seseorang yang menolak diajak makan bersama. (Magnific)
JawaPos.com - Pernahkah Anda merasa tidak enak hati ketika seseorang mengajak Anda makan bersama?
Sebenarnya Anda sedang tidak ingin makan. Mungkin Anda sedang lelah, ingin menghemat uang, membutuhkan waktu sendiri, atau memang tidak terlalu nyaman dengan orang tersebut. Namun, ketika ajakan itu datang, Anda justru merasa serba salah.
Di kepala Anda muncul berbagai pikiran:
"Kalau saya menolak, nanti dia tersinggung."
"Jangan-jangan dia menganggap saya sombong."
"Masa cuma diajak makan saja saya menolak?"
Akhirnya, Anda menerima ajakan tersebut meskipun sebenarnya tidak ingin.
Sekilas, hal ini terlihat seperti persoalan sederhana. Namun, jika terus berulang, kebiasaan selalu mengiyakan orang lain dapat membuat seseorang mengabaikan kebutuhan dirinya sendiri. Dalam psikologi, kemampuan mengatakan "tidak" secara sehat berkaitan dengan assertiveness, yaitu kemampuan menyampaikan kebutuhan, batasan, dan keputusan dengan tetap menghargai diri sendiri maupun orang lain.
Menolak ajakan makan bukan berarti Anda tidak menghargai seseorang. Anda hanya sedang menentukan apa yang sesuai dengan kondisi Anda saat itu.
Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (21/8), jika Anda termasuk orang yang sering merasa tidak enak ketika diajak makan bersama, berikut tujuh cara yang bisa membantu.
1. Bedakan antara rasa tidak enak dan kewajiban
Hal pertama yang perlu Anda pahami adalah: merasa tidak enak bukan berarti Anda memiliki kewajiban untuk menerima.
Banyak orang sulit menolak karena menganggap perasaan tidak nyaman setelah berkata "tidak" sebagai tanda bahwa mereka melakukan sesuatu yang salah.
Padahal, rasa bersalah atau tidak enak hati bisa muncul hanya karena Anda tidak terbiasa menetapkan batasan.
Misalnya, seorang teman mengajak Anda makan siang.
Anda sebenarnya sedang ingin makan sendirian karena membutuhkan waktu untuk beristirahat. Namun, Anda merasa tidak enak jika menolak.
Di sinilah pentingnya membedakan dua hal:
"Saya tidak ingin mengecewakan dia" tidak sama dengan "Saya wajib menerima ajakannya."
Anda boleh menghargai seseorang tanpa selalu memenuhi keinginannya.
Dalam hubungan yang sehat, setiap orang seharusnya memiliki ruang untuk mengatakan ya maupun tidak.
Jadi, ketika merasa tidak enak, coba tanyakan kepada diri sendiri:
"Apakah saya memang ingin melakukan ini, atau saya hanya takut mengecewakan orang lain?"
Pertanyaan sederhana tersebut dapat membantu Anda memahami alasan sebenarnya di balik keputusan Anda.
2. Berhenti menganggap penolakan sebagai sesuatu yang kasar
Sebagian orang tumbuh dengan keyakinan bahwa menolak berarti tidak sopan.
Akibatnya, mereka berusaha selalu menyenangkan orang lain. Ketika ada ajakan, permintaan, atau undangan, mereka merasa harus memberikan jawaban positif.
Padahal, menolak sebuah ajakan tidak otomatis berarti menolak orangnya.
Anda bisa menolak kegiatan tertentu tanpa membenci atau merendahkan orang yang mengajak.
Contohnya:
"Terima kasih sudah mengajak. Tapi hari ini saya ingin istirahat dulu."
Kalimat tersebut tidak menyerang siapa pun. Anda hanya menjelaskan keputusan pribadi.
Masalahnya, orang yang terlalu terbiasa menyenangkan orang lain sering merasa harus memberikan alasan panjang agar penolakannya dianggap sah.
Padahal, Anda tidak selalu harus memberikan penjelasan mendetail.
Semakin panjang alasan yang diberikan, terkadang semakin banyak ruang bagi orang lain untuk membantah.
Misalnya:
"Saya sebenarnya mau, tapi tadi saya masih ada pekerjaan, kemudian mungkin nanti sore harus pergi, terus saya juga..."
Orang lain mungkin justru menjawab:
"Sebentar saja, kan bisa setelah pekerjaan selesai."
Akhirnya Anda kembali merasa terjebak.
Karena itu, jawaban yang sederhana dan jelas sering kali lebih efektif.
3. Gunakan jawaban yang singkat, jelas, dan sopan
Jika Anda memang tidak ingin ikut makan, cobalah menggunakan pola komunikasi yang sederhana.
Misalnya:
"Terima kasih sudah mengajak, tapi kali ini saya tidak ikut dulu."
Atau:
"Terima kasih, tapi saya sedang ingin makan sendiri hari ini."
Atau:
"Maaf, kali ini saya tidak bisa ikut. Semoga lain kali bisa."
Perhatikan bahwa kalimat tersebut tidak perlu disertai permintaan maaf berulang-ulang.
Anda bisa tetap bersikap hangat tanpa mengorbankan keputusan Anda.
Dalam komunikasi asertif, tujuan utamanya bukan membuat orang lain selalu senang dengan jawaban Anda. Tujuannya adalah menyampaikan keputusan secara jujur dan menghargai kedua belah pihak.
Ada perbedaan besar antara bersikap asertif dan bersikap agresif.
Agresif berarti mengabaikan perasaan orang lain.
Asertif berarti menyampaikan kebutuhan sendiri tanpa merendahkan orang lain.
Jadi, Anda tidak perlu berkata:
"Jangan ganggu saya. Saya tidak mau makan sama kamu."
Anda cukup mengatakan:
"Terima kasih sudah mengajak, tapi saya tidak ikut kali ini."
Sopan, jelas, dan selesai.
4. Jangan membuat keputusan hanya karena takut dianggap buruk
Salah satu alasan terbesar seseorang sulit menolak adalah ketakutan terhadap penilaian orang lain.
Anda mungkin berpikir:
"Kalau saya tidak ikut, dia akan mengira saya tidak suka dengannya."
"Nanti dia menganggap saya sombong."
"Bagaimana kalau dia marah?"
Pikiran semacam ini bisa membuat Anda terlalu fokus pada kemungkinan reaksi orang lain.
Padahal, Anda tidak bisa sepenuhnya mengendalikan bagaimana seseorang menafsirkan keputusan Anda.
Yang bisa Anda kendalikan adalah cara Anda menyampaikan keputusan tersebut.
Anda sudah bersikap sopan. Anda sudah menghargai ajakannya. Anda sudah menyampaikan keputusan dengan baik.
Setelah itu, reaksi orang lain merupakan sesuatu yang berada di luar kendali Anda.
Jika seseorang kecewa hanya karena Anda tidak bisa ikut makan sekali, itu tidak otomatis berarti Anda telah melakukan kesalahan.
Hubungan yang sehat seharusnya mampu memberikan ruang bagi masing-masing orang untuk memiliki kebutuhan dan batasan.
5. Berikan diri Anda waktu sebelum menjawab
Anda tidak harus selalu memberikan jawaban seketika.
Ini sangat berguna terutama jika Anda termasuk orang yang sulit mengatakan "tidak".
Ketika seseorang berkata:
"Nanti siang makan bareng, yuk."
Anda tidak harus langsung menjawab "iya" hanya karena merasa tidak enak.
Anda bisa berkata:
"Saya cek dulu, ya."
Atau:
"Nanti saya kabari lagi."
Memberikan jeda membuat Anda memiliki kesempatan untuk bertanya kepada diri sendiri:
Apakah saya benar-benar ingin ikut?
Apakah saya punya energi untuk bersosialisasi?
Apakah saya sedang memiliki kebutuhan lain?
Apakah saya menerima karena memang mau, atau karena takut mengecewakan?
Apakah keputusan ini akan membuat saya merasa lebih baik atau justru terbebani?
Kebiasaan memberikan jeda juga membantu mengurangi respons otomatis.
Sering kali masalahnya bukan karena kita tidak tahu cara menolak, tetapi karena kita terlalu cepat mengatakan "iya".
Setelah "iya" terucap, barulah muncul penyesalan.
Karena itu, tidak ada salahnya mengambil waktu beberapa menit sebelum membuat keputusan.
6. Latih diri untuk menoleransi rasa bersalah
Ini mungkin bagian yang paling sulit.
Ketika pertama kali belajar mengatakan "tidak", Anda mungkin tetap merasa bersalah.
Bahkan setelah memberikan jawaban yang sebenarnya masuk akal.
Namun, rasa tidak nyaman tersebut tidak selalu berarti Anda harus mengubah keputusan.
Bayangkan seseorang yang selama bertahun-tahun terbiasa selalu menyetujui keinginan orang lain. Ketika suatu hari ia mulai mengatakan "tidak", tentu akan terasa asing.
Seperti otot yang jarang digunakan, kemampuan menetapkan batas juga perlu dilatih.
Karena itu, jangan langsung berharap Anda akan merasa nyaman setiap kali menolak.
Anda bisa mengatakan kepada diri sendiri:
"Saya merasa tidak enak, tetapi saya tetap boleh memiliki batas."
"Dia mungkin kecewa, tetapi itu tidak berarti saya orang yang buruk."
"Saya boleh mengatakan tidak tanpa harus membenci orang tersebut."
Dengan latihan, Anda dapat belajar bahwa rasa bersalah tidak selalu harus diikuti oleh tindakan untuk menyenangkan orang lain.
Perasaan bisa muncul tanpa harus mengendalikan keputusan Anda.
7. Periksa pola hubungan Anda jika seseorang tidak menghargai penolakan
Ada perbedaan antara seseorang yang kecewa sebentar dan seseorang yang terus-menerus memaksa Anda.
Jika Anda berkata:
"Maaf, saya tidak ikut makan hari ini."
Kemudian dia menjawab:
"Tidak apa-apa, mungkin lain kali."
Itu merupakan respons yang relatif sehat.
Namun, jika seseorang terus memaksa:
"Ah, alasan saja."
"Masa tidak bisa?"
"Kalau kamu teman saya, harusnya mau."
"Cuma makan saja kok pelit."
maka persoalannya bukan lagi sekadar ajakan makan.
Yang perlu diperhatikan adalah apakah orang tersebut menghargai batasan Anda.
Dalam hubungan apa pun, batasan pribadi merupakan bagian penting dari interaksi yang sehat.
Anda tidak harus menerima tekanan hanya karena seseorang menggunakan rasa bersalah untuk membuat Anda berubah pikiran.
Anda boleh mengulangi jawaban dengan tenang:
"Saya mengerti kamu ingin saya ikut, tapi saya tetap tidak bisa hari ini."
Tidak perlu berdebat panjang.
Tidak perlu membuktikan bahwa alasan Anda cukup penting.
Dan tidak perlu terus-menerus meminta maaf.
Anda Tidak Harus Selalu Tersedia untuk Orang Lain
Pada akhirnya, menerima ajakan makan memang bukan persoalan besar.
Namun, kebiasaan kecil seperti selalu mengatakan "iya" ketika sebenarnya ingin mengatakan "tidak" dapat menjadi gambaran dari pola yang lebih besar dalam kehidupan seseorang.
Anda mungkin terbiasa mendahulukan kenyamanan orang lain.
Takut mengecewakan.
Takut dianggap egois.
Takut hubungan berubah hanya karena Anda menolak satu permintaan.
Padahal, hubungan yang sehat tidak seharusnya dibangun dari kewajiban untuk selalu mengatakan "iya".
Anda boleh memiliki waktu sendiri.
Anda boleh makan sendiri.
Anda boleh sedang tidak ingin bersosialisasi.
Anda boleh sedang lelah.
Dan Anda boleh menolak sebuah ajakan tanpa harus merasa menjadi orang jahat.
Belajar mengatakan "tidak" bukan berarti menjadi egois. Justru, kemampuan mengenali batas diri dapat membantu Anda membangun hubungan yang lebih jujur dan seimbang.
Jika seseorang benar-benar menghargai Anda, mereka seharusnya mampu memahami bahwa Anda tidak selalu tersedia untuk setiap ajakan.
Jadi, ketika lain kali seseorang mengajak Anda makan dan Anda sebenarnya tidak ingin ikut, jangan langsung menjawab karena rasa tidak enak.
Berhenti sejenak.
Dengarkan kebutuhan diri Anda.
Pertimbangkan apa yang benar-benar Anda inginkan.
Lalu sampaikan keputusan dengan tenang, singkat, dan sopan.
Karena mengatakan "tidak kali ini" tidak berarti Anda tidak peduli.
Kadang-kadang, itu hanya berarti Anda sedang belajar menghargai diri sendiri.***