Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 18 Desember 2024 | 01.33 WIB

Mengapa Orang Suka Menghakimi? Pahami 7 Penyebab Orang Melakukan Judgemental yang Bisa Jadi Kebiasaan Buruk

Ilustrasi orang Judgemental (Timur Weber/pexels.com) - Image

Ilustrasi orang Judgemental (Timur Weber/pexels.com)

JawaPos.com - Menghakimi berarti membuat penilaian atau opini tentang orang lain. Tindakan ini adalah bagian alami dari cara kita berpikir yang membantu kita berinteraksi dengan orang lain dan membuat keputusan. Sayangnya, apabila penilaian ini berubah dari evaluasi yang konstruktif menjadi kritik yang kasar dan tidak berdasar, maka menjadi masalah.

Sikap menghakimi yang negatif sering dipicu oleh bias kognitif, seperti stereotip atau kesalahan atribusi, di mana kita menghubungkan tindakan seseorang dengan karakter mereka, bukan situasi yang mendasarinya. Bias ini mengubah cara kita melihat orang lain, mengarah pada kesimpulan yang tidak akurat dan tidak adil.

Walau merugikan, menghakimi orang lain dapat memberi rasa nyaman secara psikologis, seperti rasa lebih unggul atau sebagai cara guna mengalihkan perhatian dari kekurangan kita sendiri. Dikutip dari betterhelp.com, berikut berbagai penyebab orang melakukan judgemental yang bisa jadi kebiasaan buruk.

1. Masalah ketidakamanan dan harga diri

Sikap menghakimi umumnya muncul sebagai respons terhadap rasa tidak aman dan harga diri yang rendah. Orang yang merasa tidak percaya diri mungkin merasa lebih mudah mengkritik orang lain, karena ini memberikan mereka cara guna mengalihkan perhatian dari kelemahan atau kekurangan yang mereka rasakan dalam diri mereka.

Dalam banyak kasus, perilaku ini bertindak sebagai mekanisme koping, memberikan rasa superioritas atau kontrol semu atas rasa cemas dan ketidaknyamanan yang mereka alami. Dengan menghakimi orang lain, mereka mungkin merasa lebih baik tentang diri mereka sendiri, meski sebenarnya hal itu hanya menyembunyikan ketidakamanan yang mendalam.

2. Pengaruh budaya dan sosial

Pandangan kita mengenai apa yang dianggap dapat diterima biasanya dipengaruhi oleh budaya dan lingkungan sosial di sekitar kita. Norma, nilai, dan representasi dalam media sosial memainkan peran besar dalam membentuk persepsi kita mengenai apa yang dianggap sesuai atau diharapkan dalam masyarakat.

Hal ini mampu memicu penilaian yang bias terhadap orang atau kelompok yang tidak mematuhi standar tersebut. Stereotip, khususnya, sering kali memunculkan penilaian yang merata dan tidak adil terhadap kelompok orang tertentu, tanpa mempertimbangkan keberagaman atau konteks yang ada.

3. Pengasuhan

Anak-anak cenderung meniru perilaku yang mereka amati pada pengasuh mereka, baik itu positif atau negatif. Jika seseorang dibesarkan dalam keluarga yang sering menghakimi, maka kemungkinan besar sikap tersebut akan diteruskan kepada mereka.

Kita sering mengadopsi nilai-nilai yang diajarkan oleh orang tua yang membentuk pandangan dan standar kita. Contohnya, seseorang yang dibesarkan dengan keyakinan bahwa tato, tindik, atau gaya rambut tertentu tidak dapat diterima mungkin tetap memegang pandangan ini walau ekspresi tersebut kini lebih diterima di masyarakat.

4. Iri

Rasa iri umumnya menjadi penyebab utama penghakiman yang tidak adil. Saat kita merasa iri pada seseorang, itu biasanya sebab mereka memiliki sesuatu yang kita inginkan tapi tidak kita miliki, seperti kesuksesan, hubungan, kekayaan, atau sifat tertentu.

Perasaan tidak puas atau tidak mampu ini adakalanya diekspresikan dalam bentuk penghakiman negatif terhadap orang yang kita iri, sebagai cara guna mengalihkan atau mengatasi ketidakpuasan dan rasa kurang berharga dalam diri kita sendiri.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore