Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 10 November 2018 | 15.00 WIB

Songket Sambas Disulap Menjadi Karya Menarik Oleh Dua Desainer IFC

Songket Sambas Kalimantan Barat tampil dalam ragam busana kontemporer di ajang Jakarta Fashion Trend 2019. - Image

Songket Sambas Kalimantan Barat tampil dalam ragam busana kontemporer di ajang Jakarta Fashion Trend 2019.

JawaPos.com - Indonesia terkenal akan kain-kain tradisionalnya. Jika diolah dengan tepat, cantiknya kain tradisional bisa menjadi tren mode kekinian di tanah air bahkan dunia.


Pada pagelaran fashion show Jakarta Fashion Trend 2019 gagasan Indonesian Fashion Chamber (IFC), menampilkan koleksi busana dari kain Songket dari Kalimantan Barat yang kerap disebut 'Kain Lunggi' atau kain benang emas. Busana tersebut berasal dari karya dua desainer anggota IFC Chapter Jakarta yaitu Chaera Lee dan Wignyo Rahadi.


Kedua desainer menggunakan kain Songket Sambas hasil binaan Bank Indonesia provinsi Kalimantan Barat , yang di buat oleh penenun Desa Sumber Harapan Kabupaten Sambas.


Mereka mengaplikasikan Indonesia Trend Forecasting 2019/2020 bertema Singularity dengan mensinergikan antara kekuatan konten lokal yakni melalui penggunaan kain tradisional Songket Sambas dan desain berkonsep urban kontemporer serta warna yang mengacu pada tren global.


Desainer Chaera Lee menampilkan koleksi modest wear bertema 'Filantropility' dalam pilihan gaya abaya, celana, dan tunik serta dipadu dengan outer yang bernuansa romantik dengan permainan draperi yang ringan. Songket Sambas yang memiliki karakter kuat serta pilihan warna terang seperti ungu dan merah dikombinasikan dengan bahan yang terkesan lembut seperti satin silk, chiffon silk, dan tulle dalam warna yang senada maupun kontras.


Desainer Wignyo Rahadi menghadirkan koleksi ready to wear bergaya kontemporer bertema 'Sintas' berupa modifikasi blouse dengan celana, dan cape maupun coat. Wignyo menggunakan material Songket Sambas yang dipadu-padankan dengan tenun Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) hasil kreasinya.


Songket Sambas warna merah marun dikombinasikan secara kontras dengan tenun ATBM warna kuning. Sedangkan Songket Sambas warna biru diselaraskan dengan tenun ATBM warna senada. Motif geometris pada bagian tumpal Songket Sambas serta rumbai yang menjadi penghias ujung kain Songket Sambas ditonjolkan sebagai ornamen. Permainan draperi dan potongan asimetris untuk menciptakan kesan elegan yang dinamis.


Mengkombinasikan songket juga terbilang perlu perhatian khusus, karena songket Sambas terbilang beragam. Salah satu motif yang menjadi ciri khas adalah Pucuk Rebung atau masyarakat setempat menyebutnya 'Suji Bilang' yang berbentuk segitiga runcing serupa bentuk puncak tunas bambu atau rebung.


Motif Pucuk Rebung mengandung makna filosofis, yakni sebagai pengingat agar masyarakat Sambas berupaya untuk terus maju seperti halnya pucuk rebung yang terus bertumbuh. Selain Pucuk Rebung yang digunakan sebagai tumpal (kepala) pada kain, Songket Sambas umumnya menggunakan motif bunga pada bagian badan (tengah) kain, antara lain Bunga Cengkeh dan Bunga Cempaka.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore