
Prosedur peeling dan laser harus dilakukan dengan hati-hati dengan tenaga ahli. (Pexels.com)
JawaPos.com – Perawatan kulit seperti laser dan chemical peeling kini semakin populer, terutama bagi mereka yang menginginkan kulit cerah, bebas noda, dan tampak lebih muda.
Namun, di balik manfaat instan yang dijanjikan, prosedur ini juga menyimpan potensi komplikasi serius jika tidak dilakukan dengan tepat.
Menurut American Academy of Dermatology (AAD), prosedur laser dan chemical peeling harus dilakukan oleh tenaga profesional terlatih karena melibatkan pengelupasan atau penghancuran lapisan kulit. Jika salah teknik, dosis, atau pemilihan jenis kulit, efeknya bisa berbahaya.
“Perawatan kulit seperti laser dan chemical peeling dapat menyebabkan komplikasi serius jika tidak dilakukan dengan hati-hati, termasuk luka bakar dan parut,” jelas dr. Teuku Adifitrian, Sp.BP-RE, yang sering dipangil dr. Tompi dalam podcast @kasisolusi.
Tompi juga menjelaskan penting untuk mengikuti langkah-langkah yang tepat dan memantau reaksi kulit dengan seksama.
Dalam penelitian yang dipublikasikan di Journal of Dermatological Treatment tahun 2024, tercatat 17 persen pasien yang melakukan chemical peeling mengalami hiperpigmentasi pasca-prosedur, dan 9 persen lainnya mengalami luka atau jaringan parut (scar).
Risiko meningkat terutama pada individu dengan warna kulit lebih gelap (Fitzpatrick skin type IV-VI).
Sementara itu, prosedur laser seperti laser fractional CO2 atau laser Nd YAG berisiko menyebabkan infeksi, penggelapan kulit (post inflammatory hyperpigmentation), dan bahkan kerusakan pembuluh darah halus jika tidak dilakukan oleh ahli.
Selain itu, prosedur ini juga memerlukan waktu downtime dan protokol perawatan pasca tindakan yang ketat.
“Kedalaman dan energi yang digunakan dalam prosedur laser dapat menyebabkan bekas luka yang permanen jika tidak ditangani dengan benar. Luka bakar akibat perawatan yang terlalu dalam sering kali sulit untuk diperbaiki,” jelas dr.Tompi.
Kecanduan treatment instan juga menjadi fenomena yang kian marak, menginginkan kulit glowing instan salah satunya.
Banyak orang melakukan peeling dan laser terlalu sering, bahkan tanpa waktu pemulihan yang memadai. Ini bisa merusak skin barrier secara permanen.
Studi dari Dermatologic Clinics 2023 menyebutkan bahwa prosedur eksfoliatif (pengelupasan) yang dilakukan terlalu sering akan mengganggu keseimbangan mikrobioma kulit, menyebabkan iritasi kronis dan sensitivitas berlebih.
“Chemical peeling juga berisiko menimbulkan luka bakar kimia jika tidak dihentikan pada waktu yang tepat. Pemantauan perubahan kulit setelah aplikasi chemical peeling sangat penting untuk menghindari kerusakan lebih lanjut,” tambah dr.Tompi.
Perawatan seperti laser dan chemical peeling memang bisa memberikan hasil yang memuaskan, namun tidak bebas risiko.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
