Baca Juga: Transaksi Digital Makin Ramai, Generasi Muda Mulai Pintar Atur Keuangan
1. Generasi Baby BoomerOrang-orang yang lahir antara tahun 1946 – 1964 memandang keberhasilan pada apa pun yang menuntut perjuangan.
Semakin berat penderitaan yang dilalui, maka semakin besar pula imbalannya.
Jadilah generasi Baby Boomer terkenal dengan kesediaannya untuk mencurahkan banyak waktu dan tenaga serta tidak berharap segalanya datang dengan mudah.
Kerja keras menjadi salah satu ciri khas mereka.
Meski tidak menikmati pekerjaan atau situasi, mereka tetap menjalaninya.
Ada keyakinan yang kuat dalam diri, jika terus bersabar, pada akhirnya segalanya akan berjalan sebagaimana mestinya, meski realitanya tidak selalu demikian.
Pola pikir ini yang membuat mereka sulit memahami keluhan generasi yang lebih muda, terutama terkait kenyamanan atau kepuasan instan.
Jika harus menyebutkan harus menunggu beberapa hari untuk mendapatkan sesuatu, kemungkinan besar mereka akan tertawa atau memutar bola mata.
Dibandingkan dengan pengalaman masa lalu mereka, situasi semacam itu tidak dianggap sebagai masalah.
2. Generasi X (Gen X)
Perjuangan hidup bagi Gen X identik dengan ketidakstabilan dan harus menghadapi berbagai persoalan tanpa bantuan pihak lain.
Kekhawatiran terbesar mereka adalah menjawab pertanyaan 'Apakah dirinya sanggup terus melangkah saat menyadari tidak ada seorang pun yang datang menolong?'.
Beban mental dan fisik karena memikul tanggung jawab berat seorang diri terasa jauh lebih berat dibanding menghadapi tekanan hidup sehari-hari.
Misalnya saja mengurus anak sekaligus merawat orang tua yang kian menua serta menanggung tekanan finansial dalam diam adalah gambaran nyata dari definisi perjuangan hidup untuk mereka.
Akibatnya, orang-orang yang lahir tahun 1965 – 1980 sulit memahami tantangan yang sifatnya lebih ke arah mental atau emosional.
Mereka cenderung tidak menganggap ketidaknyamanan sesaat sebagai kesulitan besar.
Menurut mereka, hidup itu tentang bagaimana bertahan menghadapi ketidakpastian jangka panjang dan mencari cara supaya segala sesuatunya tetap berjalan.
3. Generasi Milenial
Generasi Y atau Milenial memandang perjuangan hidup sebagai upaya membangun masa depan di dunia yang terus berubah.
Alhasil, mereka tumbuh dengan pemahaman bahwa kuliah dan mendapatkan pekerjaan yang layak akan menjamin masa depannya.
Tapi, sayangnya, saat beranjak dewasa realita sering kali bicara berbeda.
Hutang, pinjaman, harga perumahan yang tidak masuk akal, atau pasar kerja yang sulit diprediksi membuat pencapaian hidup terasa semakin jauh dari jangkauan.
Ini adalah tantangan yang nyata bagi Generasi Milenial.
Meski mereka yang lahir tahun 1981 – 1996 juga bekerja sama kerasnya dengan generasi-generasi sebelumnya, namun hasil yang mereka peroleh tidak selalu sebanding.
4. Generasi Z (Gen Z)Perjuangan hidup bagi Gen Z adalah ketika mereka merasa seolah-olah tidak pernah bisa mengimbangi keadaan.
Mereka menyaksikan berbagai peristiwa dunia berskala besar dan perubahan pesat yang terjadi di sekeliling mereka.
Ini sangat memengaruhi cara pandang orang-orang yang lahir tahun 1997 - 2012 tentang masa depan.
Mereka tidak bisa berasumsi bahwa segala sesuatu berjalan lancar dengan sendirinya.
Jadi, banyak dari mereka mempertanyakan apakah definisi kesuksesan yang lama masih relevan?.
Bagi generasi ini, meningkatnya biaya hidup serta perasaan terus-menerus terhubung, namun tidak pernah benar-benar bisa mengejar ketertinggalan adalah kesulitan hidup.
Mereka pun memandang kesehatan mental dan kesejahteraan emosional sebagai bagian dari tantangan hidup.
Saat menghadapi kesulitan, Gen Z tidak sekadar memaksakan diri untuk terus melangkah.
Tapi, mereka mengakui jika ada sesuatu yang tidak berjalan dengan baik dan berupaya untuk mengubahnya.***