Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 11 September 2025 | 02.41 WIB

Mengapa Manusia Begitu Menyukai Kucing? Ini Alasan Ilmiah dan Dampak Positifnya bagi Kesehatan

Perempuan sedang bersama kucing (Dok. Freepik) - Image

Perempuan sedang bersama kucing (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Apakah Anda mempunyai ikatan emosional dengan hewan kucing? Hubungan manusia dengan kucing bukanlah hal baru. Berdasarkan analisis DNA, nenek moyang kucing domestik saat ini adalah kucing liar Afrika (Felis silvestris lybica) yang hidup di wilayah Fertile Crescent, meliputi Mesopotamia, Mesir, Levant, hingga Persia.

Penelitian arkeologis menemukan bahwa interaksi antara manusia dan kucing sudah ada sekitar 9.500 tahun lalu. Bukti awal hubungan ini terlihat di Pulau Siprus, di mana kucing mulai hidup berdampingan dengan manusia.  

Bangsa Mesir Kuno bahkan menganggap kucing sebagai makhluk yang memiliki energi ilahi. Mereka percaya bahwa kucing membawa keberuntungan dan melindungi rumah dari roh jahat maupun hama.  

Melansir dari Medical News Today, Dr. Eva-Maria Geigl, peneliti dari CNRS Prancis, menyatakan bahwa proses domestikasi kucing terjadi secara alami. Kucing tertarik pada pemukiman manusia karena adanya tikus yang hidup dari persediaan biji-bijian. Kehadiran kucing memberi keuntungan timbal balik: manusia terlindungi dari hama, sementara kucing mendapat sumber makanan.  

Seiring waktu, penelitian genetik menunjukkan adanya setidaknya 13 gen yang memengaruhi transisi kucing dari liar menjadi jinak. Gen ini terkait dengan kemampuan belajar, perilaku sosial, serta berkurangnya rasa takut terhadap manusia.  

Mengapa Manusia Sangat Mencintai Kucing?

Banyak orang merasa kucing adalah teman sejati sekaligus sumber ketenangan. Dr. Patricia Pendry dari Washington State University menemukan bahwa orang dengan emosi yang kuat sering membentuk ikatan yang sangat erat dengan kucing mereka.  

Salah satu alasan manusia begitu terpesona adalah sifat kucing yang tidak selalu mudah ditebak. Saat seekor kucing memberikan perhatian, manusia merasa dirinya "terpilih" dan istimewa. Hal ini bisa menciptakan perasaan candu untuk terus berinteraksi.  

Selain itu, wajah kucing yang mirip bayi, dengan mata besar dan perilaku menggemaskan, membangkitkan naluri alami manusia untuk merawat. Inilah sebabnya kucing dianggap imut sekaligus sulit untuk ditolak.  

Tingkah laku kucing juga sering menghibur. Anak kucing bisa berlari tanpa arah, melompat tiba-tiba, atau bersembunyi di tempat aneh. Bahkan kucing dewasa pun kerap menampilkan perilaku lucu yang membuat pemiliknya tertawa.  

Meski sering dicap misterius dan dingin, penelitian menunjukkan bahwa kucing sebenarnya memiliki cara komunikasi yang halus. Mereka mengekspresikan perasaan lewat gerakan tubuh, suara, maupun perilaku kecil seperti menggesekkan kepala, mengeong, atau mendengkur. 

Dampak Kucing bagi Kesehatan Fisik dan Mental?

Kehadiran kucing bukan hanya soal hiburan, tetapi juga membawa manfaat kesehatan. Studi tahun 2009 menemukan bahwa pemilik kucing memiliki risiko lebih rendah terkena serangan jantung dibanding mereka yang tidak pernah memelihara kucing.  

Sebuah survei di Inggris pada 2011 menunjukkan bahwa hampir 94% responden merasa kesehatan mental mereka membaik setelah hidup bersama kucing. Mereka merasa lebih tenang, tidak kesepian, dan lebih mampu menghadapi stres.  

Pada anak-anak, tumbuh bersama hewan peliharaan berbulu seperti kucing dapat mengurangi risiko alergi dan asma. Interaksi sejak dini membantu memperkuat sistem imun anak serta menurunkan kemungkinan obesitas.  

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore