
Ilustrasi seseorang duduk santai di sofa sambil menonton serial TV favorit di layar, dikelilingi suasana yang nyaman. (Freepik)
JawaPos.com - Menghabiskan waktu dengan menonton ulang acara televisi favorit berulang kali adalah kebiasaan banyak orang. Aktivitas ini sering kali dianggap sebagai cara sederhana untuk bernostalgia atau bersantai. Namun, di balik kebiasaan ini tersimpan makna yang jauh lebih dalam.
Melansir dari Geediting.com Minggu (3/8), psikologi menjelaskan bahwa kebiasaan tersebut dapat mengungkapkan tujuh kualitas psikologis. Ternyata, orang-orang yang sering menonton ulang bukan hanya mencari nostalgia. Mereka justru sedang melakukan ritual tak disadari.
1. Mahir Mengatur Diri dengan Tenang
Pria dan wanita yang suka menonton ulang adalah individu yang terampil mengatur diri secara tenang. Mereka menggunakan fiksi yang familiar untuk memulihkan kendali diri dan energi mental. Ini adalah strategi cerdas untuk mengatasi ketegangan dan kelelahan sehari-hari.
Mereka tahu cara mengenali tekanan sesaat dan mengatasinya dengan baik. Kebiasaan ini adalah cara mereka mengembalikan keseimbangan emosi.
2. Berpijak pada Nostalgia Pengalaman
Para penonton ulang sering kali kembali ke acara lama bukan sekadar untuk bernostalgia. Mereka melakukannya untuk melihat seberapa besar diri mereka telah berubah sejak terakhir kali menonton. Mereka menggunakan tayangan familiar sebagai jangkar emosional yang stabil.
Ini adalah cara mereka mengelola masa kini yang serba tidak pasti. Kebiasaan ini memberi mereka perspektif baru tentang diri sendiri.
3. Meredam Kecemasan dengan Prediktabilitas
Dengan menonton ulang alur cerita yang sudah diketahui, mereka dapat menurunkan beban kognitif. Mereka memperoleh kembali rasa kendali atas keadaan, yang mencegah sistem saraf simpatik bekerja berlebihan. Mereka mengubah prediktabilitas menjadi peredam kecemasan yang kuat.
Ini adalah strategi sadar untuk menjaga ketenangan. Kebiasaan ini menciptakan ruang aman dari ketidakpastian.
4. Berlatih Perhatian Mendalam dan Detail
Menonton ulang acara bukan berarti mereka tidak fokus atau melamun begitu saja. Sebaliknya, pengulangan ini membebaskan memori kerja untuk memperhatikan detail baru. Mereka menemukan lelucon, sudut kamera, atau lapisan tematik baru yang sebelumnya luput.
Kualitas ini adalah tanda pembelajaran adaptif yang hebat. Ini menunjukkan kemampuan mereka untuk fokus pada detail kecil.
5. Mengembangkan Empati Parasosial

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
