Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 9 April 2025 | 19.10 WIB

9 Frasa Agresif Pasif yang Sering Digunakan Pasangan Generasi Baby Boomer yang Membuat Cucu-Cucu Mereka Menjauh

Ilustrasi pasangan kakek dan nenek atau generasai baby boomer. (Freepik) - Image

Ilustrasi pasangan kakek dan nenek atau generasai baby boomer. (Freepik)

JawaPos.com - Di tengah perubahan zaman yang terus melaju, ada satu hal yang tetap abadi: cinta antara kakek-nenek dan cucu. Namun, seiring dengan makin lebarnya jurang generasi, cara berkomunikasi pun ikut berubah. Sayangnya, banyak dari kita—terutama para orang tua dan kakek-nenek dari generasi Baby Boomer—yang belum sepenuhnya menyadari bahwa bahasa yang pernah terasa wajar di masa lalu, kini bisa terasa seperti duri bagi generasi muda.

Sebagai seorang kakek, saya belajar dengan cara yang cukup menyakitkan bahwa niat baik tidak selalu berarti dampak baik. Komentar-komentar yang saya anggap ringan dan tidak bermaksud menyakiti, ternyata meninggalkan kesan berbeda bagi cucu-cucu saya. Kadang, cukup dengan satu frasa saja, interaksi hangat bisa berubah menjadi jarak yang sunyi.

Dilansir JawaPos.com dari laman Geediting.com pada Selasa, 8 April 2025. Dalam artikel ini, saya ingin berbagi 9 frasa pasif-agresif yang umum digunakan oleh generasi kami—baik secara sadar maupun tidak—dan mengapa kalimat-kalimat ini dapat secara halus tetapi pasti menjauhkan cucu dari hubungan yang penuh kasih sayang.

1. “Kurasa kamu terlalu sibuk untukku.”

Frasa ini sering terlontar setelah panggilan tak terjawab atau pesan yang lama dibalas. Di permukaan terdengar seperti sebuah kesimpulan sedih, tapi sebenarnya kalimat ini mengandung pesan bersalah tersembunyi: “Kamu harusnya meluangkan waktu untukku.”

Cucu-cucu kita hidup di era yang berbeda. Hidup mereka diisi dengan kegiatan padat, teknologi cepat, dan tekanan sosial yang tak selalu kita pahami. Alih-alih menyudutkan mereka, kita bisa mengatakan:

“Aku kangen ngobrol denganmu. Kapan waktu yang nyaman untuk kamu?”

Pilihlah pendekatan terbuka dan penuh kasih, bukan kalimat yang terdengar seperti keluhan.

2. “Saat aku seusiamu…”

Klasik. Hampir setiap orang tua dan kakek-nenek pernah mengucapkan ini. Tapi kenyataannya, perbandingan lintas generasi hampir tidak pernah adil. Zaman berubah. Realitas hidup saat ini berbeda jauh dengan dekade 1960-an atau 1970-an.

Ucapan seperti, “Waktu saya seumuran kamu, saya sudah menikah dan punya anak,” bisa mengesankan bahwa cucu Anda tertunda atau kurang sukses.

Sebaiknya, tunjukkan rasa ingin tahu tulus:

“Menarik ya dengar kehidupanmu sekarang. Ceritakan lebih banyak—saya ingin mengerti lebih dalam.”

Dengan begitu, Anda membuka ruang dialog, bukan membangun dinding penghakiman.

3. “Aku hanya mengatakan ini untuk kebaikanmu sendiri.”

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore