JawaPos.Com- Kitab primbon berisi berbagai literatur tentang filosofi kehidupan khususnya bagi masyarakat Jawa yang masih kental akan kearifan lokal.
Selain mampu meramalkan nasib, jodoh, dan karakter seseorang, kitab primbon juga memuat catatan untuk menentukan arah datangnya rezeki, termasuk ilmu tentang berdagang.
Menurut kitab Primbon Jawa, terdapat beberapa pantangan yang perlu diperhatikan oleh para pedagang keliling agar usaha mereka dapat berjalan lancar dan mendatangkan hasil yang berlimpah.
Dalam artikel ini, kita akan menjelaskan terkait larangan tersebut agar siklus perdagangan selalu mendapatkan keuntungan besar dan lebih maksimal seperti saat dikutip melalui channel YouTube Ki Lanang Jagad pada Kamis, (12/9), berikut adalah penjelasannya.
1. Perempatan Jalan, Sumber Energi Negatif
Menurut Primbon Jawa, perempatan jalan, terutama yang besar, merupakan tempat favorit bagi para makhluk halus untuk membuang anak-anak mereka.
Hal ini didasarkan pada konsep Feng Shui, di mana perempatan jalan memiliki aliran yang berputar-putar. Arus energi di perempatan jalan ibarat sungai yang sedang diterjang banjir bandang, sehingga energi positif yang seharusnya mengalir justru menjadi negatif.
Untuk meredam arus energi negatif ini, biasanya orang-orang Tionghoa di sekitar perempatan jalan memasang beberapa stabiliser, seperti kaca, kertas mantra berwarna kuning, atau tapal kuda bekas. Hal ini dilakukan agar energi yang masuk ke dalam toko atau tempat usaha tidak merusak.
Jika pedagang keliling nekat berdagang di perempatan jalan, selain berisiko mengalami kecelakaan, mereka juga dapat terkena energi negatif yang dapat menyebabkan jualan sepi, serta munculnya perasaan marah dan kesal yang tak terkendali.
2. Hindari Putar Balik di Perempatan Jalan
Terkait dengan pantangan berdagang di perempatan jalan, pedagang keliling juga dilarang untuk melakukan putar balik di tempat tersebut. Selain alasan keselamatan, putar balik di perempatan jalan juga dapat mengundang energi negatif yang dapat mengganggu kelancaran usaha.
Ketika pedagang keliling melakukan putar balik di perempatan jalan, energi negatif dapat "menempel" pada mereka. Akibatnya, selain jualan sepi, pedagang juga dapat mengalami sakit-sakitan, seperti nyeri pada tulang ekor.
Oleh karena itu, pedagang keliling disarankan untuk mencari tempat lain yang lebih aman dan kondusif untuk melakukan putar balik, misalnya di jalan yang lurus dan lapang.
3. Jaga Kebersihan Gerobak Jualan
Gerobak yang kotor dapat mengundang energi negatif, terutama jika sering digunakan di tempat-tempat yang kurang baik energinya, seperti di sekitar rumah sakit atau makam.
Untuk membersihkan gerobak, pedagang keliling dapat menggunakan air cucian beras atau air rebusan daun pandan. Air cucian beras dipercaya dapat menangkal guna-guna atau energi negatif, sementara air rebusan daun pandan dapat membersihkan energi negatif dan mendatangkan keberuntungan.
Selain itu, pedagang keliling juga disarankan untuk membersihkan gerobak secara rutin, minimal seminggu sekali. Hal ini penting, terutama jika jualan mereka berupa makanan, agar tetap terjaga kebersihannya dan tidak cepat bau.
4. Manfaatkan Suara Khas Jualan
Jika saat berjualan jangan sungkan untuk membunyikan bel atau suara khas jualan. Suara-suara ini diibaratkan sebagai "nafas" dari jualan pedagang keliling, yang dapat membantu menarik pembeli.
Dalam tradisi Feng Shui Cina kuno, para pedagang sering menyimpan lonceng kecil yang dibunyikan untuk membangunkan "Dewa Rezeki" dan mendatangkan pembeli. Bunyi-bunyian ini juga dipercaya dapat membuyarkan energi yang macet, sehingga jualan dapat berjalan lancar.
Oleh karena itu, pedagang keliling disarankan untuk selalu membunyikan suara khas jualan mereka, seperti bunyi lonceng, suara panggilan, atau pukulan pada mangkuk. Jangan biarkan suara-suara ini terlalu lama diam, karena dapat menyebabkan jualan sepi.
5. Hindari Payung Saat Cuaca Cerah
Dalam primbon Jawa, memakai payung di saat cuaca tidak hujan dianggap sebagai simbol kematian dan kesialan. Hal ini juga dipercaya dalam budaya Eropa, di mana memakai payung saat cuaca cerah dianggap dapat mengundang energi kematian. Oleh karena itu, pedagang keliling disarankan untuk beristirahat di tempat teduh jika cuaca sedang panas, dan menghindari membuka payung saat berdagang.
6. Jangan Makan Dagangan Sebelum Habis
Saat berjualan jangan memakan dagangan sebelum jualan selesai. Hal ini dikarenakan doa atau niat pedagang keliling untuk mencari rezeki dapat terganggu jika mereka memakan barang jualan sendiri, terutama jika belum ada satu pun yang terjual.
Niat atau doa pedagang keliling untuk mencari rezeki diibaratkan sebagai "tiang pancang" yang tidak boleh goyah. Jika pedagang keliling memakan dagangannya sendiri, secara tidak langsung mereka telah merusak "tiang pancang" tersebut, sehingga dapat mengganggu kelancaran usaha.
Untuk mengatasi rasa lapar saat berdagang, pedagang keliling disarankan untuk membawa bekal makanan sendiri atau melakukan barter dengan pedagang lain. Dengan demikian, niat dan doa untuk mendapatkan rezeki dapat tetap terjaga.
Selain beberapa pantangan-pantangan di atas, pedagang keliling juga harus memperhatikan cara menyimpan uang hasil jualan. Jangan menyimpan benda tajam, seperti pisau atau gunting, di dalam laci tempat menyimpan uang. Benda tajam dapat mengganggu aliran energi uang dan membahayakan tangan pedagang saat mengambil atau memasukkan uang.
Selain itu, pedagang keliling juga dilarang menyimpan uang yang ditemukan di jalan. Uang tersebut dianggap sebagai "tumbal" atau "pasangan" yang dapat mengganggu aliran rezeki.
Untuk mendapatkan energi pelarisan dalam berdagang, pedagang keliling dapat menggunakan centong nasi kayu yang sering dipakai di warung-warung makan. Centong nasi kayu ini dipercaya dapat memanggil energi kelimpahan dan kemakmuran, karena beras atau nasi dianggap sebagai lambang kekayaan yang diberikan oleh Dewi Sri atau Dewi Padi.
***