Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 9 Maret 2025 | 02.45 WIB

Diperingati Setiap 8 Maret, Ini Sejarah Awal Hari Perempuan Internasional

Ilustrasi: Hari Perempuan Internasional. (NJEA) - Image

Ilustrasi: Hari Perempuan Internasional. (NJEA)

 
JawaPos.com - International Women's Day (IWD) atau Hari Perempuan Internasional biasa diperingati setiap tanggal 8 Maret. Seperti namanya, Hari Perempuan Internasional atau International Women's Day selalu diperingati dan dianggap penting oleh banyak negara.
 
Kenapa? Jelas karena sejarahnya, yang mana hal tersebut menjadi spirit bagi kiprah para perempuan di seluruh dunia, membuat mereka diakui dan dianggap setara dalam berbagai bidang, tak terkecuali teknologi dan perannya dalam menentukan perekonomian dunia.
 
Mengutip laman International Women's Day, Hari Perempuan Internasional telah diperingati sejak awal tahun 1900-an, dimulai pada masa ekspansi dan pergolakan besar di dunia industri yang menyaksikan ledakan pertumbuhan populasi dan bangkitnya ideologi radikal.
 
 
 
Pada tahun 1908, kerusuhan besar dan perdebatan kritis terjadi di kalangan perempuan. Penindasan dan ketidaksetaraan yang dialami perempuan mendorong mereka untuk lebih vokal dan aktif dalam mengkampanyekan perubahan. 
 
Kemudian pada tahun 1908, 15.000 perempuan berbaris, turun ke jalan di New York City, Amerika Serikat (AS) menuntut jam kerja yang lebih pendek, gaji yang lebih baik, dan hak pilih.
 
Sampai pada tahun 1909, sesuai dengan deklarasi Partai Sosialis Amerika, Hari Perempuan Nasional atau National Women's Day (NWD) pertama diperingati di seluruh Amerika Serikat pada tanggal 28 Februari. Para perempuan terus merayakan NWD pada hari Minggu terakhir bulan Februari hingga tahun 1913.
 
Pada tahun 1910, Konferensi Internasional Perempuan Pekerja kedua diadakan di Kopenhagen. Seorang perempuan bernama Clara Zetkin (Pemimpin 'Kantor Perempuan' untuk Partai Sosial Demokrat di Jerman) mengajukan gagasan tentang Hari Perempuan Internasional. 
 
Ia mengusulkan agar setiap tahun di setiap negara harus ada perayaan pada hari yang sama, yakni Hari Perempuan, untuk memperjuangkan tuntutan mereka. Konferensi yang dihadiri lebih dari 100 perempuan dari 17 negara, yang mewakili serikat pekerja, partai sosialis, komunitas perempuan pekerja dan termasuk tiga perempuan pertama yang terpilih menjadi anggota parlemen Finlandia sampai akhirnya Hari Perempuan Internasional pun lahir.
 
Setelah keputusan yang disetujui di Kopenhagen di Denmark pada tahun 1911, Hari Perempuan Internasional diperingati untuk pertama kalinya di Austria, Denmark, Jerman, dan Swiss pada tanggal 19 Maret. 
 
Lebih dari satu juta perempuan dan laki-laki menghadiri rapat umum Hari Perempuan Internasional yang mengkampanyekan hak-hak perempuan untuk bekerja, memilih, mendapatkan pelatihan, menduduki jabatan publik, dan mengakhiri diskriminasi. 
 
Namun, kurang dari seminggu kemudian pada tanggal 25 Maret, 'Kebakaran Segitiga' yang tragis di Kota New York merenggut nyawa lebih dari 140 perempuan pekerja, kebanyakan dari mereka adalah imigran Italia dan Yahudi. 
 
Peristiwa bencana ini menarik perhatian besar terhadap kondisi kerja dan undang-undang ketenagakerjaan di Amerika Serikat yang menjadi fokus acara-acara Hari Perempuan Internasional berikutnya. Tahun 1911 juga menyaksikan kampanye Bread and Roses yang dilakukan perempuan.
 
Menjelang Perang Dunia I yang mengkampanyekan perdamaian, perempuan Rusia pertama kali merayakan Hari Perempuan Internasional pada tanggal 23 Februari, hari Minggu terakhir di bulan Februari. 
 
Setelah berdiskusi, Hari Perempuan Internasional disetujui untuk diperingati setiap tahun pada tanggal 8 Maret yang diterjemahkan dalam kalender Gregorian yang diadopsi secara luas mulai tanggal 23 Februari, dan hari ini tetap menjadi tanggal global untuk Hari Perempuan Internasional hingga hari ini.
 
Pada tahun 1914 juga, lebih banyak perempuan di seluruh Eropa mengadakan rapat umum untuk mengkampanyekan perlawanan terhadap perang dan untuk mengekspresikan solidaritas perempuan. 
 
Tahun 1975 masuk PBB. Hari Perempuan Internasional diperingati pertama kalinya oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 1975. Kemudian pada bulan Desember 1977, Majelis Umum mengadopsi resolusi yang menyatakan Hari Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Hak-Hak Perempuan dan Perdamaian Internasional yang akan diperingati pada hari apa pun sepanjang tahun oleh Negara-negara Anggota, sesuai dengan tradisi historis dan nasional mereka.
 
PBB juga mengumumkan tema tahunan pertamanya "Merayakan masa lalu, Merencanakan Masa Depan" yang diikuti pada tahun 1997 dengan "Perempuan di meja perdamaian", pada tahun 1998 dengan "Perempuan dan Hak Asasi Manusia", pada tahun 1999 dengan "Dunia Bebas dari Kekerasan terhadap Perempuan", dan seterusnya setiap tahun.
Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore