
Ilustrasi seseorang dengan pemikiran Toxic Positivity.
JawaPos.com - Memiliki pemikiran positif dalam segala sesuatu memang hal yang baik dalam menjalani kehidupan. Akan tetapi, pemikiran positif yang berlebih dalam hidup seringkali jadi racun bagi diri sendiri.
Hal tersebut disebut sebagai toxic positivity. Dilansir dari Very Well Mind, Toxic positivity adalah keyakinan bahwa seseorang harus mempertahankan pemikiran positif setiap saat. Tidak peduli seberapa buruk atau sulit sebuah situasi, pemikiran positif tetap harus dikeluarkan oleh seseorang tersebut.
Pemikiran positif memang membawa pengaruh baik bagi seseorang. Akan tetapi sesuai namanya, pemikiran positif ini bisa saja menjadi racun bagi seseorang. Hal ini dikarenakan sikap toxic positivity menolak dan menyingkirkan semua pemikiran buruk dan memasang topeng bahwa semuanya berjalan dengan positif.
Pemikiran ini tidak baik apabila dipelihara secara terus menerus. Hal ini dikarenakan pemikiran toxic positivity membawa sikap positif hingga ke titik berlebihan. Dilansir dari Psychology Today, dalam jangka panjang perasaan ini dapat menghalangi proses emosi seseorang.
Dengan penyangkalan secara terus menerus akan emosi yang tidak baik, seseorang jadi tidak memiliki dukungan yang diperlukan dalam menghadapi keadaan yang terjadi. Misalnya, ketika seseorang mngelami musibah, toxic positivity yang disampaikan orang adalah bukan untuk menanggulangi amsalah yang ada namun justru "lihat sisi positifnya" atau "jangan terlalu lama berlarut di perasaan negatif".
Dilansir dari Psychology Today, istilah ini bukanlah diagnosis psikologi resmi. Meski begitu, toxic positivity adalah hal yang harus dihindari dan disingkirkan demi kesehatan mental yang baik.
Tentu ada hal-hal yang bisa dilakukan untuk menyingkirkan pemikiran-peimikiran toxic positivity. Berikut ada beberapa hal yang bsia dilakukan untuk menyingkirkan toxic positivity:
1. Tidak Menolak Pemikiran Negatif
Pertama, kamu harus menanamkan pemikiran untuk tidak menolak segala sesuatu hal yang negatif. DIlansir dari Very Well Mind, kembangkan pemikiran bahwa tidak apa-apa apabila merasa buruk atau tidak baik-baik saja.
Ketimbang terus menerus menyingkirkan dan merasa bahwa pikiran negatif itu salah, lebih realistis untuk menyadari dan menerima bahwa dalam hidup kadang-kadang perasaan negatif itu diperlukan.
2. Kelola Emosi dengan Baik
Ketika sudah memahami bahwa pemikiran atau emosi negatif itu tidak apa-apa untuk eksis dalam hidup, langkah selanjutnya adalah mengelolanya. Dilansir dari Very Well Mind, emosi negatif yang tidak dikelola bisa menumpuk stres dalma tubuh.
Hal ini tentu tidak diinginkan oleh seseorang yang ingin kesehatan mentalnya terjaga dan hidup dengan baik-baik saja di masa depan. Emosi harus bisa kamu kelola dengan baik demi kesehatan mental yang baik.
3. Dorong Ungkapan Emosi
Kamu juga harus mendorong ungkapan emosi dilakukan. Dilansir dari Forbes, pengungkapan perasaan dan pikiran yang tidak baik diperlukan untuk menghindari toxic positivity.

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
