Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 7 Oktober 2021 | 04.00 WIB

PPKM Turun Level, Waspadai Risiko Nongkrong

Pengunjung menikmati suasana sambil menunggu waktu untuk berbuka puasa di Taman Senayan Park, Jakarta Pusat. Jumat (30/4/2021). Sempat dikenal sebagai lokasi nongkrong remaja Jakarta era 70 dan 80-an, kini Taman Ria Senayan resmi berganti konsep menjadi S - Image

Pengunjung menikmati suasana sambil menunggu waktu untuk berbuka puasa di Taman Senayan Park, Jakarta Pusat. Jumat (30/4/2021). Sempat dikenal sebagai lokasi nongkrong remaja Jakarta era 70 dan 80-an, kini Taman Ria Senayan resmi berganti konsep menjadi S

JawaPos.com - Semenjak PPKM turun level, pemerintah melonggarkan sejumlah bentuk kegiatan masyarakat. Komunitas-komunitas kembali beraktivitas secara offline. Padahal pandemi belum berakhir.

Salah satu aktivitas masyarakat di tengah pandemi ketika PPKM turun level adalah nongkrong. Nah, bagaimana mengantisipasi kegiatan nongkrong ini tidak menimbulkan risiko tertular Covid-19?

Berikut beberapa tips dari mengurangi risiko nongkrong berdasar diskusi antara Koalisi Indonesia Bebas TAR (KABAR) Ariyo Bimmo dan Journalist Weekend Rider.

Ahmad Sabran, anggota komunitas Journalist Weekend Rider, menuturkan bahwa semenjak pemerintah mulai mengumumkan pelonggaran PPKM, banyak komunitas mulai rutin bertemu secara offline. Tidak bisa dipungkiri bagi sebagian orang, nongkrong menjadi bentuk aktualisasi diri. Kini nongkrong pada masa pandemi berbeda konsep.

Selain menerapkan protokol kesehatan, nongkrong bareng juga harus memberikan kenyamanan baik diri sendiri maupun orang lain. Salah satu contohnya mengurangi kebiasaan merokok. “Untuk bisa berhenti merokok bukanlah hal yang mudah. Sebab, ada ‘rasa nyaman’ yang diberikan oleh nikotin yang ada dalam rokok," ujar Sabran dalam acara nongkrong virtual KABAR dan Journalist Weekend Rider pada Rabu (6/10).

Sabran berpendapat, untuk menggantikan rasa nyaman dari nikotin bisa menggunakan produk tembakau alternatif. Seperti rokok yang minim asap dan bau. "Tapi harus disadari itumasih mengandung nikotin,” ujar Sabran yang juga jurnalis Warta Kota itu.

Ketua KABAR Ariyo Bimmo menuturkan, tidak ada yang dapat menggantikan kenikmatan pada saat touring dengan komunitas. Hal itu sama dengan mencoba untuk benar-benar berhenti merokok, meski jalan terbaik untuk mengurangi bahayanya adalah tidak merokok sama sekali.

Namun, jika dirasa sulit, solusinya dapat diawali dengan penggunaan produk tembakau alternatif. Contohnya, rokok elektrik atau produk tembakau yang dipanaskan. Dua benda itu dianggap dapat mengurangi risiko kebiasaan merokok.

“Pendekatan harm reduction sebenarnya banyak ditemui di kehidupan sehari-hari. Contohnya, penggunaan produk tembakau alternatif," sebut Ariyo Bimmo.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore