
Ilustrasi telusuri apa yang sebenarnya terjadi saat kita mengubah tujuan menjadi topik pembicaraan dan mengapa tujuan lebih baik dirahasiakan.
JawaPos.com - Memberitahu orang lain tentang rencana besar mungkin tampak tidak berbahaya, bahkan mungkin membantu untuk tetap bertanggung jawab. Namun, kenyataannya, hal ini dapat menjadi bumerang dengan cara yang mengejutkan.
Kamu mungkin akan termotivasi setelah mengumumkan dan berbagi tujuan dengan orang-orang di sekitarmu. Namun, anehnya, euforia itu tampaknya tidak pernah terwujud dalam upaya berkelanjutan.
Beberapa orang sering kali mengalami kehilangan semangat untuk mencapai tujuannya setelah mengumumkannya di depan umum. Wawasan psikologi dapat menunjukkan bahwa hal ini bukanlah suatu kebetulan.
Dilansir dari Hack Spirit, mari kita telusuri apa yang sebenarnya terjadi saat kita mengubah tujuan menjadi topik pembicaraan dan mengapa tujuan lebih baik dirahasiakan.
1. Rasa pencapaian yang salah
Anda bahkan belum mulai mengambil langkah nyata, tetapi ada perasaan puas yang aneh hanya dengan mengucapkannya lantang. Itu bukan hanya imajinasi Anda.
Dalam studi terkenal tahun 2009, psikolog Peter Gollwitzer menemukan bahwa saat orang mengungkapkan niatnya secara publik, kecil kemungkinan mereka akan menindaklanjutinya.
Hal ini karena membicarakan tujuan dapat menciptakan perasaan selesai sebelum waktunya. Otak kita mudah tertipu untuk berpikir bahwa pengakuan sosial yang kita terima adalah pengganti kemajuan yang sebenarnya.
Setiap kali mereka mengutarakan tujuan terlalu cepat, mereka akan merasa seolah-olah sudah setengah jalan mencapai tujuan itu. Namun kepercayaan diri sejak dini itu tidak diwujudkan dalam kerja keras sehari-hari untuk mencapainya.
Ini membuatnya mulai mengandalkan tingginya persetujuan eksternal, ketimbang kepuasan nyata yang datang dari membuat kemajuan nyata. Ini seperti membanggakan diri telah berlari maraton bahkan sebelum mulai berlatih.
Membicarakannya memang terasa menyenangkan pada awalnya, tetapi tidak akan membuat Anda semakin dekat dengan garis finis.
2. Validasi eksternal dapat menggagalkan dorongan
Kita pada hakikatnya adalah makhluk sosial, jadi saat seseorang memuji aspirasi kita, kita akan merasakan ledakan zat kimia yang menimbulkan perasaan senang.
Seperti yang dikemukakan oleh Carl Rogers, salah satu pendiri psikologi humanistik, individu mencari penghargaan positif dari orang-orang di sekitarnya.
Saat kita berbagi tujuan kita, kita sering kali langsung mendapat tepukan di punggung, yang dapat menggantikan motivasi yang lebih dalam dan didorong dari diri sendiri untuk membuat kita terus maju dalam jangka panjang.

Kapolri Kenang Warisan Bung Karno, Tegaskan Semangat Pemimpin Bangsa Harus Terus Dijaga
Prediksi Skor Ekuador vs Curacao di Piala Dunia 2026: La Tri Wajib Menang demi Lolos ke Babak 32 Besar
Prediksi Skor Jerman vs Pantai Gading di Piala Dunia 2026: Ujian Sesungguhnya Die Mannschaft di Grup E
BGN Terbitkan SE Nomor 12 Tahun 2026, Layanan MBG Dihentikan Sementara saat Hari Libur
Gabriel Budi Blak-blakan, Agen Pemain Persebaya Surabaya Ungkap Sosok Paling Berkesan
Prediksi Susunan Pemain Timnas Brasil vs Haiti: Danilo Ingin Selecao Kuasai Permainan
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
TVRI Hilang? Begini Cara Memunculkan Sinyal TVRI untuk Nonton Piala Dunia 2026 Gratis
Jadwal Moto3 Ceko 2026! Veda Ega Pratama P14 dan Langsung Lolos Q2
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
