Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 1 Maret 2025 | 05.40 WIB

Orang yang Akrab Bersama Teman tapi Bermusuhan dengan Saudara Sendiri, Biasanya Terjebak dalam 7 Masalah Ini Menurut Psikologi

Ilustrasi orang sedang sulit untuk berteman. (Freepik) - Image

Ilustrasi orang sedang sulit untuk berteman. (Freepik)

JawaPos.com - Pernah nggak sih ketemu orang yang ramah dan akrab ke teman-temannya, tapi langsung berubah jadi dingin begitu saudaranya muncul? Atau kamu yang mengalaminya sendiri?
 
Faktanya, banyak orang mengalami hal ini karena pengalaman masa kecil—terutama dalam lingkungan keluarga. 
 
Hubungan dengan saudara kandung sering kali terbentuk sejak kecil, dan pola itu nggak selalu hilang saat kita dewasa.
 
Nah, kenapa ada orang yang lebih nyaman sama teman dibanding saudara sendiri? Berikut tujuh alasannya, dikutip dari Geediting, Jumat (28/2).
 
1. Dulu Mereka Sering Dibandingkan atau Dibayangi
 
Pernah punya saudara yang selalu jadi "bintang keluarga"?
 
Misalnya, kakak yang jago olahraga atau adik yang selalu ranking satu. Orang tua sering kasih pujian ke mereka, sementara kita jadi terasa nggak kelihatan.
 
Atau mungkin justru sebaliknya—kita yang selalu lebih menonjol, dan saudara kita merasa minder atau kesal.
 
Perasaan ini bisa terbawa sampai dewasa. Tiap kali ketemu saudara, ada rasa canggung atau bahkan sedikit kesal karena bayang-bayang masa lalu.
 
 
Sedangkan dengan teman, kita nggak harus berhadapan dengan perasaan itu. Nggak ada tekanan, nggak ada perbandingan lama—jadi lebih mudah buat bersikap hangat dan santai.
 
2. Dulu Mereka Harus Bersaing Demi Perhatian Orang Tua
 
Kalau sejak kecil harus selalu rebutan perhatian orang tua, hubungan dengan saudara bisa jadi tegang.
 
Perebutan itu mungkin dulu cuma soal hal kecil—seperti siapa yang lebih sering dipeluk, siapa yang lebih diperhatikan saat sakit, atau siapa yang dapet hadiah lebih banyak. Tapi efeknya bisa bertahan lama.
 
Ketika sudah dewasa, interaksi dengan saudara bisa terasa seperti “kompetisi” yang nggak berakhir.
 
Sementara itu, dengan teman, kita nggak harus bersaing buat diperhatikan. Jadi lebih gampang buat membangun hubungan yang lebih nyaman dan tulus.
 
3. Mereka Dipaksa Dewasa Terlalu Cepat
 
Ada anak yang sejak kecil sudah harus jadi "orang tua kedua" di rumah.
 
Misalnya, anak sulung yang harus mengasuh adik-adiknya, membantu pekerjaan rumah, atau menangani konflik keluarga sebelum waktunya.
 
Buat mereka, saudara kandung bukan cuma keluarga, tapi juga "tanggung jawab".
 
 
Saat dewasa, mereka mungkin masih merasa beban yang sama tiap kali bertemu saudara. Akibatnya, sulit buat bersikap santai dan akrab.
 
Sedangkan dengan teman, mereka nggak perlu memikul tanggung jawab itu. Mereka bisa jadi diri sendiri tanpa harus selalu merasa bertanggung jawab atas orang lain.
 
4. Masa Kecil Mereka Penuh Konflik
 
Kalau rumah sering jadi tempat yang penuh ketegangan—banyak pertengkaran, suasana nggak nyaman, atau orang tua yang sering marah—anak-anak bisa mengaitkan saudara kandung dengan pengalaman buruk itu.
 
Bahkan kalau saudara mereka bukan penyebab langsungnya, tetap saja, keberadaan mereka bisa mengingatkan pada masa-masa sulit.
 
Makanya, beberapa orang lebih memilih menjaga jarak dari saudara dan mencari kenyamanan di tempat lain.
 
Teman, di sisi lain, adalah hubungan yang "bersih" dari memori negatif itu. Bersama mereka, terasa lebih aman dan bebas dari bayangan masa lalu.
 
5. Mereka Sering Dibandingkan Sejak Kecil
 
“Si A lebih pintar.”
“Si B lebih mandiri.”
“Kenapa kamu nggak bisa kayak kakak/adikmu?”
 
Dengar kata-kata ini sejak kecil bisa bikin hubungan dengan saudara jadi canggung.
 
Perbandingan terus-menerus bikin seseorang merasa dirinya harus selalu “membuktikan” sesuatu. Bahkan ketika sudah dewasa, perasaan itu tetap ada—seolah-olah masih berada dalam lomba yang nggak ada akhirnya.
 
Tapi dengan teman? Kita bisa jadi diri sendiri tanpa embel-embel “si anak pintar” atau “si anak pendiam”.
 
Inilah yang bikin banyak orang lebih nyaman membuka diri ke teman dibanding ke saudara kandungnya.
 
6. Ada Konflik Lama yang Nggak Pernah Selesai
 
Kadang masalahnya bukan sekadar perbandingan atau persaingan, tapi ada kejadian di masa lalu yang nggak pernah benar-benar diselesaikan.
 
Mungkin ada yang merasa dikhianati, nggak dibela saat dibully, atau ada kejadian yang meninggalkan luka emosional.
 
 
Masalahnya, kalau konflik ini nggak pernah dibicarakan dan diselesaikan, perasaan negatif bisa tetap ada meskipun mereka sudah dewasa.
 
Sementara itu, teman nggak punya beban sejarah itu. Mereka nggak membawa luka lama yang masih mengganjal, jadi lebih mudah untuk membangun hubungan yang lebih positif.
 
7. Mereka Menemukan Keluarga Kedua di Tempat Lain
 
Beberapa orang sejak kecil sudah menemukan tempat di mana mereka merasa lebih dihargai dan didukung—bisa dari sahabat, guru, komunitas, atau lingkungan lain.
 
Buat mereka, “keluarga” bukan hanya soal darah, tapi soal siapa yang benar-benar memberi rasa nyaman dan pengertian.
 
Kalau sejak kecil sudah punya support system di luar rumah, wajar saja kalau saat dewasa mereka lebih dekat dengan teman daripada dengan saudara.
 
Bukan berarti mereka membenci saudaranya—hanya saja, hubungan dengan teman terasa lebih alami dan hangat.
Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore