Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 11 April 2019 | 23.12 WIB

Perkenalkan Indahnya Kabupaten Nagekeo NTT Lewat Kekayaan Motif Tenun

Fashion show butik Levico menampilkan koleksi kain tenun Nagekeo NTT. (Rieska Virdhani/JawaPos.com) - Image

Fashion show butik Levico menampilkan koleksi kain tenun Nagekeo NTT. (Rieska Virdhani/JawaPos.com)

JawaPos.com - Nusa Tenggara Timur (NTT) memang sudah dikenal lewat kekayaan kain tenun yang dikerjakan oleh para perajin lokal. Berbagai motif tenun tersebut dikerjakan dengan memakan waktu berbulan-bulan dan menceritakan berbagai suasana hati para perajin yang didominasi kaum ibu di NTT. Provinsi di Timur Indonesia ini mempunyai 22 kabupaten/kota, dan masing-masing memiliki motif tenun yang cantik dan unik. Salah satunya Kabupaten Nagekeo.

Kabupaten Nagekeo merupakan kabupaten baru sebagai pemekaran dari Kabupaten Ngada sejak tahun 2007 dan memiliki kekayaan selain tenun yakni penghasil beras, garam, serta kekayaan pariwisata. Oleh karena itu, lewat tenun, Festival Literasi Nagekeo digelar tahun ini.

"Literasi bukan sekedar buku. Misalnya lewat tenun kami ajarkan agar jangan sampai motif terbalik di kainnya. Bagaimana makna dan filosofi motifnya. Dari satu tenun akan memperkenalkan semua kekayaan NTT," kata Ketua Dekranasda dan Istri Gubernur NTT, Julie Laiskodat dalam konferensi pers, Kamis (11/4).

Motif tenun menggambarkan berbagai kekayaan di NTT dari mulai air terjun, pegunungan, dan kekayaan wisata alam. Bekerja sama dengan Perpustakaan Nasional RI, pihaknya berusaha menggalakkam kampanye budaya membaca bagi masyarakat NTT agar lebih maju menghadapi perkembangan teknologi dan peradaban.

Photo

Model memperagakan kain tenun Nagekeo. (Rieska Virdhani/JawaPos.com)

"Beberapa waktu lalu dengan Kabupaten Lembata, NTT, perpustakaan nasional memberikan 3.000 buku. Maka tak hanya lewat tenun, tetapi kemajuan pariwisata dan ekonomi rakyat NTT bisa digenjot lewat budaya membaca," jelas Julie yang juga memiliki butik khas kain tenun NTT, Levico.

Julie menambahkan, para ibu penenun di desa masing-masing kabupaten kota di NTT begitu giat menenun. Namun suami mereka 85 persennya adalah petani.

"Nah kalau petani itu kan musiman. Sedangkan menenun bukan musiman. Menenun bukan pekerjaan melihat musim. Kami sedang kampanyekan bahwa menenun yang awalnya mungkin hanya sambilan tapi nanti menjadi roda perekonomian," ujarnya.

Kendala yang sering dihadapi yakni masyarakat di sana tak punya modal seperti benang dan alat-alat. Padahal motif kain tenun di Nagekeo memiliki kekayaan dan ciri khas yang paling kaya.

Photo

Pemilik butik tenun Levico sekaligus Istri Gubernur NTT, Julie Laiskodat. (Rieska Virdhani/JawaPos.com)

"Lewat literasi kemampuan mereka akan lebih meningkat. Bagaimana bisa membangun Sumber Daya Manusia. Sebab dari segi teknik, tenun kami berbeda. Kami punya ikat, sotis dan bunah. Warna khasnya yaitu kuning dan hitam. Kami sedang berupaya hak patenkan satu persatu motifnya agar tak diambil orang dijadikan tenun printing," jelasnya.

Hal senada diungkapkan Bupati Nagekeo, Johanes Don Bosco Do. Dia berharap melalui gerakan Festival Literasi Nagekeo, tak hanya tenun, tetapi anak muda di Nagekeo semakin bergeliat menggerakkan ekonomi rakyat.

"Perpustakaan sebagai penyangga peradaban melalui literasi. Mengajak kita terutama masyarakat Nagekeo untuk mempercepat generasi muda menghadapi tantangan di era digital, salah satunya lewat budaya," tutupnya

Photo

Photo

Editor: Deti Mega Purnamasari
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore