
Ilustrasi seseorang dengan kecenderungan perilaku savior complex yang meminta bantuan terapis atau psikolog.
JawaPos.com – Apakah Anda pernah merasa tidak suka jika melihat orang lain menderita, selalu ingin menyelamatkan orang lain, bahkan hingga mengorbankan diri sendiri? Anda mungkin mengalami 'Savior Complex'.
Menurut Psikologi, kepribadian ini sering kali berkembang pada mereka yang kurang perhatian di masa kecil dan tumbuh dalam rasa kesepian. Jika Anda relate dengan hal ini, yuk, kita selami lebih dalam!
Dalam artikel ini, Jawa Pos akan mengulas bagaimana mereka yang tumbuh dengan rasa kesepian di masa kecil sering kali menjadi dewasa dengan kepribadian yang penuh dengan keinginan untuk menyelamatkan orang lain atau kecenderungan perilaku ‘Savior Complex’.
Apa itu Savior Complex?
Dilansir dari Psychology Today, Jumat (18/10), 'Savior Complex' adalah kondisi psikologis di mana seseorang merasa bertanggung jawab untuk menyelamatkan atau membantu orang lain secara berlebihan.
Mereka cenderung memprioritaskan kebutuhan dan masalah orang lain dibandingkan dengan diri mereka sendiri. Rasa ini sering muncul dari kebutuhan mendalam untuk merasa dihargai dan berguna bagi orang lain.
Keyakinan dasar orang dengan Saviour Complex adalah bahwa menyelamatkan orang lain dari masalah adalah hal yang mulia. Mereka percaya bahwa mereka lebih baik dari orang lain karena selalu membantu tanpa mengharapkan imbalan. Namun, tindakan mereka tidak selalu bermanfaat bagi semua pihak.
Masalahnya adalah, mencoba ‘menyelamatkan’ seseorang tidak memberi orang yang dibantu tersebut kesempatan untuk bertanggung jawab atas tindakannya sendiri dan mengembangkan motivasi internal. Oleh karena itu, perubahan yang terjadi bisa saja hanya sementara, baik itu positif maupun negatif.
Ciri-Ciri Perilaku Savior Complex
1. Mengisolasi Diri Saat Menghadapi Masalah
Individu dengan Savior Complex sering kali mengisolasi diri mereka ketika sesuatu tidak berjalan dengan baik. Mereka merasa sulit untuk berbicara tentang perasaan dan emosi mereka.
2. Kurangnya Koneksi Emosional yang Mendalam dengan Orang-Orang Terdekat
Mereka merasa kesulitan dalam menjalin hubungan emosional yang mendalam dengan orang lain, sering kali merasa terputus dan tidak dimengerti.
3. Merasa Bertanggung Jawab atas Perlakuan Buruk yang Menimpa Mereka
Ketika diperlakukan dengan buruk, mereka cenderung merasa bahwa itu adalah kesalahan mereka dan merasa bertanggung jawab untuk memperbaikinya.

Pemerintah Perkuat Pengawasan Tata Niaga Minyak Goreng, Mafia Pangan Bakal Disikat Habis
Bocor! Ini Alasan Yuran Fernandes Terima Pinangan Bernardo Tavares untuk Perkuat Persebaya Surabaya
Prediksi Skor PSG vs Arsenal di Final Liga Champions 2025/2026! Les Parisiens Unggul Tipis
11 Barang yang Secara Psikologi Jadi Pemborosan Orang Miskin tapi Tak Pernah Dibeli Orang Kaya
Prediksi Line Up PSG Menghadapi Arsenal di Final Liga Champions
Suasana di Dalam Tenda Glamping Tempat Satu Keluarga Tewas di Temanggung
Harga Pasaran 4 Pemain Lokal Ini Bikin Kaget! Meroket usai Bawa Persebaya Surabaya Finis Papan Atas
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Ramadhan Sananta, Mesin Gol Baru Era Bernardo Tavares
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
