
seseorang yang dianggap perempuan berkelas (Magnific/Anna Tolipova)
JawaPos.com - Banyak orang mengira bahwa menjadi perempuan berkelas hanya soal penampilan yang elegan, pakaian mahal, atau kemampuan mengikuti tren terbaru. Padahal, menurut psikologi, kesan "berkelas" lebih banyak dibentuk oleh sikap, kebiasaan, dan cara seseorang memperlakukan dirinya sendiri maupun orang lain.
Perempuan berkelas bukanlah mereka yang berusaha terlihat sempurna setiap saat. Sebaliknya, mereka memancarkan rasa percaya diri yang tenang, kecerdasan emosional yang matang, dan kemampuan menjaga martabat dalam berbagai situasi.
Dilansir dari Expert Editor, ada beberapa kebiasaan yang tanpa disadari justru dapat mengurangi citra positif seseorang. Jika Anda ingin dikenal sebagai perempuan yang elegan, berwibawa, dan dihormati, mungkin sudah saatnya meninggalkan kebiasaan-kebiasaan berikut.
1. Terlalu Sering Mencari Validasi dari Orang Lain
Psikologi menunjukkan bahwa individu yang terus-menerus membutuhkan pengakuan eksternal cenderung memiliki tingkat kepercayaan diri yang lebih rapuh.
Perempuan berkelas tidak menggantungkan harga dirinya pada pujian, jumlah pengikut di media sosial, atau persetujuan dari lingkungan sekitar. Mereka memahami bahwa nilai diri berasal dari dalam, bukan dari pendapat orang lain.
Tentu saja, setiap orang senang dihargai. Namun ketika kebahagiaan sepenuhnya bergantung pada validasi eksternal, seseorang akan mudah kecewa dan kehilangan arah.
Belajarlah menghargai diri sendiri tanpa harus selalu menunggu pengakuan dari orang lain.
2. Gemar Bergosip dan Membicarakan Keburukan Orang
Tidak ada yang lebih cepat merusak kesan elegan daripada kebiasaan membicarakan orang lain di belakang mereka.
Menurut psikologi sosial, gosip negatif dapat menurunkan tingkat kepercayaan dalam hubungan interpersonal. Orang yang sering bergosip sering kali dianggap tidak dapat dipercaya karena orang lain akan berpikir bahwa mereka juga bisa menjadi bahan pembicaraan berikutnya.
Perempuan berkelas memilih menggunakan waktunya untuk percakapan yang lebih bermakna. Mereka fokus pada ide, pengalaman, dan solusi, bukan pada kehidupan pribadi orang lain.
Sikap ini tidak hanya meningkatkan kualitas hubungan, tetapi juga membuat orang lain lebih menghormati keberadaan mereka.
3. Terlalu Reaktif terhadap Kritik
Kritik memang tidak selalu menyenangkan. Namun cara seseorang merespons kritik sering kali lebih penting daripada kritik itu sendiri.

Sah! Nathalie Holscher Resmi Dinikahi Aripat, Maskawinnya Berupa Uang Rp 2.272.026
Eks Bek Persib dan Persija Erik Setiawan Jadi Perbincangan Setelah Tuduhan Mantan Istrinya Viral
Menurut Psikologi, Orang yang Tidak Pernah Mengunggah Foto Dirinya di Media Sosial Kerap Kali Memiliki 8 Sifat Mengejutkan Ini
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Mentan Amran Terbang ke Jatim Pukul 06.00 WIB, Borong Inovasi ITS: Benih Jagung, Traktor Amfibi, hingga Alat Panjat Kelapa
Roberto Carlos Ungkap Tiga Pemain Terbaik Sepanjang Masa, Lionel Messi dan Pele Tak Masuk!
2 Alasan Vicky Prasetyo Belum Menjenguk Fangfang yang Sudah Melahirkan Buah Hatinya
Komentar Pedas Zlatan Ibrahimovic di Piala Dunia 2026 Bikin Heboh, Ini Deretan Frasa Ikoniknya
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Mediasi Ruben Onsu dan Sarwendah Digelar Tertutup, Ini yang Terjadi di Dalam Ruangan
