Ilustrasi ketika muncul jerawat batu di wajah (Dok. Freepik)
JawaPos.com - Masalah kulit wajah menjadi salah satu kekhawatiran utama bagi banyak orang, terutama remaja dan dewasa muda. Berbagai jenis jerawat dapat muncul di wajah, mulai dari komedo hitam, komedo putih, hingga jenis yang lebih parah seperti jerawat meradang. Kondisi kulit yang bermasalah ini tidak hanya mempengaruhi penampilan fisik, tetapi juga dapat berdampak pada kepercayaan diri seseorang.
Jerawat batu atau yang dalam istilah medis dikenal sebagai nodul acne merupakan salah satu bentuk jerawat yang paling parah dan sulit diobati. Jenis jerawat ini terbentuk jauh di bawah permukaan kulit dan memiliki karakteristik berupa benjolan keras yang terasa nyeri saat disentuh.
Berbeda dengan jerawat biasa yang muncul di permukaan kulit, jerawat batu terbentuk ketika pori-pori tersumbat sangat dalam sehingga menciptakan infeksi dan peradangan yang hebat. Bahkan ukurannya bisa lebih besar dari 5 milimeter dan dapat bertahan selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.
Adapun perbedaan utama antara jerawat batu dengan jerawat biasa terletak pada lokasi, ukuran, dan tingkat keparahannya. Jerawat biasa umumnya muncul di permukaan kulit dan mudah terlihat mata putih atau hitamnya, sedangkan jerawat batu terbentuk di lapisan kulit yang lebih dalam tanpa menunjukkan tanda-tanda nanah di permukaannya.
Gejala yang paling menonjol dari jerawat batu adalah rasa nyeri yang signifikan, bahkan tanpa disentuh sekalipun. Kulit di sekitar area jerawat batu juga akan tampak kemerahan dan bengkak, serta terasa hangat saat diraba karena adanya proses peradangan yang intens di bawah permukaan kulit.
Munculnya jerawat batu sebenarnya dapat disebabkan oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. Dilansir dari Cleveland Clinic, terdapat beberapa penyebab utama yang dapat memicu terbentuknya jerawat batu, yang perlu dipahami untuk pencegahan dan pengobatan yang lebih efektif. Faktor-faktor ini mencakup kondisi fisik, genetik, hormonal, hingga gaya hidup seseorang.
Kulit yang sering berkeringat memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami jerawat batu, terutama jika seseorang mengenakan pakaian yang memerangkap keringat di permukaan kulit. Kondisi ini menciptakan lingkungan lembap yang ideal bagi bakteri untuk berkembang biak dan menyumbat pori-pori kulit. Orang dengan hiperhidrosis atau kondisi keringat berlebihan memiliki peluang yang lebih besar untuk mengembangkan jerawat batu karena produksi keringat yang tidak normal.
Riwayat keluarga dengan jerawat batu sangat mempengaruhi kemungkinan seseorang mengalami kondisi yang sama. Gen yang diturunkan dari orang tua dapat mempengaruhi struktur kulit, produksi minyak, dan respons peradangan tubuh. Jika salah satu atau kedua orang tua memiliki riwayat jerawat batu, maka keturunannya memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami masalah kulit serupa.
Remaja yang sedang mengalami masa pubertas sangat rentan terhadap jerawat batu karena perubahan kadar hormon yang drastis. Peningkatan kadar androgen dapat menyebabkan minyak di kulit menjadi lebih kental sehingga mudah menyumbat pori-pori. Remaja laki-laki dan pria muda memiliki kadar hormon ini yang lebih tinggi, sementara wanita dapat mengalami jerawat batu saat hamil, menstruasi, atau menopause karena fluktuasi hormon.
Beberapa jenis obat, terutama kortikosteroid, dapat memperburuk kondisi jerawat batu yang sudah ada. Obat-obatan ini dapat mengubah keseimbangan hormonal atau mempengaruhi sistem kekebalan tubuh sehingga meningkatkan risiko peradangan pada kulit. Konsultasi dengan dokter diperlukan jika jerawat batu muncul setelah mengonsumsi obat tertentu untuk mengevaluasi kemungkinan efek samping.
Penggunaan lotion, krim, atau make-up yang tidak sesuai dengan jenis kulit dapat menyumbat pori-pori dan memicu terbentuknya jerawat batu. Produk yang terlalu berminyak atau mengandung bahan komedogenik dapat memperburuk kondisi kulit yang sudah bermasalah. Pemilihan produk perawatan kulit yang tepat dan sesuai dengan jenis kulit menjadi sangat penting untuk mencegah timbulnya jerawat batu.
Tingkat stres dan kecemasan yang tinggi dapat memicu tubuh untuk memproduksi lebih banyak sebum karena peningkatan kadar kortisol. Kortisol dikenal sebagai hormon stres yang dapat mempengaruhi berbagai fungsi tubuh, termasuk produksi minyak di kulit. Ketika kadar kortisol meningkat, kulit cenderung memproduksi minyak berlebihan yang dapat menyumbat pori-pori dan memicu peradangan.
Pengobatan Jerawat Batu
Selain itu, pengobatan jerawat batu memerlukan pendekatan yang lebih intensif dibandingkan dengan jerawat biasa karena sifatnya yang dalam dan persisten.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
