Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 3 Juli 2025 | 23.29 WIB

6 Frasa Umum yang Terdengar Sopan Tapi Sebetulnya Toxic

6 Frasa Umum yang Terdengar Sopan Tapi Sebetulnya Toxic - Image

6 Frasa Umum yang Terdengar Sopan Tapi Sebetulnya Toxic

JawaPos.com - Kesopanan memang penting sampai berubah menjadi kedok untuk menyampaikan hal-hal menyakitkan.

Pernah merasa direndahkan setelah obrolan yang terdengar “baik-baik saja”? Bisa jadi, frasa yang terkesan ramah sedang melakukan pekerjaan kotornya secara halus.

Dilansir dari VegOut, berikut enam ungkapan sehari-hari yang tampak sopan, tapi diam-diam bisa merusak kepercayaan. Mari kita kupas kenapa frasa-frasa ini bisa terasa toxic, dan apa yang lebih baik dikatakan sebagai gantinya.

1. "Dengan segala hormat..."

Frasa ini sering digunakan sebagai pembuka dalam menyampaikan perbedaan pendapat, seolah ingin meredam ketegangan. Namun kenyataannya, kalimat ini sering kali menjadi sinyal bahwa serangan verbal akan segera menyusul.

Alih-alih mengundang diskusi, ucapan ini justru membuat lawan bicara bersiap untuk membela diri dan defensif, bukan mendengarkan.

Lebih baik: Langsung sampaikan pokok pikiran tanpa membungkusnya dengan peringatan terselubung. Misalnya: “Aku mengerti maksudmu, tapi izinkan aku menjelaskan dari sudut pandang yang berbeda.” Kamu tetap menyampaikan perbedaan, tapi dengan nuansa terbuka.

2. "Aku cuma jujur."

Kejujuran itu penting, tapi bukan alasan untuk bersikap tajam tanpa empati.

Frasa ini sering muncul setelah komentar yang menyakitkan. Seolah-olah dengan mengaku jujur, semua jadi sah dan tak boleh dipermasalahkan. Padahal, yang terjadi justru sebaliknya: hubungan jadi renggang.

Lebih baik: Gunakan pendekatan yang lebih lembut tapi tetap transparan, seperti: “Boleh aku berbagi pendapat dengan jujur? Ada hal yang terasa kurang, dan ini alasanku merasa begitu.” Sekarang kamu membuka ruang diskusi, bukan membakarnya.

3. "Aku turut prihatin dengan perasaanmu."

Kalimat ini terdengar seperti permintaan maaf, tapi justru bisa lebih menyakitkan dibanding tidak mengatakan apa-apa.

Masalahnya: kalimat ini memindahkan fokus dari tindakan ke emosi orang lain. Bukan soal apa yang dilakukan, tapi bagaimana perasaan orang itu sebagai respons—yang secara halus justru terkesan menyalahkan mereka.

Lebih baik: Tunjukkan tanggung jawab secara langsung. Misalnya: “Maaf aku terlambat memenuhi tenggat waktumu.” Tak perlu embel-embel pembenaran. Kalau memang belum siap minta maaf, lebih baik sampaikan kekhawatiran atau alasan secara jujur tanpa menyalahkan perasaan orang lain.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore