Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 11 Januari 2025 | 16.13 WIB

Jika Seseorang Selalu Kritis, Mereka Mungkin Mencoba Menutupi 5 Masalah Ini, Salah Satunya Harga Diri Rendah

Ilustrasi orang yang punya tingkat kemampuan berpikir kritis yang rendah.

JawaPos.com - Mari kita hadapi itu, kita semua mengenal seseorang yang tampaknya selalu kritis. Masalahnya, kenegatifan yang terus-menerus ini mungkin lebih dari sekadar kekhasan kepribadian. Ini sebenarnya bisa menjadi mekanisme pertahanan.

Terkadang, orang menyembunyikan masalah mereka sendiri di balik tembok kritik untuk orang lain. Dengan menunjukkan kesalahan pada orang lain, mereka berharap dapat mengalihkan perhatian dari rasa tidak aman mereka sendiri.

Dalam artikel ini, kita akan mengeksplorasi lima masalah umum yang mungkin coba ditutupi oleh orang-orang yang terlalu kritis.  Dikutip dari geediting pada Sabtu (11/1), berikut lima hal yang sedang ditutupi orang yang selalu kritis.

Kita semua pernah mendengar pepatah, "menyakiti orang menyakiti orang". Dalam banyak kasus, seseorang yang terus-menerus mengkritik orang lain sering bergumul dengan harga diri yang rendah. 

Mereka mungkin merasa tidak mampu atau tidak aman dalam beberapa hal, dan mengkritik orang lain adalah cara untuk membuat diri mereka merasa lebih baik. Ini adalah mekanisme pertahanan.

Dengan menunjukkan kesalahan yang dirasakan pada orang lain, mereka berharap untuk mengalihkan perhatian dari kekurangan yang mereka rasakan sendiri. Intinya, kritik mereka merupakan cerminan dari ketidakamanan mereka sendiri. Mereka mungkin merasa bahwa dengan merendahkan orang lain, mereka dapat meninggikan diri dan menutupi perasaan tidak mampu mereka sendiri.

Namun, ini adalah mekanisme koping yang berbahaya yang tidak mengatasi akar masalah dan sering kali menyebabkan hubungan yang tegang dengan orang lain. Memahami hal ini dapat membantu kita berempati dengan individu-individu ini dan merespons secara konstruktif.

2) Takut akan kerentanan

Saya akan membagikan contoh pribadi untuk yang satu ini. Saya pernah punya seorang teman, sebut saja dia John, yang memiliki bakat luar biasa untuk memilah-milah sesuatu. Tidak masalah apakah itu film yang baru saja kami tonton atau ide baru yang membuat saya bersemangat, John sepertinya selalu memiliki sesuatu yang negatif untuk dikatakan. Seiring berjalannya waktu, saya mulai menyadari bahwa kritik John belum tentu tentang hal-hal yang dia kritik.

Sebaliknya, itu adalah perisai yang dia gunakan untuk menghindari keterbukaan tentang perasaan dan pengalamannya sendiri. Soalnya, menjadi rentan berarti membuka diri terhadap potensi kritik dan penolakan, dan itu bisa sangat menakutkan. Bagi John, bersikap kritis terus-menerus adalah cara untuk menjaga jarak dengan orang lain dan menghindari mengungkapkan kerentanannya sendiri. Intinya, kritik itu adalah topeng yang dia gunakan untuk melindungi dirinya dari rasa takut menjadi rentan dan berpotensi terluka. Hal ini sering terjadi pada kebiasaan mengkritik-kenegatifan mereka lebih banyak tentang ketakutan mereka sendiri daripada orang atau hal-hal yang mereka kritik.

3) Masalah kontrol

Individu yang sering kritis terhadap orang lain terkadang dapat bergulat dengan masalah kontrol. Mereka mungkin merasa bahwa dunia mereka kacau, tidak dapat diprediksi, atau di luar kendali mereka. Mengkritik orang lain menjadi cara bagi mereka untuk melakukan beberapa bentuk kontrol atas lingkungan mereka atau orang-orang di dalamnya. Faktanya, sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Personality and Social Psychology menemukan bahwa orang yang merasa kurang memiliki kendali dalam hidupnya lebih cenderung melihat pola yang tidak ada dan membuat penilaian yang lebih kritis.

Seolah-olah otak mencoba menciptakan kemiripan keteraturan di dunia yang kacau balau dengan melihat kekurangan dalam segala hal di sekitarnya. Kebutuhan akan kontrol ini dapat mendorong seseorang untuk terus-menerus mengkritik dalam upaya membentuk dunia mereka sesuai dengan standar atau harapan mereka sendiri. Meskipun hal ini memberi mereka rasa kontrol sementara, hal ini sering kali mengarah pada hubungan yang tegang dan pandangan negatif secara keseluruhan.

Editor: Kuswandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore