Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 13 September 2025 | 00.47 WIB

8 Perilaku Halus Orang Dewasa yang Pernah Mengalami Penelantaran Masa Kecil

Ilustrasi orang dewasa yang duduk sendiri di sebuah ruangan dengan wajah sedih, mencerminkan isolasi dari trauma masa lalu. (Freepik) - Image

Ilustrasi orang dewasa yang duduk sendiri di sebuah ruangan dengan wajah sedih, mencerminkan isolasi dari trauma masa lalu. (Freepik)

JawaPos.com - Penelantaran selama masa kanak-kanak bisa meninggalkan luka yang dalam dan abadi pada seseorang. Pengalaman buruk ini seringkali tidak hilang begitu saja. Namun, hal itu akan memengaruhi cara seseorang berinteraksi dengan dunia saat dewasa.

Melansir dari Geediting.com Jumat (12/9), trauma masa lalu itu sering termanifestasi sebagai perilaku halus di masa dewasa. Mengenali tanda-tanda ini bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menumbuhkan pemahaman serta empati. Mari kita pelajari delapan perilaku yang dimaksud. 

1. Sering Berlebihan dalam Hubungan

Orang-orang ini cenderung terlalu berlebihan dalam suatu hubungan, memberikan perhatian serta kasih sayang yang berlebihan. Mereka juga mungkin bersikap terlalu murah hati atau selalu mengalah kepada pasangannya. Ini adalah cara mereka untuk mencegah orang lain meninggalkan mereka.

Mereka juga terus-menerus mencari pengakuan dan kepastian dari pasangan atau teman. Ini adalah strategi yang mereka pelajari untuk mengisi kekosongan dari trauma masa lalu.

2. Sulit Membangun Rasa Percaya

Individu-individu ini sering merasa sulit sekali untuk memercayai orang lain. Mereka selalu waspada, khawatir akan dikhianati atau ditinggalkan kembali. Trauma penelantaran masa kecil menciptakan ketakutan akan kerentanan.

Mereka selalu membangun tembok di sekitar hatinya untuk melindungi diri dari kekecewaan. Hal ini dapat menjadi hambatan besar dalam membentuk hubungan yang sehat.

3. Sangat Takut Komitmen

Satu di antara tanda yang jelas adalah ketakutan yang mendalam terhadap komitmen. Ini tidak hanya berlaku pada hubungan romantis, tetapi juga pertemanan dan karier. Mereka melihat komitmen sebagai risiko yang besar.

Perasaan ini berasal dari ketakutan akan ditinggalkan atau ditolak lagi. Mereka lebih suka menghindari komitmen sama sekali daripada mengambil risiko patah hati.

4. Hiper-independen

Menjadi mandiri adalah mekanisme bertahan hidup bagi mereka yang mengalami penelantaran masa kecil. Saat dewasa, hal ini menjadi perilaku hiper-independen yang terlihat jelas. Mereka menolak untuk meminta bantuan orang lain.

Mereka bahkan rela berusaha keras untuk membuktikan bahwa mereka bisa menangani semuanya sendirian. Hal ini membuat mereka menjadi pribadi yang sangat mandiri, tetapi sekaligus terisolasi.

5. Perasaan Tidak Berharga

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore