Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 5 Januari 2025 | 19.41 WIB

8 Kebiasaan Orang Kelas Menengah yang Diremehkan oleh Kalangan Atas, Menurut Psikologi

Ilustrasi belanja. (pexels.com)

JawaPos.com - Hierarki sosial sering kali menjadi cerminan perbedaan gaya hidup, pandangan, dan nilai-nilai. Dalam konteks ini, kebiasaan orang kelas menengah kerap menjadi sorotan, terutama oleh kalangan atas. 

Meski kebiasaan ini sering diremehkan, banyak yang didasarkan pada kebutuhan praktis dan strategi bertahan hidup. 

Dilansir dari laman Geediting.com pada Minggu (5/1), mari kita bahas beberapa kebiasaan tersebut dan bagaimana psikologi dapat membantu memahami perbedaan pandangan ini.

1. Terlalu Menekankan pada Penghematan

Bagi kebanyakan orang kelas menengah, menabung adalah prioritas utama. Ada fokus besar pada pembelian besar berikutnya atau menciptakan cadangan untuk masa sulit. Ini tentu saja keputusan yang bijaksana secara finansial. 

Namun, bagi orang kalangan atas yang lebih fokus pada investasi dan pengembangan kekayaan, kebiasaan ini sering kali dianggap kurang strategis. 

Mereka memandang bahwa menanam modal adalah cara untuk mengamankan masa depan, sementara tabungan saja dianggap terlalu pasif. 

Meski begitu, menabung adalah langkah dasar yang penting bagi banyak keluarga kelas menengah untuk tetap bertahan dan merasa aman.

2. Mengutamakan Kenyamanan daripada Kemewahan

Pilihlah kendaraan yang hemat bahan bakar, rumah yang cukup luas untuk keluarga, atau pakaian yang nyaman. Kebiasaan ini adalah ciri khas orang kelas menengah yang sering kali dipandang rendah oleh kalangan atas. 

Bagi mereka, barang mewah bukan hanya soal kualitas, tetapi juga status. Namun, bagi kelas menengah, kenyamanan dan kepraktisan adalah nilai utama. 

Psikologi menunjukkan bahwa ini adalah cara individu menyesuaikan pilihan dengan kebutuhan nyata, bukan hanya citra.

3. Mencari Validasi untuk Merasa Sukses

Orang kelas menengah sering mendefinisikan kesuksesan melalui pengakuan eksternal, seperti promosi kerja, rumah baru, atau keberhasilan anak-anak. Sebaliknya, orang kalangan atas cenderung mengukur kesuksesan berdasarkan kepuasan pribadi dan pencapaian internal. 

Menurut teori hierarki kebutuhan Maslow, perbedaan ini muncul dari fokus pada kebutuhan yang berbeda. Kelas menengah mungkin masih berjuang untuk stabilitas, sementara kelas atas lebih mencari aktualisasi diri.

4. Hidup Pas-pasan

Hidup pas-pasan adalah kenyataan yang dihadapi banyak orang kelas menengah. Dengan pendapatan yang terbatas, mereka sering kali harus membuat pilihan sulit untuk bertahan. 

Orang kalangan atas, yang memiliki akses lebih besar ke sumber daya finansial, mungkin sulit memahami perjuangan ini dan menganggapnya sebagai tanda kurangnya ambisi atau manajemen keuangan yang buruk. 

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore