Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 18 Februari 2025 | 00.56 WIB

Psikologi Pola Asuh: Orang yang Bisa Menjadi Orang Tua Berkualitas Biasanya Memiliki 8 Ciri Kepribadian Ini

Ilustrasi. (pexels.com) - Image

Ilustrasi. (pexels.com)

JawaPos.com - Beberapa orang tampaknya punya insting alami dalam mengasuh anak, sementara yang lain merasa kewalahan. Apa yang membuat perbedaan? Jawabannya sering kali ada pada kepribadian. 

Calon orang tua berkualitas biasanya memiliki ciri kepribadian tertentu yang memungkinkan mereka membangun hubungan dengan anak secara sehat. Mereka membesarkan mereka dalam lingkungan yang penuh rasa aman, dukungan, dan kasih sayang.

Kalau kamu bertanya-tanya apakah kamu punya sifat tersebut, dilansir dari laman News Reports pada Senin (17/2), berikut adalah delapan ciri kepribadian yang dimiliki orang tua berkualitas menurut psikologi pola asuh.

1. Mereka Responsif Secara Emosional

Psikolog John Bowlby, yang terkenal dengan teori keterikatannya, pernah mengatakan bahwa anak-anak memiliki kebutuhan akan kasih sayang yang sama kuatnya dengan kebutuhan akan makanan. Dengan kata lain, perhatian emosional itu bukan sekadar bonus, tetapi kebutuhan dasar.

Calon orang tua berkualitas mampu merespons emosi anak dengan penuh empati. Mereka peka terhadap perasaan anak, tidak meremehkan ketakutan atau kesedihan mereka, dan selalu memastikan bahwa anak merasa didengar dan dimengerti.

2. Mereka Tetap Tenang Saat Berada di Bawah Tekanan

Mengasuh anak itu penuh kejutan seperti tumpahan susu di sofa, tantrum di tempat umum, atau pertanyaan aneh di tengah malam. Tapi orang tua yang berkualitas tahu bagaimana mengelola emosi mereka.

Alih-alih langsung marah atau frustrasi, mereka memilih untuk tetap tenang dan sabar. Dengan begitu, anak belajar bagaimana mengatur emosi mereka sendiri dari contoh yang diberikan.

3. Mereka Mengakui Ketika Mereka Salah

Orang tua bukan makhluk sempurna, dan calon orang tua berkualitas memahami hal itu. Mereka tidak takut mengakui kesalahan, meminta maaf, dan menunjukkan bahwa membuat kesalahan itu normal.

Ini bukan hanya soal tanggung jawab, tetapi juga pelajaran hidup bagi anak bahwa membuat keputusan buruk bukan berarti kamu adalah orang yang buruk.

4. Mereka Menetapkan Batasan dengan Cinta

Psikolog Erik Erikson pernah berkata bahwa anak-anak ingin dicintai, tetapi mereka juga ingin merasa berhasil. Salah satu cara membimbing mereka ke arah tersebut adalah dengan menetapkan batasan yang jelas namun tetap penuh kasih sayang.

Batasan membantu anak belajar tentang tanggung jawab dan konsekuensi tanpa merasa terkekang. Orang tua berkualitas tahu bagaimana menegakkan aturan dengan konsisten tanpa membuat anak merasa takut atau tidak dicintai.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore