Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 6 Desember 2024 | 13.42 WIB

4 Kebiasaan Orang yang Mengambil Sikap, Meski Sulit

Seseorang bersikap tenang meski diselimuti masalah. (Freepik)

JawaPos.com - Mengambil sikap tidak selalu mudah, terutama ketika peluang ditumpuk melawan Anda. Perbedaan antara mereka yang mundur dan mereka yang bertahan terletak pada kebiasaan yang telah mereka kembangkan. Kebiasaan ini memberdayakan mereka untuk tetap mengikuti kursus, bahkan saat itu menantang.

Orang-orang yang secara konsisten mengambil sikap memiliki ciri-ciri umum tertentu yang membedakan mereka. Dan kabar baiknya? Sifat-sifat ini dapat dipelajari dan dipraktikkan. Dalam artikel ini, kita akan mengeksplorasi 4 kebiasaan orang yang tidak segan-segan mengambil sikap, meskipun sulit. Saya harap wawasan ini akan menginspirasi Anda untuk menemukan suara Anda sendiri dan membela apa yang Anda yakini.  Berikut 4 kebiasan orang yang gemar mengambil sikap, dikutip dari hackspirit pada Jumat (6/12).

1) Mereka teguh dalam keyakinan

Mengambil sikap tidak pernah mudah. Namun bagi sebagian orang, hal itu tampak hampir wajar. Itu karena mereka memiliki landasan keyakinan dan nilai yang kuat yang mereka tolak untuk dikompromikan. Ini bukan tentang menjadi kaku atau keras kepala. Ini tentang memiliki pemahaman yang jelas tentang apa yang benar dan salah, dan keberanian untuk menegakkan standar-standar ini bahkan dalam menghadapi kesulitan.

Orang-orang yang secara konsisten membela apa yang mereka yakini tidak terpengaruh oleh opini atau kenyamanan populer. Sebaliknya, mereka tetap setia pada keyakinan mereka, meskipun itu berarti melawan arus. Ingat, ini bukan tentang menjadi pelawan demi itu. Ini tentang membela apa yang benar-benar Anda yakini, terlepas dari betapa sulitnya itu.

2) Mereka tidak takut merasa tidak nyaman

Satu hal yang saya pelajari dalam perjalanan saya adalah bahwa zona nyaman hanya itu-nyaman. Tetapi mereka jarang mengarah pada pertumbuhan atau kemajuan. Saya ingat saat saya bekerja dalam tim di mana keputusan dibuat yang tidak saya setujui. Lebih mudah bergaul dengan mayoritas, menjaga kedamaian dan menjaga persahabatan. Tapi setiap kali saya melakukannya, itu menggerogoti saya. Kemudian tiba saatnya ketika saya tidak bisa mengabaikannya lagi.

Jadi, saya memilih ketidaknyamanan. Saya menyuarakan ketidaksetujuan saya, mengetahui hal itu akan mendapat perlawanan. Dan itu tidak nyaman: ada diskusi panas dan hubungan yang tegang. Tetapi mempertahankan pendirian saya, meskipun itu sulit, memberi saya rasa integritas yang tidak pernah bisa diberikan oleh kenyamanan. Saya belajar bahwa tidak apa-apa untuk merasa tidak nyaman jika itu berarti membela apa yang benar. Orang-orang yang terbiasa mengambil sikap memahami hal ini. Mereka tahu bahwa ketidaknyamanan adalah harga kecil yang harus dibayar untuk tetap setia pada prinsip mereka.

3) Mereka mempraktikkan empati

Empati lebih dari sekadar memahami perasaan orang lain. Ini tentang berbagi perasaan itu, melihat dunia dari sudut pandang mereka. Kemampuan ini membantu orang yang mengambil sikap untuk terhubung dengan orang lain pada tingkat yang lebih dalam. Sangat menarik untuk dicatat bahwa ahli saraf telah menemukan bahwa otak kita memiliki neuron spesifik, yang disebut neuron cermin, yang memungkinkan kita memahami dan mencerminkan emosi orang lain. Ini berarti empati tertanam dalam diri kita. Orang yang terbiasa berempati dengan orang lain mampu membangun hubungan yang lebih kuat, menumbuhkan komunikasi yang terbuka, dan menciptakan suasana saling menghormati dan pengertian. Hal ini, pada gilirannya, memudahkan mereka untuk tetap pada pendiriannya, karena tindakan mereka berakar pada pemahaman yang mendalam tentang perspektif yang berbeda.

4) Mereka berkomunikasi secara efektif

Komunikasi yang efektif adalah ciri utama orang-orang yang secara konsisten mengambil sikap. Mereka membuat poin mereka dengan jelas dan ringkas, memastikan pesan mereka tidak hilang dalam lautan kata-kata. Tetapi lebih dari sekadar berbicara, komunikasi yang efektif juga melibatkan mendengarkan secara aktif. Ini tentang memahami sudut pandang orang lain, mengajukan pertanyaan klarifikasi, dan menanggapi dengan serius.

Kemampuan untuk terlibat dalam dialog yang bermakna ini memungkinkan mereka untuk mengekspresikan pendirian mereka dengan cara yang menghormati dan menghargai perspektif orang lain. Bahkan ketika ketidaksepakatan muncul, mereka berhasil mempertahankan kesopanan percakapan, membuatnya tetap fokus pada masalah yang dihadapi daripada beralih ke serangan pribadi atau ledakan emosi. Intinya, kemampuan komunikasi mereka yang efektif membantu mereka menavigasi situasi yang menantang dengan anggun dan tekad.

Editor: Kuswandi
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore