
Ilustrasi hubungan yang toxic. (Pexels)
JawaPos.com – Ketika seseorang menjalani sebuah hubungan yang toxic, itu tidak hanya membuat mereka stres, tetapi juga mengakibatkan kelelahan fisik maupun mental. Mereka akan menjalani hari-hari dengan perasaan yang tidak aman dan menantang.
Namun, meninggalkan hubungan yang toxic atau beracun adalah proses yang sangat rumit karena bukan hanya fisik yang terlibat di dalamnya, tetapi juga berbagai keterikatan emosional ikut terlibat.
Jadi, perlunya banyak dukungan emosional dari orang-orang terkasih dan orang-orang disekitar mereka. Dukungan ini bisa berupa dorongan emosional atau memberikan pemahaman yang mampu menyadarkan mereka untuk membuat keputusan.
Dilansir dari Times of India, Arouba Kabir, seorang ahli Kesehatan Mental dan Emosional mengungkapkan beberapa alasan mengapa orang tidak mudah meninggalkan hubungan yang toxic.
Orang-orang yang bertahan dalam hubungan yang toxic cenderung memiliki harga diri yang rendah sejak awal atau seiring berjalannya waktu. Hal ini karena kekerasan dapat mengikis harga diri seseorang dan membuat mereka merasa tidak mampu bertahan hidup secara mandiri.
Mereka mungkin memendam hal-hal negatif yang mereka alami dalam diri atau ingatan mereka, sehingga mengarah pada rasa tidak berdaya atau pasrah dengan keadaan. Ini membuat mereka takut untuk memutuskan sebuah hubungan yang toxic.
Baca Juga: Pahami Manipulasi Emosi, 5 Perilaku atau Ciri Khas Paling Mencolok dari Orang-Orang Toxic
Harapan masyarakat, kepercayaan agama, dan norma budaya seringkali membuat seseorang tidak ingin meninggalkan hubungan, terutama dalam status pernikahan, meskipun hubungan tersebut toxic.
Mereka mungkin takut dihakimi, dipermalukan, atau dikucilkan dari keluarga atau komunitas mereka jika meninggalkan hubungan tersebut, terutama jika mereka memiliki anak. Mereka juga tidak ingin dipandang gagal dalam menjalin hubungan oleh orang lain.
Perilaku kasar atau dingin sudah umum terjadi dalam hubungan yang toxic. Hubungan toxic ini akan penuh dengan kekerasan yang tidak berlangsung hanya 24/7, karena adanya siklus kekerasan dan kasih sayang.
Kondisi ini juga selalu menunjukkan kebaikan dan penyesalan pelaku secara berkala, sehingga sulit untuk meninggalkannya. Penguatan yang terputus-putus ini memperkuat keterikatan emosional dengan pelaku kekerasan, sehingga korban sulit melepaskan diri.
Baca Juga: Pahami Manipulasi Emosi, 5 Perilaku atau Ciri Khas Paling Mencolok dari Orang-Orang Toxic
Orang yang bertahan dalam hubungan toxic memiliki harapan dalam berpegang teguh pada perubahan atau hubungan yang membaik dengan pasangan. Terutama jika pelaku kekerasan meminta maaf, berjanji untuk menjadi lebih baik, atau menunjukkan penyesalan.
Siklus kekerasan dan rekonsiliasi dalam hubungan ini dapat menciptakan keterikatan yang sulit untuk dilepaskan. Hal ini membuat korban terus berharap bahwa akan ada perubahan dalam diri atau hubungan yang lebih baik di kemudian hari.
Dalam banyak hubungan yang penuh dengan kekerasan, ada ketakutan yang nyata akan pembalasan jika orang tersebut mencoba untuk pergi atau memutuskan hubungan secara sepihak.

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Profil Irjen Pipit Rismanto, Pati Polri yang Diungkap IPW Diduga Diperiksa Propam Polri Terkait Dugaan Korupsi Pertambangan
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
Resmi! Veda Ega Pratama Kena Long Lap Penalty, Peluang Podium Moto3 Hungaria 2026 Terancam?
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Isu Reshuffle Kabinet Sempat Mencuat, Siapa Saja Menteri Berpotensi Diganti oleh Presiden Prabowo?
