Unggahan bernuansa sedih atau galau sering kali menarik perhatian dan respons dari pengguna lain. (Freepik)
JawaPos.com-Di era digital, media sosial menjadi platform utama bagi individu untuk mengekspresikan perasaan, termasuk kegalauan. Unggahan bernuansa sedih atau galau sering kali menarik perhatian dan respons dari pengguna lain.
Fenomena ini dapat dijelaskan melalui konsep empati virtual, di mana pengguna media sosial merasakan keterhubungan emosional dengan pengalaman yang dibagikan orang lain.
Empati adalah kemampuan seseorang untuk memahami dan merasakan perasaan orang lain. Dalam konteks media sosial, empati memungkinkan individu merespons secara emosional terhadap konten yang dibagikan, meskipun interaksi terjadi secara virtual.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), empati adalah kesadaran mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasikan dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang lain.
Ketika seseorang mengunggah konten galau, mereka sering kali mencari dukungan emosional atau validasi dari komunitas daring mereka.
Unggahan semacam ini dapat memicu respons empatik dari pengguna lain yang pernah mengalami situasi serupa atau yang memiliki kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi orang tersebut.
Hal ini sejalan dengan pendapat Les Giblin dalam bukunya The Art of Dealing with People, yang menyatakan bahwa setiap individu ingin merasa dirinya penting dan memiliki nilai.
Selain itu, media sosial memberikan kesempatan bagi individu untuk mengekspresikan perasaan yang mungkin sulit disampaikan dalam interaksi tatap muka.
Unggahan galau dapat menjadi sarana untuk melepaskan emosi dan mencari dukungan dari jaringan pertemanan daring.
Menurut artikel di halodoc.com yang dikutip oleh JawaPos.com pada Sabtu, 11 Januari 2025, empati memainkan peran penting dalam memberikan dukungan emosional kepada orang lain, yang dapat membantu membangun ikatan yang lebih kuat.
Namun, perlu diperhatikan bahwa tidak semua respons terhadap unggahan galau bersifat positif. Beberapa pengguna mungkin melihatnya sebagai bentuk sadfishing, yaitu tindakan mempublikasikan keadaan emosi untuk menarik perhatian atau simpati berlebihan.
Menurut KlikDokter.com, sadfishing adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kecenderungan pengguna media untuk mempublikasikan keadaan emosi, khususnya rasa sedih, untuk mendapatkan simpati dari orang lain.
Selain itu, interaksi di media sosial yang didominasi oleh konten galau dapat mempengaruhi suasana hati pengguna lain.
Paparan terus-menerus terhadap konten negatif atau sedih di media sosial dapat menyebabkan perasaan galau atau stres pada pengguna lain.

Daftar Pemain Timnas Argentina dan Aljazair di Grup J Piala Dunia 2026
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Daftar Pemain Inggris dan Kroasia di Grup L Piala Dunia 2026
7 Weton Tulang Wangi Darah Manis yang Disukai Mahluk Halus Menurut Primbon Jawa, Weton Anda Termasuk?
Daftar Pemain Spanyol dan Tanjung Verde di Piala Dunia 2026
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
5 Transportasi Surabaya-Malang Selain Motor yang Lebih Hemat, Tarif Mulai Rp 12 Ribuan
Surat Pernyataan Manajer Kopdes Merah Putih Bocor di Medsos, Undur Diri Kena Denda Rp 100 Juta?
Prediksi Skor Iran vs Selandia Baru di Piala Dunia 2026: Team Melli Diterpa Gejolak Geopolitik Tapi Punya Kans Menang
Prediksi Skor Arab Saudi vs Uruguay di Piala Dunia 2026: La Celeste Dijagokan Menang!
