Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 14 November 2024 | 02.15 WIB

Hidup Lebih Tenang! 7 Cara Menjadi Stoikisme di Media Sosial untuk Mengatasi Komentar Negatif

9 ciri dan karakter orang yang sangat kesepian di media sosial (Freepik) - Image

9 ciri dan karakter orang yang sangat kesepian di media sosial (Freepik)

JawaPos.com - Di era media sosial seperti sekarang, setiap orang bebas berpendapat, mengkritik baik negatif araupun positif.

Dalam menghadapi hal ini, Stoisisme atau filsafat kuno dari Yunani, memberikan panduan untuk mengelola emosi dan tetap tenang.

Walaupun lahir ribuan tahun lalu, filosofi ini tetap relevan dan aplikatif dalam membantu kita menjaga keseimbangan mental di tengah gangguan dan reaksi negatif.

Mengutip thegeekyleader.com, berikut ini beberapa cara menjadi stoikisme di media sosial guna mengatasi komentar negatif.

1. Hindari perdebatan dengan orang kolot

Akan selalu ada orang-orang yang merasa tahu segalanya, mengkritik, meragukan, atau membenci, yang mencoba menilai pekerjaanmu atau memberi nasihat tanpa diminta. Mereka sering termotivasi oleh keinginan akan perhatian, ketenaran, atau keuntungan pribadi, atau terjerat ego dan rasa tidak amannya.

Meskipun mereka mungkin mempunyai kekuasaan, mereka pada akhirnya tidak memberi manfaat bagi dirimu. Keberhasilan sejati membutuhkan kesabaran dan fokus pada hasil jangka panjang, bukan kepuasan instan.

Orang-orang seperti ini bisa mengganggu dan menggodamu untuk berdebat, tetapi hal terbaik yang dapat dilakukan adalah mengabaikan mereka dan tetap fokus pada tujuanmu. Jangan terjebak dalam perdebatan atau mencoba mengubah mereka.

2. Bedakan kritik yang membangun dan merusak

Orang stoic menggunakan akal sehat dan refleksi diri dalam membedakan antara kritik yang konstruktif dan kebencian yang muncul dari iri hati. Jika kritik itu membangun, mereka akan belajar darinya, namun apabila tidak, mereka akan mengabaikannya atau menertawakannya, memahami bahwa kebencian lebih mencerminkan masalah pribadi si pembenci.

Prinsip stoic mengajarkan kita untuk memandang kritik sebagai hal-hal yang lebih disukai dan tidak penting sesuatu yang bisa bermanfaat jika mendukung hidup yang berbudi luhur, tetapi tidak mempengaruhi kebahagiaan kita apabila itu tidak konstruktif.

3. Kendalikan yang kamu bisa

Marcus Aurelius, Kaisar Romawi dan filsuf stoikisme, menekankan pentingnya pengendalian diri dalam merespons peristiwa eksternal. Stoikisme mengajarkan bahwa walau kita tidak bisa mengendalikan kejadian di luar kita, kita memiliki kekuatan dalam memilih bagaimana meresponsnya.

Ketika menghadapi kritik atau tantangan, seorang Stoik akan memilih untuk merespons dengan rasionalitas dan ketenangan, bukan dengan kemarahan atau frustrasi, sehingga dapat menjaga kedamaian batin dan tetap fokus pada tujuan.

4. Terima kritik untuk berkembang

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore