
Ilustrasi: Tren wisata tidur 2025. (Dok. istock)
JawaPos.com - Di tengah gaya hidup modern yang serbacepat dan penuh tekanan, tidur nyenyak kini menjadi kebutuhan utama sekaligus kemewahan yang sulit didapatkan. Tidak heran, sleep tourism atau wisata tidur menjadi salah satu tren terbesar dalam industri pariwisata global pada tahun ini.
Sleep tourism merupakan jenis wisata yang menjadikan tidur berkualitas sebagai tujuan utama liburan. Bukan lagi soal eksplorasi kuliner atau destinasi Instagramable, tren ini mengajak wisatawan untuk benar-benar beristirahat dan memulihkan diri, baik secara fisik maupun mental.
Fenomena ini muncul sebagai respons atas meningkatnya tingkat stres, paparan layar digital yang terus-menerus, dan kesulitan tidur yang dialami masyarakat modern. Menurut data Global Wellness Institute yang dilansir pada Selasa (3/6), sleep tourism mulai berkembang sejak pandemi Covid-19, saat itu banyak orang mulai memprioritaskan kesehatan mental dan self-care.
Sleep tourism bukan sekadar tren sesaat. Global Wellness Institute mencatat industri wellness tourism yang mencakup sleep tourism mencapai nilai lebih dari USD 919 miliar atau sekitar Rp 14,99 Triliun pada 2023. Angka itu diprediksi akan tumbuh hampir 10 persen per tahun.
Bahkan, media internasional seperti Real Simple menyebut tren ini memberikan dampak besar pada industri perhotelan pada 2025. Banyak hotel kini berlomba-lomba menawarkan paket khusus yang mendukung kualitas tidur tamu, dari sisi fasilitas hingga program kesehatan holistik.
Berbagai hotel dan resort mewah di seluruh dunia kini berlomba-lomba menghadirkan fasilitas canggih yang mendukung pengalaman tidur para tamu.
Fasilitas tersebut mencakup kasur dan bantal premium yang ergonomis, sistem pengaturan suhu dan pencahayaan otomatis, teknologi smart bed berbasis AI, serta terapi suara alam dan aromaterapi. Tak sedikit pula hotel yang menyediakan layanan konsultasi dengan pakar tidur atau sleep concierge.
Harga paket sleep tourism sangat bervariasi, mulai dari sekitar USD 300 (sekitar Rp 4,7 juta) hingga USD 2.500 (sekitar Rp39 juta), tergantung jenis layanan dan lokasi. Hotel ternama seperti Hastens Sleep Spa Hotel di Portugal dan Four Seasons Resort Maui di Hawaii termasuk pelopor dalam menawarkan pengalaman tidur mewah.
Tren ini juga sering dipadukan dengan aktivitas relaksasi lainnya seperti yoga, meditasi, terapi pernapasan, hingga sleep coaching yang bertujuan membentuk pola tidur sehat dan berkelanjutan.
Di Indonesia, sleep tourism mulai mendapat perhatian lebih dari para pelaku industri pariwisata. Ubud di Bali menjadi salah satu destinasi unggulan berkat suasana alamnya yang tenang dan resort-resort yang menyediakan layanan spa, yoga, dan kamar tidur khusus untuk relaksasi maksimal.
Selain itu, Uluwatu juga menjadi pilihan favorit karena menyuguhkan pemandangan laut yang menenangkan. Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur menawarkan suasana pantai yang privat dan cocok sebagai tempat melarikan diri dari kesibukan kota.
Lombok dan Sumba tidak kalah menarik dengan kombinasi keindahan alam yang eksotis, fasilitas mewah, dan ketenangan yang mendukung tidur berkualitas. Yogyakarta, dengan atmosfer pedesaannya yang asri dan damai, juga mulai dilirik sebagai destinasi sleep tourism potensial di Indonesia.
Sleep tourism bukan hanya soal tidur lebih lama, tetapi juga tidur dengan kualitas lebih baik. Sejumlah studi menunjukkan bahwa tidur berkualitas dapat menurunkan tingkat stres, kecemasan, dan depresi.
Mengutip dari Laman Real Simple pada Selasa (3/6), tidur nyenyak selama liburan mampu memperbaiki pola tidur, meningkatkan energi harian, dan bahkan memperlambat proses penuaan. Survei dari Hilton juga mengungkapkan bahwa dua dari tiga warga Amerika mengaku tidur lebih nyenyak di hotel dibandingkan di rumah, dan hampir separuh wisatawan kini memilih liburan yang berfokus pada pemulihan diri.
Sleep tourism menjadi solusi yang relevan di era modern, ketika banyak orang merasa lelah secara fisik maupun mental. Alih-alih berlibur untuk aktivitas padat, wisata tidur menawarkan pengalaman yang benar-benar memulihkan tubuh dan pikiran.

16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Persebaya Surabaya Dikabarkan Rekrut 2 Striker dan 2 Bek Baru, Ada Punggawa Tim Nasional
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
Jadwal Shalat Idul Adha 2026 di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Kota Besar Lainnya
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Dulu Antreannya Mengular dan Jadi Buah Bibir Media Sosial, Kini Terlihat Lengang: Mengulik 5 Tempat Makan yang Sempat Viral Lalu Sepi Pengunjung
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
