Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 24 Mei 2025 | 17.51 WIB

Apa Itu Filosofi Toples Kue? Simak, Rahasia Bertahan Hidup Saat Ujian Membuat Seseorang Ingin Menyerah

 

ilustrasi toples kue. (freepik)

JawaPos.com-- Dalam kenyataannya, hidup penuh dengan perjuangan. Mungkin kamu sedang menghadapi semester yang berat. Mungkin pekerjaanmu membuat stres.

Mungkin hubungan yang kamu jalin terasa rumit, atau kamu merasa tidak berkembang secepat yang kamu harapkan. Aku tahu betapa sulitnya menjaga motivasi saat semuanya terasa melawan.

Otak kita tidak suka berada di situasi yang tidak nyaman, itulah kenapa kita sering menyerah. Tapi faktanya, bahkan ketika pikiran kita berkata, "Sudah cukup," sebenarnya masih ada energi tersisa dalam diri kita. Kita hanya perlu tahu cara mengaksesnya.

Di sinilah konsep toples kue menjadi jawaban. Mari kita simak penjelasan tentang toples kue dilansir dari YouTube Better Than Yesterday:

Apa Itu Toples Kue?

Toples kue adalah istilah yang dipopulerkan oleh David Goggins, seorang mantan Navy SEAL, atlet ultra-maraton, pemegang rekor dunia Guinness dalam pull-up, dan dikenal sebagai salah satu pria terkuat secara mental.

Dalam menghadapi tantangan-tantangan ekstrem, Goggins menyimpan semua kenangan tentang pencapaiannya dalam “toples kue” imajiner.

Setiap kali ia ingin menyerah, ia akan mengambil "kue" dari toples tersebut, sebuah kenangan tentang momen ketika ia pernah berhasil melalui hal sulit sebelumnya.

Kisah Lahirnya Toples Kue

Goggins menciptakan konsep ini saat ingin menggalang dana untuk Special Operations Warrior Foundation, sebuah organisasi yang memberikan beasiswa kepada anak-anak tentara yang gugur.

Untuk itu, ia bertekad mengikuti Badwater 135, lomba lari paling berat di dunia. Namun, untuk bisa ikut Badwater, ia harus terlebih dahulu menyelesaikan beberapa lomba 100 mil.

Dalam waktu singkat, ia mendaftar ke sebuah lomba 24 jam dan memaksakan diri untuk berlari sejauh 100 mil. Tanpa latihan. Tanpa persiapan. Bahkan sebelumnya ia tidak pernah berlari lebih dari satu mil selama enam bulan.

Sekitar 25 mil, ia mulai lelah. Di mil ke-50, tubuhnya terasa seperti dihancurkan. Di mil ke-70, dia melihat urine berdarah dan diare di kakinya. Duduk dalam keputusasaan, ia bertanya: "Kenapa aku masih melakukannya?"

Lalu, ia menggali kembali kenangan tentang semua hal mustahil yang pernah ia atasi. Ia mengingat rasa kemenangan. Ia menggunakan perasaan itu sebagai bahan bakar untuk terus melangkah. Meski tubuhnya penuh luka dan darah, ia menyelesaikan 100 mil itu.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore