
Sepasang kekasih tampak saling diam namun berada dalam satu ruangan, mencerminkan dinamika emosi yang sering naik-turun dalam hubungan romantis. (Dok. Canva)
JawaPos.com – Dalam menjalani hubungan asmara, ada kalanya hati terasa berbunga-bunga, namun di hari berikutnya bisa saja muncul rasa jengkel atau kecewa tanpa alasan yang jelas. Fluktuasi ini ternyata bukan pertanda hubungan sedang bermasalah. Justru, menurut penelitian terbaru, perubahan perasaan seperti ini adalah hal yang normal dan bahkan bisa menjadi kunci hubungan yang lebih sehat.
Dikutip dari neurosciencenews.com, menurut laporan Johannes Gutenberg University Mainz yang dimuat dalam Journal of Personality and Social Psychology, para peneliti menemukan bahwa kepuasan dalam hubungan romantis bisa berubah dari waktu ke waktu, bahkan dalam satu hari yang sama. Studi ini melibatkan lebih dari 700 pasangan yang secara rutin melaporkan perasaan mereka terhadap hubungan yang dijalani.
Yang menarik, perubahan kepuasan ini tidak terjadi secara acak. Peneliti menemukan bahwa pasangan sering mengalami naik-turun emosi secara sinkron, alias selaras satu sama lain. Misalnya, ketika satu pihak merasa kurang bahagia dalam hubungan, besar kemungkinan pasangannya juga merasakan hal yang sama.
"Fluktuasi seperti ini sangat umum terjadi. Namun, bisa juga menjadi petunjuk adanya kebutuhan emosional yang belum terpenuhi," ujar Louisa Scheling, peneliti utama dari Institute of Psychology di JGU.
Artinya, perubahan suasana hati ini bisa dijadikan sinyal untuk saling memahami dan membuka ruang komunikasi yang lebih dalam antar pasangan.
Penelitian ini tidak hanya berhenti pada pola naik-turun perasaan. Para peneliti juga mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi dinamika tersebut. Hasilnya, tingkat kepuasan hubungan akan lebih stabil jika kedua belah pihak saling responsif terhadap kebutuhan emosional pasangannya.
Responsivitas ini bahkan dianggap sebagai kunci utama dalam menjaga hubungan tetap sehat, terlepas dari usia, lama hubungan, atau karakter pribadi masing-masing. Menariknya, ketidakstabilan emosi pada pihak pria juga tercatat turut memengaruhi dinamika perasaan dalam hubungan.
"Layaknya hubungan antara orang tua dan anak, jika kebutuhan terus-menerus terpenuhi, maka kepuasan dalam hubungan akan bertahan di tingkat yang tinggi," tambah Scheling.
Meski fluktuasi dalam hubungan terkadang memunculkan pikiran-pikiran negatif seperti keinginan untuk berpisah, peneliti menegaskan bahwa hal ini umumnya bersifat sementara. Dalam jangka panjang, perubahan perasaan ini tidak secara langsung memprediksi masa depan hubungan.
Yang penting, menurut Scheling, adalah bagaimana pasangan mampu menyadari perubahan perasaan ini dan menjadikannya bahan diskusi terbuka. Dengan begitu, hubungan justru bisa tumbuh lebih kuat.
Fluktuasi dalam kepuasan hubungan tidak selalu diartikan negatif. Justru, adanya hal tersebut dapat menjadi peluang untuk meningkatkan kualitas hubungan lewat komunikasi yang jujur dan empati yang lebih dalam. Namun tentu, kesadaran akan kebutuhan diri dan keberanian untuk mengungkapkannya tetap menjadi kunci utama. (*)

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
