ekspresi puas ketika sesuatu yang Anda perjuangkan tidak berjalan sesuai rencana.

Satu kegagalan tidak otomatis berarti seseorang membenci Anda. Pasangan mungkin saja frustrasi karena sebelumnya sudah memperingatkan Anda.

Namun, jika kegagalan Anda secara konsisten menjadi sumber kepuasan bagi pasangan, situasinya berbeda.

Dalam hubungan yang sehat, pasangan tidak harus selalu setuju dengan keputusan Anda. Tetapi ketika Anda jatuh, biasanya masih ada empati.

Seseorang bisa berkata:

“Aku memang tidak setuju dengan keputusanmu, tapi aku tetap ingin membantu kamu melewati ini.”

Kalimat seperti itu menunjukkan perbedaan antara ketidaksetujuan dan keinginan melihat pasangan gagal.

5. Dia Sering Menjadikan Kelemahan Anda sebagai Bahan Candaan

Humor memang bagian penting dalam hubungan.

Pasangan boleh saling menggoda. Bahkan, candaan ringan bisa membuat hubungan semakin dekat.

Namun, ada batas yang perlu diperhatikan.

Jika pasangan mengetahui bahwa Anda merasa tidak percaya diri terhadap sesuatu, kemudian kelemahan itu terus dijadikan bahan lelucon di depan orang lain, perilaku tersebut patut dipertanyakan.

Terlebih lagi jika ketika Anda keberatan, dia menjawab:

“Bercanda saja, kok. Kamu terlalu sensitif.”

Kalimat tersebut dapat mengabaikan perasaan Anda.

Perbedaannya sederhana: candaan yang sehat membuat kedua orang merasa nyaman; candaan yang merendahkan membuat satu orang tertawa sementara yang lain terluka.

6. Dia Meremehkan Impian dan Tujuan Anda

Setiap orang memiliki impian yang berbeda.

Bagi satu orang, membeli rumah mungkin menjadi tujuan besar. Bagi orang lain, membangun bisnis, mendapatkan pekerjaan impian, menyelesaikan pendidikan, atau mengembangkan hobi bisa sama pentingnya.

Pasangan yang suportif tidak harus selalu yakin bahwa Anda akan berhasil.

Tetapi dia setidaknya dapat menghargai bahwa tujuan tersebut berarti bagi Anda.

Sebaliknya, seorang pasangan yang bersikap seperti “hater” mungkin mengatakan:

“Mimpi kamu terlalu tinggi.”

“Kayaknya kamu tidak cocok melakukan itu.”

“Ngapain sih mengejar hal seperti itu?”

“Kamu memang tidak punya kemampuan untuk itu.”

Jika semua ambisi Anda selalu dipadamkan sebelum sempat berkembang, lama-kelamaan Anda bisa berhenti mencoba.

Dan terkadang, masalah terbesar bukan ketika seseorang gagal mencapai impiannya, tetapi ketika dia mulai takut bermimpi karena terus-menerus diremehkan orang terdekatnya.

7. Dia Tidak Memberikan Dukungan, tetapi Menuntut Dukungan dari Anda

Hubungan yang sehat membutuhkan timbal balik.

Jika Anda selalu mendengarkan keluhannya, memberikan semangat ketika dia menghadapi masalah, merayakan pencapaiannya, dan berada di sampingnya ketika dia gagal, tetapi ketika giliran Anda membutuhkan dukungan dia justru menghilang, hubungan tersebut mungkin tidak seimbang.

Perhatikan apakah ada pola seperti:

Ketika dia sukses: Anda harus ikut bahagia.

Ketika dia gagal: Anda harus memberikan dukungan.

Ketika Anda sukses: dia meremehkannya.

Ketika Anda gagal: dia menyalahkan Anda.

Jika pola ini terus berlangsung, masalahnya bukan sekadar kurang romantis.

Ada kemungkinan hubungan tersebut memiliki ketimpangan emosional.

Dukungan bukan berarti harus selalu setuju. Dukungan berarti mampu menunjukkan bahwa keberadaan dan kesejahteraan pasangan tetap penting meskipun sedang berbeda pendapat.

8. Dia Terlihat Iri terhadap Perkembangan Anda

Iri merupakan emosi manusia yang normal. Seseorang bisa merasa iri ketika melihat orang lain mendapatkan sesuatu yang dia inginkan.

Yang menjadi masalah adalah bagaimana emosi tersebut diekspresikan.

Pasangan mungkin mengalami kesulitan ketika Anda mendapatkan kenaikan jabatan, memiliki lingkungan pertemanan baru, meningkatkan kemampuan, atau menjadi semakin percaya diri.

Alih-alih mengakui perasaannya secara terbuka, dia mungkin mencoba menghambat Anda.

Misalnya, ketika Anda ingin mengikuti kursus untuk meningkatkan kemampuan, dia terus mengatakan bahwa kegiatan tersebut tidak berguna. Ketika Anda mulai mendapatkan penghasilan lebih besar, dia mencari-cari alasan untuk membuat Anda merasa bersalah.

Tentu saja, satu kejadian belum cukup untuk menyimpulkan adanya iri hati.

Yang perlu diperhatikan adalah pola berulang ketika perkembangan positif Anda justru selalu menimbulkan reaksi negatif dari pasangan.

9. Dia Sering Mengubah Percakapan Menjadi Kompetisi

Dalam hubungan yang sehat, keberhasilan Anda tidak harus mengurangi nilai dirinya.

Namun, pasangan yang terlalu kompetitif mungkin merasa perlu selalu menjadi pihak yang lebih unggul.

Anda mengatakan berhasil menyelesaikan sebuah proyek?

Dia menceritakan proyeknya yang lebih besar.

Anda mendapatkan pujian?

Dia mengatakan bahwa dirinya mendapatkan pujian yang lebih banyak.

Anda mengalami masalah?

Dia mengatakan bahwa masalahnya jauh lebih berat.

Percakapan semacam ini lama-kelamaan dapat membuat hubungan terasa seperti pertandingan.

Padahal, pasangan seharusnya tidak perlu memenangkan setiap percakapan.

Kebahagiaan pasangan seharusnya tidak terasa seperti kekalahan pribadi.

Jika Anda mendapatkan sesuatu yang baik, seharusnya dia dapat ikut merasakan kebahagiaan tersebut tanpa harus segera membuktikan bahwa dirinya lebih hebat.

10. Anda Mulai Takut Membagikan Kabar Baik Kepadanya

Ini mungkin tanda yang paling penting.

Bukan apa yang dia katakan, tetapi bagaimana Anda mulai bertindak karena mengantisipasi reaksinya.

Anda mendapat kabar baik, tetapi berpikir:

“Lebih baik jangan cerita.”

Anda memiliki ide baru, tetapi berpikir:

“Nanti dia pasti menertawakan.”

Anda mendapatkan kesempatan besar, tetapi berpikir:

“Dia pasti bilang aku tidak mampu.”

Jika hal seperti ini mulai terjadi, coba berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri:

“Mengapa saya merasa harus menyembunyikan kebahagiaan saya dari pasangan?”

Hubungan yang sehat seharusnya menjadi tempat di mana Anda dapat berbagi kemenangan maupun kegagalan.

Tentu saja, tidak setiap pasangan harus memberikan respons sempurna setiap saat. Manusia bisa lelah, stres, cemburu, atau sedang mengalami masalah pribadi.

Tetapi jika Anda secara konsisten merasa harus mengecilkan diri agar pasangan tidak merasa terganggu, itu merupakan sinyal yang layak diperhatikan.

Mengapa Seseorang Bisa Bersikap Seperti “Hater” kepada Pasangannya?

Perilaku negatif tidak selalu muncul karena seseorang benar-benar membenci pasangannya.

Ada banyak kemungkinan di baliknya.

Seseorang mungkin memiliki rasa tidak aman terhadap dirinya sendiri. Keberhasilan pasangan dapat secara tidak sengaja mengingatkan dirinya tentang hal-hal yang belum dia capai.

Ada juga kemungkinan munculnya kecemburuan, kebutuhan untuk mengontrol, pengalaman hubungan masa lalu, pola komunikasi yang dipelajari sejak kecil, atau rendahnya kemampuan mengelola emosi.

Namun, memahami penyebab tidak sama dengan membenarkan perilaku tersebut.

Anda dapat memahami bahwa pasangan sedang merasa tidak aman tanpa harus menerima penghinaan.

Anda dapat memahami bahwa dia sedang cemburu tanpa harus membiarkan dirinya menghalangi perkembangan Anda.

Dan Anda dapat memahami latar belakang seseorang tanpa mengorbankan harga diri sendiri.

Bedakan “Hater” dengan Pasangan yang Memberikan Kritik Jujur

Ini bagian yang sangat penting.

Jangan sampai artikel seperti ini membuat setiap kritik dari pasangan dianggap sebagai kebencian.

Pasangan yang sehat terkadang justru mengatakan sesuatu yang tidak ingin kita dengar.

Misalnya:

“Menurutku keputusan itu terlalu berisiko.”

“Aku rasa kamu perlu mempertimbangkan kembali caramu mengatur uang.”

“Aku tidak setuju dengan cara kamu memperlakukan orang itu.”

Kritik seperti ini tidak otomatis merupakan tanda pasangan adalah “hater”.

Perhatikan niat, pola, konteks, dan cara penyampaiannya.

Pasangan yang peduli dapat mengatakan sesuatu yang sulit sambil tetap menghormati Anda.

Sementara perilaku merendahkan biasanya membuat seseorang merasa tidak berharga, malu, takut, atau terus-menerus harus membuktikan dirinya.

Apa yang Sebaiknya Dilakukan Jika Anda Menemukan Banyak Tanda Ini?

Jangan langsung mengambil keputusan hanya berdasarkan satu atau dua kejadian.

Cobalah melihat pola dalam jangka waktu tertentu.

Kemudian, komunikasikan secara spesifik.

Daripada berkata:

“Kamu selalu menjadi hater.”

lebih baik katakan:

“Ketika aku menceritakan pencapaianku dan kamu langsung mengatakan bahwa itu tidak seberapa, aku merasa tidak dihargai. Aku ingin kita bisa membicarakan keberhasilan dan kegagalan tanpa saling merendahkan.”

Perhatikan responsnya.

Apakah dia mendengarkan?

Apakah dia mencoba memahami?

Apakah dia mengakui kesalahannya?

Apakah dia berusaha memperbaiki perilaku?

Atau justru semuanya dikembalikan kepada Anda?

Respons terhadap batasan dan komunikasi sering kali memberikan informasi lebih banyak daripada satu pertengkaran.

Jangan Terlalu Cepat Memberi Label

Pada akhirnya, istilah “hater” hanyalah label populer, bukan istilah diagnosis dalam psikologi.

Satu komentar sinis tidak cukup untuk menyimpulkan karakter seseorang.

Begitu juga satu momen kecemburuan tidak otomatis berarti hubungan Anda toxic.

Yang lebih penting adalah melihat pola perilaku.

Apakah pasangan secara konsisten meremehkan Anda?

Apakah dia sulit bahagia ketika Anda sukses?

Apakah dia menjadikan kelemahan Anda sebagai senjata?

Apakah dia berusaha membuat Anda merasa tidak mampu?

Apakah Anda semakin sering menyembunyikan keberhasilan karena takut dengan reaksinya?

Jika jawabannya “ya” pada banyak pertanyaan tersebut, mungkin ada masalah yang lebih dalam daripada sekadar perbedaan kepribadian.

Kesimpulan

Pasangan seharusnya tidak menjadi seseorang yang selalu setuju dengan Anda. Hubungan yang sehat tetap membutuhkan kritik, batasan, perbedaan pendapat, dan kejujuran.

Namun, ada perbedaan besar antara membantu Anda berkembang dan membuat Anda merasa tidak layak berkembang.

Sepuluh tanda di atas dapat menjadi bahan refleksi:

Sulit bahagia atas keberhasilan Anda.
Kritiknya lebih sering menjatuhkan daripada membantu.
Sering membandingkan Anda dengan orang lain.
Terlihat lebih puas ketika Anda gagal.
Menjadikan kelemahan Anda sebagai bahan candaan.
Meremehkan impian dan tujuan Anda.
Menuntut dukungan tetapi tidak memberikannya.
Terlihat iri terhadap perkembangan Anda.
Mengubah hubungan menjadi kompetisi.
Membuat Anda takut membagikan kabar baik.

Jika beberapa tanda tersebut terjadi sesekali, belum tentu berarti pasangan Anda seorang “hater”. Tetapi jika semuanya membentuk pola yang konsisten, terutama ketika Anda mulai kehilangan kepercayaan diri atau merasa harus mengecilkan diri demi menjaga hubungan, situasinya patut diperhatikan secara serius.

Hubungan yang sehat bukan berarti dua orang selalu sempurna.

Hubungan yang sehat adalah ketika dua orang dapat bertumbuh tanpa harus saling menjatuhkan.

Dan pasangan yang benar-benar mendukung Anda tidak harus selalu menjadi orang yang paling keras bertepuk tangan. Namun, dia seharusnya tidak menjadi orang yang membuat Anda merasa bersalah hanya karena Anda sedang berusaha menjadi versi terbaik dari diri sendiri.
***

Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore