Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 22 Januari 2018 | 21.39 WIB

Tak Sembarangan, Begini Cara Perlakukan Kain Tenun Sumba

Didiet Maulana - Image

Didiet Maulana

JawaPos.com - Bukan hanya sekedar cantik, wastra Indonesia juga memiliki nilai yang kaya akan filosofi dibalik pembuatannya yang unik. Mengingat rumitnya pembuatan kain tradisional, diperlukan langkah-langkah khusus agar kain tidak rusak.


Salah satu wastra Indonesia yang saat ini sedang digemari masyarakat adalah tenun, termasuk dari Sumba. Desainer sekaligus Founder IKAT Indonesia, Didiet Maulana, berbagi tips untuk merawat kain tenun khas Sumba. Baginya, memperlakukan kain tradisional dengan layak, sama saja menghargai jerih payah para pengrajin.


Untuk kain tenun Sumba sendiri, Didiet mengakui prosesnya sangat panjang. Apalagi menggunakan pewarna alam yang prosesnya harus dilakukan berkali-kali untuk mendapatkan warna yang diinginkan.


"Misalnya, warna merah diperoleh dari akar kombu atau pohon mengkudu, dan warna hitam diperoleh dari penggunaan lumpur. Pewarnaan dilakukan rata-rata tiga sampai empat kali dan maksimal enam kali," Paparnya pada JawaPos.com di bilangan Cikini, Jakarta, beberapa waktu lalu.


Sehingga, harus ada perawatan khusus untuk menjaga kain tenun khas Sumba.


1. Tidak Perlu Sering Dicuci, Cukup Dianginkan Saja
Tenun sumba habis dipakai tidak harus dicuci, diangin-anginkan saja, untuk menjaga kecerahan warna dan bahannya.


2. Jangan Terkena Sinar Matahari Langsung
Jangan sampai kena sinar matahari langsung saat menjemur agar warna tidak pudar.


3. Jika Terpaksa Mencuci, Cuci dengan Air Garam
Kebanyakan Tenun Sumba berasal dari pewarna alami, semakin dicuci semakin bagus menurut mereka (pengrajin). Tapi biasanya kain tenun dicuci di laut. Jadi kalau memang terpaksa harus cuci, gunakan air garam.


4. Gunakan Silica Gel di Lemari Penyimpanan Kain
Kain Sumba benangnya khas, dari benang kapas. Lain daerah akan berbeda untuk penyucian kain tenun. Tapi kalau penyimpanan sama. Setelah kain kering, kemudian ditekuk, simpan di lemari. "kita bisa pakai silica gel yang di dalam kertas biasanya, lalu kita sebarkan agar udara tetap kering dan mencegah jamur atau ngengat. Nanti setiap sebulan sekali baru dikeluarkan untuk diangin-anginkan baru disimpan lagi," ujar Didiet.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore