
Ilustrasi pasangan kakek dan nenek atau generasai baby boomer. (Freepik)
JawaPos.com - Di tengah perubahan zaman yang terus melaju, ada satu hal yang tetap abadi: cinta antara kakek-nenek dan cucu. Namun, seiring dengan makin lebarnya jurang generasi, cara berkomunikasi pun ikut berubah. Sayangnya, banyak dari kita—terutama para orang tua dan kakek-nenek dari generasi Baby Boomer—yang belum sepenuhnya menyadari bahwa bahasa yang pernah terasa wajar di masa lalu, kini bisa terasa seperti duri bagi generasi muda.
Sebagai seorang kakek, saya belajar dengan cara yang cukup menyakitkan bahwa niat baik tidak selalu berarti dampak baik. Komentar-komentar yang saya anggap ringan dan tidak bermaksud menyakiti, ternyata meninggalkan kesan berbeda bagi cucu-cucu saya. Kadang, cukup dengan satu frasa saja, interaksi hangat bisa berubah menjadi jarak yang sunyi.
Dilansir JawaPos.com dari laman Geediting.com pada Selasa, 8 April 2025. Dalam artikel ini, saya ingin berbagi 9 frasa pasif-agresif yang umum digunakan oleh generasi kami—baik secara sadar maupun tidak—dan mengapa kalimat-kalimat ini dapat secara halus tetapi pasti menjauhkan cucu dari hubungan yang penuh kasih sayang.
1. “Kurasa kamu terlalu sibuk untukku.”
Frasa ini sering terlontar setelah panggilan tak terjawab atau pesan yang lama dibalas. Di permukaan terdengar seperti sebuah kesimpulan sedih, tapi sebenarnya kalimat ini mengandung pesan bersalah tersembunyi: “Kamu harusnya meluangkan waktu untukku.”
Cucu-cucu kita hidup di era yang berbeda. Hidup mereka diisi dengan kegiatan padat, teknologi cepat, dan tekanan sosial yang tak selalu kita pahami. Alih-alih menyudutkan mereka, kita bisa mengatakan:
“Aku kangen ngobrol denganmu. Kapan waktu yang nyaman untuk kamu?”
Pilihlah pendekatan terbuka dan penuh kasih, bukan kalimat yang terdengar seperti keluhan.
2. “Saat aku seusiamu…”
Klasik. Hampir setiap orang tua dan kakek-nenek pernah mengucapkan ini. Tapi kenyataannya, perbandingan lintas generasi hampir tidak pernah adil. Zaman berubah. Realitas hidup saat ini berbeda jauh dengan dekade 1960-an atau 1970-an.
Ucapan seperti, “Waktu saya seumuran kamu, saya sudah menikah dan punya anak,” bisa mengesankan bahwa cucu Anda tertunda atau kurang sukses.
Sebaiknya, tunjukkan rasa ingin tahu tulus:
“Menarik ya dengar kehidupanmu sekarang. Ceritakan lebih banyak—saya ingin mengerti lebih dalam.”
Dengan begitu, Anda membuka ruang dialog, bukan membangun dinding penghakiman.
3. “Aku hanya mengatakan ini untuk kebaikanmu sendiri.”

Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Rekomendasi 13 Wisata Terbaik di Bandung untuk Liburan Santai, Healing, dan Quality Time Bersama Orang Tersayang
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
Sebut Sumbar 'Barbar' dan Kristen Fobia, DPP IKM Siap Laporkan Abu Janda ke Mabes Polri Selasa Besok!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
9 Mall Terbaik di Semarang, Selalu Jadi Andalan Wisatawan Saat Liburan Cari Hiburan
