Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 1 Juli 2019 | 19.36 WIB

Soal Peran Ayah ASI, AIMI: Bikinnya Berdua, Ngurusnya Juga Berdua!

Ilustrasi bayi bersendawa. Sendawa bayi setelah menyusu ternyata sangat penting bagi bayi. (boldsky) - Image

Ilustrasi bayi bersendawa. Sendawa bayi setelah menyusu ternyata sangat penting bagi bayi. (boldsky)

JawaPos.com - Hamil, melahirkan, dan menyusui memang sudah kodrat seorang perempuan. Perjuangan perempuan yang panjang hingga 2 tahun memenuhi kecukupan ASI buah hati bukan hanya menjadi tugasnya tunggal seorang diri. Butuh peran pria, ayah, atau suami dalam menjamin ketersediaan ASI.

ASI adalah makanan terbaik untuk bayi dan wajib diberikan eksklusif sampai usia 6 bulan. Selanjutnya, untuk mendukung pertumbuhan 1000 hari pertama, ibu melanjutkan pemberian ASI hingga anak berusia 2 tahun dengan didukung pemberian tambahan makanan Makanan Pendamping ASI (MPASI).

Ketua Umum Asosiasi Menyusui Indonesia (AIMI) Nia Umar menjelaskan bahwa proses menyusui harus dilakukan oleh kedua orang tua si bayi. "Harus di-highlight bahwa nggak hanya ibunya, tapi juga ayahnya. Sesuai tagline ayah ASI 'Bikinnya Berdua, Ngurusnya Juga Berdua!'," katanya kepada JawaPos.com, Senin (1/7).

Menurut Nia, menyusui menjadi hak ibu dan bayi. Sementara kewajibannya bukan pada perempuan saja, tetapi pada orang-orang di sekitarnya. Paling terdekat tentu peran suami. Bahkan pengaruhnya sangat besar. Menurut Nia, keberhasilan ASI 50 persennya ditentukan oleh suami.

"Besar sekali pengaruhnya, pegiat ayah ASI di Indonesia banyak melakukan terobosan dan berpegang teguh pada komitmen. Itu penting," katanya.

Faktor pendukung lain yang membuat seorang ayah juga harus bisa menjadi ayah ASI adalah alasan agama. Nia menjelaskan pemberian ASI hingga usia 2 tahun juga dituangkan dalam ajaran agama. Begitu pula kewajiban suami dalam menafkahi istri dan anak-anaknya, ASI adalah salah satu jalan untuk memenuhi kewajiban tersebut.

"Ketika suami dan istri bercerai, anak harus tetap menyusui. Dukungan menyusui sangat penting. Maka kami menyambut baik tema pekan ASI sedunia yang memberdayakan orang tua untuk pemberian ASI," tuturnya.

Nia menjelaskan, ayah bisa tetap melakukan bonding atau membentuk ikatan dari hati ke hati dengan anaknya dengan pola asuh lainnya. Misalnya dengan mengajak anak main, memandikan anak, menggendong agar sendawa, memberikan MPASI, atau memberi ASI perah ketika sang ibu sedang di luar rumah.

"Dukungan suami bisa mempengaruhi ASI ya, hormon-hormon yang berkaitan dengan ASI bisa bekerja baik maka ibu perlu nyaman dan happy," jelasnya.

Salah satu cara untuk mendukung produksi ASI yang bisa dilakukan suami adalah dengan memijat sang istri agar bisa lebih nyaman dan rileks. Pijatan bisa memengaruhi hormon-hormon menjadi lebih aktif.

"Ada banyak titik yang jika dipijat membuat kerja hormon oksitosin lebih aktif. Makanya setiap kali seminar kami senang sekali saat ini semamkin banyak ayah atau suami yang ikutan datang, bisa praktik langsung," katanya.

Jika sedang terjadi konflik, Nia menyarankan agar pasutri sama-sama mencari solusi terbaik untuk berkomunikasi demi bayi mereka. "Cari solusi tepat, tenang dulu, dan jangan berantem sambil menyusui. Cari tempat tenang," paparnya.

 

Penjelasan Medis Seputar Ayah ASI

 

Dokter Spesialis Anak dari RSAB Harapan Kita dr. Lucia Nauli Simbolon, SpA, menjelaskan, ayah ASI berperan penting untuk mendukung istri memberikan ASI untuk buah hati. Istri yang stres bisa membuat jumlah ASI terganggu.

"Ayah harus positive thinking. Bisa melakukan pijatan dari punggung sampai ke arah payudara akan membuat hormon rileks. Itu akan membantu. Jangan bilang 'Duh, ASI-nya enggak cukup nih,'. Kata-kata itu bisa bikin ASI langsung mandek betulan," jelas Lucia.

Adanya pembagian tugas agar istri lebih lelap beristirahat juga akan membantu produksi ASI lebih banyak. "Saat malam hari biarkan istri tidur saat sudah sangat mengantuk. Gantian suami yang menimang-nimang bayinya," jelasnya.

Dukungan obat-obat herbal untuk membantu meningkatkan produksi ASI, kata dia, sifatnya hanya sebagai pendukung. Misalnya daun katuk dan susu almond yang saat ini sedang populer.

"Mau makan katuk 1 ton kalau ayahnya nggak banyak bantu, tetap saja ASI enggak cukup," tukasnya.

Selain itu, kata Lucia, ternyata 60 persen kegagalan ASI disebabkan oleh posisi memberikan ASI yang tak tepat. Makanya, orang tua harus tetap kontrol membawa bayinya usai melahirkan untuk pergi ke dokter agar mengevaluasi pemberian ASI.

"Seminggu pertama hingga satu bulan itu ibu mengenal karakter mengenyot ASI pada anak. Ada yang maunya sedikit-sedikit tapi sering, ada yang maunya lama tapi tidurnya juga lama. Itu sebabnya penting untuk rutin kontrol ke dokter usai melahirkan," tegasnya.

Editor: Banu Adikara
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore