
Tangkapan layar video viral aksi borong susu beruang. Istimewa
JawaPos.com - Psikolog klinis dewasa dari Universitas Indonesia (UI) Mega Tala Harimukthi menyebut mereka dengan kecenderungan mudah cemas sehingga terbiasa untuk mengambil keputusan secara emosional punya probabilitas melakukan pembelian yang impulsif atau panic buying.
"Ketika seseorang terbiasa mengambil keputusan secara emosional, akhirnya otak emosional dia bekerja sehingga sangat cepat, tidak punya pertimbangan matang, sangat impulsif, sehingga saat melihat orang lain (baik itu foto maupun video) belanja barang tertentu yang banyak dia mulai panik," ujarnya, Selasa (6/7), seperti dikutip dari Antara.
Tanpa sadar, pikiran emosionalnya yang mengambil keputusan sehingga dia bersikap impulsif membeli barang-barang yang menurut dia dibutuhkan.
Kegagalan orang berdamai dengan kondisi tak pasti juga bisa menyebabkan kecemasan dan berujung panic buying. Pada keadaan cemas, orang akan lebih mudah menyerap hal-hal yang sifatnya negatif. Mengapa? Awalnya dia sangat takut untuk mengalami hal negatif, tetapi karena dia berpikir irasional, akhirnya malah mengikuti hal negatif.
Orang itu sudah merasa frustasi, semakin merasakan ketidakpastian di masa depan, sehingga ambang stresnya menjadi lebih rendah. Dia juga tidak lagi toleran dengan sekitarnya dan tak jarang mengalami gangguan kecemasan. Akibatnya, dia bisa sangat mengkhawatirkan hal-hal yang sebetulnya tidak perlu terlalu dipikirkan.
Pada mereka yang mudah cemas, ada kecenderungan mengalami kecemasan yang sifatnya antisipatif. Dia berusaha preventif agar tidak mengalami hal buruk dan berusaha mengendalikan situasi agar sesuai dengan ekspektasinya.
Sisi buruknya untuk orang lain, panic buying bisa menular. Pada kondisi seseorang yang sangat takut, kemudian melihat orang baik itu secara langsung ataupun melalui media foto dan video melakukan hal tertentu, dia bisa sangat emosional mempersepsikan hal tersebut, lalu ikut takut.
Akhirnya, karena otaknya lebih mengutamakan sisi emosional dibanding logis dan dia membeli banyak barang yang bisa saja bukan kebutuhan utama dia.
Orang memborong susu steril bergambar beruang, sehingga produknya menjadi langka dan dibanderol dengan harga lebih mahal dari biasanya, kelangkaan tabung oksigen dan vitamin-vitamin untuk meningkatkan imunitas tubuh menjadi contoh nyatanya.
"Orang yang panik begini irasional, tidak masuk akal. Tetapi semakin dia menunjukkan aksi panic buying itu, membuat orang di sekitarnya jadi ikut terbawa merasakan kepanikan itu," kata Tala.
Di sisi lain, kondisi mentalitas kelompok atau lingkungan juga bisa menjadi penyebab orang panic buying. Orang bisa menafsirkan sebuah kondisi berbahaya, menakutkan, mengkhawatirkan, penuh ketidakpastian dari reaksi orang di sekelilingnya. "Otomatis dia jadi ikut seperti orang yang dia lihat," ujar Tala. (*)

Breaking News! Rival Veda Ega Pratama Didiskualifikasi dari Moto3 Catalunya 2026
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
3 Bintang Baru Sudah Deal! Persebaya Surabaya Siapkan Misi Besar Bernardo Tavares di Musim 100 Tahun
Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Sony Sonjaya Akan Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator Kasus MBG, Janjikan Buka Nama-Nama Besar
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Surat Satir Sony Sanjaya ke Kepala BGN Baru Bikin Heboh, Netizen: Nanik Deyang Cepu ya Pak?
Resmi Jadi Tersangka Korupsi MBG, Sony Sonjaya Kirim Surat Satir ke Kepala BGN Baru: 'Terima Kasih Hadiah Indahnya'
Dikabarkan Deal! Persebaya Surabaya Gaet Lima Pemain Anyar, Empat Legiun Asing dan Satu Striker Lokal
