Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 25 Mei 2024 | 05.10 WIB

Simak 4 Pola Asuh Orang Tua dan Pengaruhnya terhadap Masa Depan Anak, Nomor 3 Menyebabkan Prestasi Akademis Menjadi Buruk

Ilustrasi keluarga (Freepik)


JawaPos.com - Penelitian telah mengidentifikasi 4 jenis pola asuh berdasarkan seberapa menuntut orang tua terhadap anak mereka dan seberapa responsif mereka terhadap anak-anak.

Pola asuh tersebut ternyata berpengaruh besar terhadap masa depan anak-anak. Tak hanya itu, prestasi akademis anak juga bisa menjadi buruk jika menghadapi pola asuh yang tidak sesuai.

Dikutip dari Brightside.me, Jumat (24/5), simak pola asuh orang tua dan pengaruhnya terhadap masa depan anak.

1. Tegas dan Suka Mengontrol Atau Otoriter

Baca Juga: BPD Harus Aktif Melayani Masyarakat dan Membangun Sinergi dengan Pemda Sidoarjo
Orang tua yang otoriter sangat ketat dan mengontrol. Anak-anak harus mengikuti aturan mereka secara membabi buta tanpa bertanya apapun.

Bernegosiasi dengan jenis orang tua ini bukanlah sebuah pilihan lantaran akan dianggap melawan. Mereka tidak mempertimbangkan perasaan dan pendapat anak-anaknya.

Ketika anak melanggar aturan tertentu, mereka tak segan memberikan hukuman daripada menerapkan disiplin. Bagi mereka, cara pengasuhan ini dapat lebih mempersiapkan anak untuk menghadapi dunia yang sebenarnya.

Sayangnya, pola asuh seperti ini bisa sangat merugikan anak. Anak-anak justru menjadi kurang mandiri, lebih merasa tidak aman, mempunyai masalah dengan harga diri, hingga memiliki keterampilan sosial yang buruk.

Hal ini dapat terjadi lantaran pendapat sang anak tidak dihargai ketika mereka masih kecil dan karena orang tua selalu memutuskan segala sesuatu untuk anaknya. Selain itu, pola asuh otoriter juga dapat membuat anak menjadi agresif dan otoriter dalam hubungan yang dijalin di kemudian hari.

Anak-anak yang tumbuh dengan pola asuh ini tidak bisa belajar membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Hal ini lantaran mereka tidak pernah diberi penjelasan apapun.

Tak hanya itu, mereka juga bisa menjadi pembohong lantaran selalu ingin menghindari hukuman. Di sisi lain, mereka mempunyai masalah dengan pengendalian diri lantaran menghadapi peraturan yang ketat.

2. Penuh Perhatian dan Demokratis


Orang tua otoritatif mirip dengan orang tua otoriter karena mereka juga menetapkan batasan dan membuat aturan. Namun, hal yang membedakan adalah mereka menjelaskan tindakan dan keputusannya kepada anak-anaknya.

Mereka lebih perhatian dan mempertimbangkan pikiran serta emosi anak-anaknya. Dalam mendidik anak, mereka tidak menghukum dan justru lebih menerapkan disiplin serta memperkuat perilaku yang baik.

Pola asuh ini disebut juga demokratis karena anak diperbolehkan mengutarakan pendapatnya dan berdiskusi secara sehat dengan orang tua. Selain itu, orang tua yang berwibawa juga menggunakan banyak energi untuk perkembangan anak, tetapi mereka tidak terlalu mengontrol.

Orang tua tidak mempermasalahkan dan tidak memberi hukuman jika anak-anak melakukan kesalahan. Bagi mereka, hal terpenting adalah anak-anak belajar dari kesalahan tersebut.

Anak-anak yang mempunyai orang tua berwibawa akan lebih mandiri dan percaya diri. Mereka lebih baik dalam mengambil keputusan sendiri dan mempunyai keterampilan komunikasi yang baik.

Selain itu, mereka juga memiliki pengendalian diri dan keterampilan emosional yang lebih baik serta lebih berempati. Semua keterampilan ini dapat membantu anak menjadi sukses dalam hidup.

3. Terlalu Toleran

Baca Juga: Lupa Sebut Nama Ganjar saat Rakernas PDIP di Ancol, Megawati: Sengaja Disembunyikan Belum Pensiun

Orang tua yang lalai hampir tidak terlibat dalam kehidupan anak-anaknya. Mereka hanya memberikan pengaruh kecil terhadap perkembangan anak.

Selain itu, mereka juga tidak menetapkan banyak aturan atau tidak memberikan dukungan maupun bimbingan yang cukup kepada anak-anak. Mereka berharap anak-anak bisa membesarkan diri sendiri.

Kendati demikian, sikap mengabaikan tersebut tidak selalu disengaja. Hal ini sering terjadi dalam keluarga ketika orang tua kewalahan dengan masalahnya sendiri, entah sedang stres di tempat kerja atau mengalami masalah kesehatan mental.

Anak yang tumbuh dengan pola asuh ini dinilai memiliki masalah terkait harga diri dan prestasi akademis. Mereka kesulitan untuk mengendalikan emosi sehingga membuat anak menjadi impulsif.

Di sisi lain, anak juga sulit untuk mengikuti aturan, berkomunikasi, dan menjalin hubungan dekat dengan orang lain karena mereka tidak mendapatkan cinta dan dukungan dari orang tua saat masih kecil.

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore