
Ilustrasi seseorang yang sedang marah dan menangis.
JawaPos.com - Air mata sering kali menjadi bagian tak terpisahkan dari emosi kita. Ketika kemarahan melanda, kamu mungkin merasa bahwa air mata secara tiba-tiba mengalir tanpa bisa ditahan. Hal ini mungkin terasa membingungkan, bahkan menjengkelkan. Mengapa bisa begitu?
Menangis saat marah adalah fenomena yang umum, meski banyak orang tidak memahami alasannya.
Emosi yang kompleks dan intens sering kali mengubah cara kita bereaksi.
Dilansir dari verywellmind.com pada Minggu (29/9), berikut adalah alasan seseorang menangis ketika marah.
1. Agresi
Ketika kamu marah, agresi bisa muncul dalam berbagai bentuk. Ada orang yang secara langsung meluapkan kemarahannya melalui tindakan fisik. Mungkin kamu pernah melihat seseorang melempar barang atau bahkan memukul tembok saat emosi memuncak.
Namun, agresi juga bisa muncul dalam bentuk yang lebih halus. Kamu mungkin pernah merasa kesal dan melontarkan komentar sarkastis. Meskipun terlihat tidak langsung, sarkasme sering kali menjadi cara untuk menyalurkan dorongan agresif yang terpendam.
Cara ini mungkin terlihat tidak terlalu berbahaya. Tetapi, apakah itu benar-benar membantu meredakan amarah? Atau justru memperburuk keadaan?
2. Depresi dan Kecemasan
Marah tidak selalu diekspresikan secara langsung. Banyak dari kita, termasuk kamu, mungkin diajarkan sejak kecil bahwa amarah adalah emosi yang berbahaya. Kemarahan dianggap dapat merusak hubungan, sehingga kita sering berusaha keras untuk menekannya.
Apa yang terjadi ketika kamu memendam amarah? Emosi tersebut sering kali berubah menjadi kecemasan atau depresi. Alih-alih marah secara eksplisit, kamu justru merasakan tekanan emosional yang lebih dalam dan menyakitkan.
Menangis bisa menjadi bentuk fisik dari pelepasan emosi ini. Air mata bukan hanya sekadar tanda kesedihan, tetapi juga bisa menjadi pelampiasan amarah yang terpendam.
3. Kritik
Saat kemarahan membuncah, kamu mungkin merasa dorongan untuk mengkritik orang lain. Ini adalah bentuk lain dari pelampiasan amarah. Daripada menyelesaikan masalah secara konstruktif, kamu mungkin justru mencari kesalahan orang lain.
Kritik tersebut bisa menjadi cara kamu membalas dendam secara halus. Kamu ingin mereka merasa bersalah atas kesalahan yang menurutmu terjadi. Tetapi apakah ini membantu menyelesaikan konflik? Atau hanya menambah masalah baru?

Pemerintah Perkuat Pengawasan Tata Niaga Minyak Goreng, Mafia Pangan Bakal Disikat Habis
Bocor! Ini Alasan Yuran Fernandes Terima Pinangan Bernardo Tavares untuk Perkuat Persebaya Surabaya
Prediksi Skor PSG vs Arsenal di Final Liga Champions 2025/2026! Les Parisiens Unggul Tipis
11 Barang yang Secara Psikologi Jadi Pemborosan Orang Miskin tapi Tak Pernah Dibeli Orang Kaya
Prediksi Line Up PSG Menghadapi Arsenal di Final Liga Champions
Suasana di Dalam Tenda Glamping Tempat Satu Keluarga Tewas di Temanggung
Harga Pasaran 4 Pemain Lokal Ini Bikin Kaget! Meroket usai Bawa Persebaya Surabaya Finis Papan Atas
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Ramadhan Sananta, Mesin Gol Baru Era Bernardo Tavares
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
