
IBU-ANAK: Chitra selalu berusaha memahami perasaan Alicia Senja Ramadhani (kiri), sang putri. (Chitra Yuanita untuk Jawa Pos)
Mungkin, ada sebagian orang tua yang merasa ”jengah” ketika melihat buah hatinya malu saat bermain. Anak-anak justru bersembunyi di balik parents. Anak malu tidak masalah, tapi yang jadi masalah adalah label dari orang tua ke anak. Yuk, stop kasih label anak pemalu mulai sekarang.
---
”YAH, si dedek kok malu-malu sih main sama temannya? Ayo, main sana gih.” Siapa yang suka begitu ke anaknya, mom? Psikolog anak Agustina Twinky Indrawati menuturkan, melabeli anak sebagai anak pemalu justru berdampak negatif. Sebaiknya, orang tua mencari tahu mengapa anak bersikap malu. Tidak malah melabeli anak.
Twinky mengungkapkan, sikap malu kepada anak tak mengenal gender. Anak laki-laki maupun perempuan bisa saja bersikap malu ketika berinteraksi sosial dengan orang lain. Nah, ada beberapa faktor anak menjadi pemalu yang perlu diketahui parents.
”Salah satunya, ada momen yang membuat anak menjadi pemalu. Entah momennya atau bisa jadi anak dari lahir sudah pemalu,” ujarnya kepada Jawa Pos kemarin.
Meski demikian, lanjut Twinky, orang tua perlu memberikan treatment saat anak malu. Jangan dibiarkan juga. Sebab, rasa malu bisa menghambat tumbuh kembang anak. Bukan hanya itu, rasa percaya diri anak akan menciut juga. Ada beberapa siasat yang bisa dilakukan oleh parents untuk mengatasi anak yang pemalu.
Pertama, jangan sampaikan karakter anak yang pemalu ke teman-teman parents, ya. Apalagi, ketika menyampaikan hal itu di depan anak.
Lalu, yang kedua, bantu ciptakan rasa percaya diri anak dan tetap berikan rasa aman. ”Misalnya, hari ini anak diajak ke rumah teman. Sebelum berangkat, info ke anak nanti kalau sampai depan pintu kasih salam atau salim ya,” katanya.
Mengajarkan anak untuk tidak malu butuh proses, mom-dad. Tidak instan. Perlahan, tapi pasti lebih mengasyikkan daripada buru-buru, tapi hasilnya tak maksimal.
Twinky menambahkan, yang terpenting, anak tidak boleh dipaksa untuk menuruti kemauan orang tua. Misalnya, tangan anak diseret buat salim ke teman mama atau papa. No way, yes.
Terpisah, Listiana Arfiani selaku konselor anak dan remaja mengatakan, peran orang tua sangat penting untuk menciptakan interaksi sosial anak dengan teman-teman sebaya. Orang tua bisa mengawali dengan cara cari hobi anak dulu. Ajak anak ke hobi yang disukai. ”Kasih contoh juga bagaimana memperkenalkan diri dan tanyakan respons anak setelah bermain ya,” ucap perempuan 37 tahun itu.

Sah! Nathalie Holscher Resmi Dinikahi Aripat, Maskawinnya Berupa Uang Rp 2.272.026
Eks Bek Persib dan Persija Erik Setiawan Jadi Perbincangan Setelah Tuduhan Mantan Istrinya Viral
Menurut Psikologi, Orang yang Tidak Pernah Mengunggah Foto Dirinya di Media Sosial Kerap Kali Memiliki 8 Sifat Mengejutkan Ini
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Mentan Amran Terbang ke Jatim Pukul 06.00 WIB, Borong Inovasi ITS: Benih Jagung, Traktor Amfibi, hingga Alat Panjat Kelapa
Roberto Carlos Ungkap Tiga Pemain Terbaik Sepanjang Masa, Lionel Messi dan Pele Tak Masuk!
2 Alasan Vicky Prasetyo Belum Menjenguk Fangfang yang Sudah Melahirkan Buah Hatinya
Komentar Pedas Zlatan Ibrahimovic di Piala Dunia 2026 Bikin Heboh, Ini Deretan Frasa Ikoniknya
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Mediasi Ruben Onsu dan Sarwendah Digelar Tertutup, Ini yang Terjadi di Dalam Ruangan
