Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 1 September 2024 | 01.40 WIB

Gaungkan Hari Kampanye Mengakhiri Spesiesisme Sedunia, Gerakan Perlindungan Hewan Tanpa Praktik Kejam di Masa Depan

ILUSTRASI Kampanye Mengakhiri Spesiesisme Sedunia. (IST) - Image

ILUSTRASI Kampanye Mengakhiri Spesiesisme Sedunia. (IST)

JawaPos.com –  Kesadaran masyarakat akan perlindungan hewan masih sangat rendah. Sikap tidak memedulikan hingga kejam masih bisa ditemui di tengah-tengah masyarakat.

Dalam memperingati Kampanye Mengakhiri Spesiesisme Sedunia (World Day for the End of Speciesism), gerakan perlindungan hewan global bersatu guna menyuarakan hak-hak hewan. Dalam arti, bergerak nyata mengkampanyekan bahwa mana semua makhluk memiliki hak untuk diperlakukan dengan hormat dan welas asih termasuk hewan.

Koalisi Act For Farmed Animals (AFFA),  sebuah inisiatif kolaboratif yang dijalankan oleh Animal Friends Jogja dan Sinergia Animal di Indonesia memperingati Hari Kampanye Mengakhiri Spesiesme Sedunia dengan menyajikan serangkaian refleksi tentang bagaimana hubungan manusia dengan hewan berdampak pada masa depan.

Among Prakosa, Direktur Pengelola Act for Farmed Animals, mengungkapkan, Ilmu pengetahuan mengakui semakin banyak spesies hewan sebagai makhluk dengan kecerdasan, ingatan. Bahkan kapasitas untuk mengalami rasa sakit dan merasakan emosi. Pada saat yang sama, manusia pun mengalami kemajuan dalam identifikasi bahasa mereka.

“Bahkan ikatan sosial yang mereka bangun, dan keinginan bawaan mereka untuk merasakan kehidupan yang bebas dari rasa sakit dan penderitaan,” jelas Among Prakosa, Direktur Pengelola Act for Farmed Animals baru-baru ini.

Temuan ilmiah terbaru menunjukkan bahwa berbagai jenis hewan memiliki banyak kesamaan kualitas dan atribut seperti manusia. Misalnya struktur otak yang berhubungan dengan emosi pada manusia, dan kemampuan merasakan nyeri telah dibuktikan secara luas pada semua vertebrata.

Namun sayangnya, hewan seringkali hanya dijadikan komoditas belaka. Asumsi bahwa mereka memiliki kapasitas rendah, kurangnya penalaran dan bahasa, dan bahkan tak memiliki perasaan membenarkan penggunaan dan eksploitasi hewan intensif untuk konsumsi makanan, kosmetik, hiburan, transportasi, obat-obatan, dan lainnya.

“Sejumlah penelitian menekankan bahwa semua spesies layak mendapatkan pertimbangan moral, tidak peduli seberapa dekat hubungan mereka dengan kita. Kita harus membuat perubahan yang diperlukan dalam masyarakat kita untuk menghormati kehidupan mereka,” sambungnya.

Dengan semakin meningkatnya pengakuan terhadap hewan, organisasi dan individu yang bekerja untuk melindungi hewan berupaya mengubah industri eksploitatif, menghilangkan praktik-praktik paling kejam, dan mempromosikan alternatif di mana spesies hewan tidak perlu dirugikan demi kepentingan manusia. Di garis depan gerakan ini, Koalisi Act For Farmed Animals (AFFA) menyoroti peternakan sebagai salah satu isu yang paling mendesak dan penting.

“Lebih dari 80 milyar hewan darat disembelih tiap tahun untuk diambil dagingnya, juga Ikan dan spesies laut yang jumlah tepatnya sulit dipastikan, namun akan signifikan menambah angka hewan yang disembelih setiap tahun jika mereka juga kita hitung,” ujarnya.

Mayoritas hewan-hewan ini dibesarkan dalam sistem kurungan intensif yang dikenal sebagai ‘peternakan pabrik’, di mana keuntungan mengesampingkan pertimbangan terkait kesejahteraan hewan. Hewan dijejalkan ke dalam kurungan atau kandang yang penuh sesak, tidak dapat mengekspresikan perilaku alami mereka, dan menerima prosedur peternakan yang menyakitkan dan menderita penyakit.

Meskipun pertumbuhan industri peternakan, khususnya peternakan pabrik, yang terus berlanjut makin mengkhawatirkan, Act for Farmed Animals melihat gerakan kesejahteraan hewan telah memimpin perubahan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

“Transformasi dalam industri pangan sangat jelas terlihat. Kami berhasil mendapatkan komitmen dari ribuan perusahaan di seluruh dunia untuk menghapus praktik-praktik kejam seperti sistem sangkar dan kandang gestasi; kami mendorong sektor keuangan untuk menjauh dari investasi di peternakan pabrik; dan kami telah mendukung institusi untuk mulai menyediakan jutaan makanan berbasis nabati. Setiap tahunnya, hampir 60 juta hewan merasakan dampak positif dari kampanye kami. Hasil-hasil ini menunjukkan bahwa kita sedang membentuk masa depan yang lebih baik untuk semua spesies,” jelas Among.

Pada Hari Kampanye untuk Mengakhiri Spesiesisme Sedunia, Sinergia Animal meluncurkan seruan global bagi para sukarelawan yang tertarik untuk melindungi hewan.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore