
seseorang yang ingin sukses dalam hidup tetapi sering merasa lelah (Magnific/user25451090)
JawaPos.com - Kesuksesan sering dikaitkan dengan kerja keras, disiplin, dan ketekunan. Namun, ada satu faktor penting yang sering diabaikan: energi. Banyak orang memiliki tujuan besar, keterampilan yang memadai, dan motivasi yang kuat, tetapi tetap kesulitan mencapai potensi terbaik mereka karena merasa lelah hampir setiap hari.
Kelelahan tidak selalu disebabkan oleh kurang tidur atau terlalu banyak pekerjaan. Dalam banyak kasus, sumber utama kelelahan berasal dari kebiasaan sehari-hari yang secara perlahan menguras energi mental, emosional, dan fisik. Psikologi modern menunjukkan bahwa beberapa pola perilaku tertentu dapat membuat seseorang merasa terus-menerus kehabisan tenaga, bahkan ketika mereka tidak melakukan aktivitas yang terlalu berat.
Dilansir dari Expert Editor, jika Anda ingin mencapai kesuksesan yang lebih besar tanpa terus-menerus merasa kelelahan, mungkin sudah waktunya untuk meninggalkan sembilan kebiasaan berikut.
1. Berusaha Menyenangkan Semua Orang
Keinginan untuk disukai adalah hal yang wajar. Sebagai makhluk sosial, manusia memiliki kebutuhan untuk diterima oleh lingkungan. Namun, ketika kebutuhan ini berubah menjadi kebiasaan untuk selalu menyenangkan orang lain, energi Anda akan terkuras dengan cepat.
Orang yang terus-menerus mengatakan "ya" meskipun sebenarnya ingin mengatakan "tidak" sering mengalami kelelahan emosional. Mereka menghabiskan banyak waktu memikirkan pendapat orang lain, takut mengecewakan seseorang, dan mengorbankan kebutuhan pribadi demi menjaga hubungan.
Psikolog menyebut kondisi ini sebagai people-pleasing behavior. Dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut dapat meningkatkan stres, menurunkan harga diri, dan menyebabkan kelelahan mental yang berkepanjangan.
Belajarlah menetapkan batasan yang sehat. Tidak semua permintaan harus dipenuhi, dan tidak semua orang harus merasa puas dengan keputusan Anda.
2. Terlalu Sering Membandingkan Diri dengan Orang Lain
Media sosial membuat perbandingan sosial menjadi lebih mudah daripada sebelumnya. Setiap hari kita melihat orang lain mendapatkan promosi, membeli rumah baru, berlibur ke luar negeri, atau mencapai berbagai pencapaian yang tampak luar biasa.
Masalahnya, kita sering membandingkan kehidupan nyata kita dengan sorotan terbaik kehidupan orang lain.
Menurut psikologi, perbandingan sosial yang berlebihan dapat memicu perasaan tidak puas, iri hati, dan rendah diri. Emosi-emosi tersebut membutuhkan energi mental yang besar untuk diproses.
Alih-alih fokus pada kemajuan diri sendiri, seseorang menjadi terjebak dalam perlombaan yang tidak ada akhirnya.
Kesuksesan yang berkelanjutan lahir dari pertumbuhan pribadi, bukan dari upaya mengalahkan semua orang di sekitar Anda.
3. Mengabaikan Kebutuhan Istirahat
Banyak orang menganggap istirahat sebagai kemewahan, bukan kebutuhan. Mereka bangga bekerja tanpa henti, tidur lebih sedikit, dan terus produktif sepanjang waktu.
Padahal, psikologi dan ilmu saraf menunjukkan bahwa otak membutuhkan waktu pemulihan untuk berfungsi secara optimal. Ketika seseorang terus memaksa dirinya bekerja tanpa jeda, kemampuan berpikir, kreativitas, dan pengambilan keputusan akan menurun.
Istirahat bukan tanda kemalasan. Istirahat adalah bagian penting dari produktivitas.
Orang-orang yang sukses dalam jangka panjang biasanya memahami kapan harus bekerja keras dan kapan harus mengisi ulang energi mereka.
4. Terjebak dalam Perfeksionisme
Perfeksionisme sering terlihat seperti sifat positif. Namun, di balik standar yang tinggi, sering tersembunyi ketakutan terhadap kesalahan dan kritik.
Perfeksionis cenderung menghabiskan waktu berlebihan untuk detail kecil, menunda penyelesaian tugas karena merasa hasilnya belum cukup baik, dan terus mengkritik diri sendiri.
Akibatnya, mereka mengalami kelelahan mental yang signifikan.
Psikologi menunjukkan bahwa mengejar kesempurnaan secara terus-menerus dapat meningkatkan kecemasan dan mengurangi kepuasan hidup.
Daripada berusaha menjadi sempurna, lebih baik fokus pada kemajuan yang konsisten. Kemajuan kecil yang dilakukan setiap hari jauh lebih berharga daripada kesempurnaan yang tidak pernah tercapai.
5. Terlalu Banyak Mengkhawatirkan Hal yang Tidak Bisa Dikendalikan
Banyak energi mental terbuang untuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang bahkan belum tentu terjadi.
Kita khawatir tentang masa depan, pendapat orang lain, kondisi ekonomi, atau berbagai hal yang berada di luar kendali kita.
Menurut psikologi kognitif, kebiasaan ini dapat menciptakan lingkaran kecemasan yang menguras energi emosional.
Orang yang sukses cenderung memusatkan perhatian pada apa yang bisa mereka lakukan hari ini, bukan pada semua hal yang tidak dapat mereka ubah.
Ketika Anda belajar membedakan antara hal yang bisa dan tidak bisa dikendalikan, beban mental akan terasa jauh lebih ringan.
6. Mengabaikan Kesehatan Fisik
Tubuh dan pikiran tidak bekerja secara terpisah. Ketika kesehatan fisik menurun, energi mental juga ikut terdampak.
Kurang bergerak, pola makan yang buruk, dehidrasi, dan kurang tidur dapat menyebabkan penurunan fokus, suasana hati yang buruk, serta produktivitas yang rendah.
Psikologi kesehatan menunjukkan bahwa aktivitas fisik secara rutin dapat meningkatkan suasana hati, mengurangi stres, dan meningkatkan fungsi kognitif.
Kesuksesan bukan hanya soal apa yang Anda lakukan dengan pikiran Anda, tetapi juga bagaimana Anda merawat tubuh yang mendukung semua aktivitas tersebut.
7. Terus-Menerus Memikirkan Kesalahan Masa Lalu
Setiap orang pernah membuat kesalahan. Namun, tidak semua orang mampu melepaskannya.
Sebagian orang terus mengulang kejadian lama dalam pikirannya, mempertanyakan keputusan yang telah dibuat, dan menyalahkan diri sendiri atas hal-hal yang tidak lagi dapat diubah.
Fenomena ini dikenal sebagai rumination atau perenungan berlebihan.
Psikologi menemukan bahwa kebiasaan tersebut berkaitan erat dengan stres, kecemasan, dan kelelahan emosional.
Masa lalu memang dapat menjadi sumber pelajaran, tetapi tidak seharusnya menjadi tempat tinggal permanen bagi pikiran Anda.
Belajarlah mengambil hikmah dari pengalaman, lalu arahkan fokus pada langkah berikutnya.
8. Multitasking Berlebihan
Banyak orang percaya bahwa mengerjakan banyak hal sekaligus adalah tanda produktivitas tinggi. Namun, penelitian psikologi menunjukkan bahwa otak sebenarnya tidak dirancang untuk fokus penuh pada beberapa tugas kompleks secara bersamaan.
Ketika Anda terus berpindah dari satu tugas ke tugas lain, otak harus mengeluarkan energi tambahan untuk menyesuaikan fokus.
Akibatnya, pekerjaan menjadi lebih lambat, kualitas menurun, dan tingkat kelelahan meningkat.
Fokus pada satu tugas pada satu waktu sering kali menghasilkan pekerjaan yang lebih baik dengan energi yang lebih sedikit.
Produktivitas sejati bukan tentang melakukan banyak hal sekaligus, melainkan menyelesaikan hal yang penting dengan efektif.
9. Mengabaikan Hubungan yang Bermakna
Kesuksesan sering dipandang sebagai pencapaian pribadi. Namun, psikologi menunjukkan bahwa kualitas hubungan sosial memiliki pengaruh besar terhadap kebahagiaan dan ketahanan mental seseorang.
Orang yang terlalu fokus pada pekerjaan hingga mengabaikan keluarga, sahabat, atau hubungan yang bermakna sering mengalami kelelahan emosional yang lebih tinggi.
Dukungan sosial berfungsi sebagai sumber energi psikologis yang membantu seseorang menghadapi tekanan hidup.
Meluangkan waktu untuk berbicara dengan orang yang Anda percayai, tertawa bersama teman, atau menghabiskan waktu bersama keluarga bukanlah pemborosan waktu. Justru itu adalah investasi penting untuk kesehatan mental dan kesuksesan jangka panjang.
Penutup
Banyak orang berpikir bahwa untuk sukses mereka harus bekerja lebih keras, lebih lama, dan lebih cepat. Namun, sering kali masalah sebenarnya bukan kurangnya usaha, melainkan kebiasaan-kebiasaan yang diam-diam menguras energi setiap hari.
Mengucapkan selamat tinggal pada kebiasaan seperti berusaha menyenangkan semua orang, perfeksionisme, multitasking berlebihan, dan kecemasan terhadap hal-hal di luar kendali dapat memberikan perubahan besar dalam hidup Anda.
Kesuksesan bukan hanya tentang seberapa banyak yang Anda capai, tetapi juga tentang bagaimana Anda menjaga energi, kesehatan, dan keseimbangan hidup selama perjalanan tersebut.

Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Pesan Perpisahan Penuh Misteri Milos Raickovic Bersama Persebaya Surabaya, Bonek Penasaran hingga Menyesali
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
Bocor! 3 Alasan Krusial Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Nomor Dua Jadi Kunci Utama
Ada Pemain Bali United yang Dirumorkan Gabung Persebaya Surabaya Musim Depan, Bonek Sebutkan 3 Nama Termasuk Irfan Jaya
Kunker Luar Negeri Presiden Dikritik, Teddy Singgung Dino Patti Djalal yang hanya 3 Bulan jadi Wamenlu
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Wariskan 39 Gol yang Sulit Dilupakan
Harga BBM Pertamina Nonsubsidi Terbaru Per 1 Juni 2026, Dex Series Turun, Pertamax Turbo Naik
Viral Penonton Konser F4 di Jakarta Kena Campak Sebelumnya, Kemenkes Lakukan Pengecekan
