Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 26 November 2025 | 15.29 WIB

Berani Memulai, Berani Berhenti: Strategi Menghadapi Sunk Cost Fallacy Secara Sehat

Ilustrasi Sunk Cost Fallacy. (Freepik) - Image

Ilustrasi Sunk Cost Fallacy. (Freepik)

4. Buat Batasan Sebelum Memulai

Sebelum kamu berinvestasi (waktu, tenaga, uang), tentukan batasan yang jelas. Misalnya, “Jika pengeluaran sudah melebihi X atau manfaatnya belum jelas, saya akan berhenti”. Strategi ini membuat keputusan “putus” lebih mudah dan terencana.

Dampak Sunk Cost Fallacy dalam Kehidupan

Ketika kita terus berpegang pada keputusan karena sudah berinvestasi banyak, kita bisa melewatkan peluang lain yang lebih menguntungkan itu disebut opportunity cost. Halodoc menyebut bahwa mempertahankan sesuatu hanya karena biaya hangus bisa menghambat fleksibilitas dan kemampuan adaptasi kita.

Lebih jauh, efek ini juga bisa menimbulkan stres, kecemasan, dan rasa bersalah karena terus mempertahankan sesuatu yang tidak sehat atau tidak produktif. Perasaan ini bisa mengganggu kesejahteraan emosional jika tidak ditangani dengan baik.

Dalam konteks bisnis, kebiasaan ini dapat membuat perusahaan terus menyuntik dana ke proyek yang gagal dan melewatkan peluang investasi lebih menjanjikan. Sementara secara pribadi, ini bisa muncul dalam hubungan, karier, atau komitmen lain yang seharusnya sudah dievaluasi ulang.

Mengenali sunk cost fallacy dalam diri kita adalah langkah awal yang sangat berharga karena dari sana kita bisa mulai mereset cara berpikir dan membuat keputusan yang lebih sehat. Dengan memahami sumber-sumber bias seperti loss aversion, disonansi kognitif, dan keterikatan ego, kita bisa lebih siap untuk berhenti ketika suatu pilihan tak lagi menguntungkan.

Menerapkan strategi seperti menilai ulang keputusan bersama orang lain, fokus pada masa depan, dan menetapkan batas investasi sejak awal bisa membantu kita melepaskan diri dari “jebakan biaya terlanjur” dan memilih jalan yang lebih rasional.

Yang tak kalah penting yaitu memberi ruang pada diri sendiri untuk belajar dari kesalahan tanpa terus menyesali masa lalu. Dengan begitu, kita membangun kebebasan psikologis untuk membuat keputusan terbaik ke depan bukan karena kita “sudah terlanjur”, tetapi karena kita memilih dengan bijak. (*)

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore