
CEO Sale Stock Indonesia, Lingga Madu
JawaPos.com - Mahalnya harga fesyen di pusat perbelanjaan membuat konsumen berpikir dua kali untuk membeli. Apalagi, bahan dan model fesyen tersebut tak sebanding dengan harga jual.
CEO Sale Stock Indonesia, Lingga Madu, mengatakan, mahalnya harga pakaian tersebut, karena mereka memasukkan harga risk buffer (biaya antisipasi pakaian tak laku). Harga risk buffer tersebut dimasukkan ke dalam harga jual fesyen, karena mereka memproduksi fesyen tanpa menganalisa pasar terlebih dahulu. Sehingga resiko fesyen tak terbeli oleh konsumen cukup tinggi.
Cara tersebut terlihat ketika mereka mempromosikan produk terbaru atau new arrival. Umumnya ada 10 jenis produk yang dilempar ke konsumen. Mereka membuat 10 item tersebut, karena tidak tahu item yang diminati konsumen. Saat peluncuran produk baru itu, mereka mematok harga mahal.
Padahal ongkos produksi fesyen tersebut jauh lebih rendah dari harga jual. Kemudian agar fesyen itu laku, maka diberlakukanlah harga diskon. Mulai dari 20 persen hingga 70 persen. Jika tak laku juga, maka produk fesyen tersebut harus diputihkan.
"Itulah yang disebut risk buffer dan membuat harga pakaian menjadi mahal. Perlu diketahui juga bahwa biaya paling tinggi untuk membuat pakaian adalah risk buffer. Kedua adalah beli bahan dan menjahit," kata Lingga kepada JawaPos.com, Selasa (21/3).
Lingga menjelaskan, keprihatinannya atas fenomena tersebut membuatnya mendirikan Sale Stock Indonesia dengan tagline harga jujur. Hal itu dilakukannya, karena ia tidak memasukkan harga risk buffer ke dalam harga jual produk pakaiannya. Hal tersebut dapat dilakukannya, karena ia memproduksi produk pakaian sesuai dengan keinginan pasar.
Diaa dapat melakukan hal itu dengan bantuan komputer yang bisa berpikir. Dengan komputer tersebut, Lingga tidak perlu memberlakukan diskon, agar laku terjual.
"Inilah perbedaan mendasar kami dengan pelaku fesyen kebanyakan. Dengan harga murah, maka masyarakat di daerah terpencil dapat bergaya dengan pakaian berkualitas," tandas Lingga.
Lingga menyatakan, melalui komputer yang bisa berpikir itu, pihaknya dapat meluncurkan 200 model setiap pekan. 200 model itu pun langsung terjual. Hal itu terjadi, selain karena harga murah dan produknya berkualitas, dia pun memberikan kepercayaan kepada pembeli dengan memfoto langsung produk tersebut di studio yang telah disediakan. Kebijakan itu membuat produk fesyen yang di foto sama dengan warna dan bentuk aslinya.
"Pemasaran kami di luar Jawa sudah mencapai 57 persen. Stok yang kami sediakan untuk sista (konsumen) itu sebanyak 20.000 jenis. Ini dapat kami lalukan, karena kami mendapatkan kepercayaan dari masyarakat," ujarnya. (cr1/JPG)

Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Rekomendasi 13 Wisata Terbaik di Bandung untuk Liburan Santai, Healing, dan Quality Time Bersama Orang Tersayang
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
Sebut Sumbar 'Barbar' dan Kristen Fobia, DPP IKM Siap Laporkan Abu Janda ke Mabes Polri Selasa Besok!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
9 Mall Terbaik di Semarang, Selalu Jadi Andalan Wisatawan Saat Liburan Cari Hiburan
