
Rani Hatta menjadi pelopor busana muslim maskulin
JawaPos.com – Desainer Rani Hatta memberi warna baru dalam perkembangan dunia fesyen busana muslim (modest wear). Busana muslim bukan melulu harus gamis atau abaya, tetapi bisa disulap oleh perempuan asal Jogjakarta ini menjadi bergaya cuek dan maskulin. Rani menyebutnya dengan istilah sporty dan streetwear style.
Pada momentum Sumpah Pemuda, Rani mengajak pecinta fesyen untuk menghargai karya anak bangsa dan produk Indonesia. Lahir di tahun 1990, Rani merupakan milenial yang sukses. Terbukti dari keikutsertaannya dalam ajang-ajang perhelatan fesyen besar seperti Jakarta Fashion Week. Tak perlu diragukan, ketika melihat koleksinya, orang pasti sudah bisa menebak itu adalah label Rani Hatta.
“Sebentar lagi kan Sumpah Pemuda, jadi kita harus mencintai Indonesia dan produk-produk Indonesia. Untuk semua anak muda jangan takut melangkah dan kembangkan ide dan kreativitas,” katanya kepada JawaPos.com.
Perjalanan Rani menjadi desainer cukup terbilang konsisten. Rani tak pernah keluar dari jalur yang disukainya. Sejak kecil, perempuan cantik itu selalu aktif dalam kegiatan modeling anak-anak di sejumlah mal di Jojgjakarta. Rani memang suka bergaya dan lenggak-lenggok memamerkan busana yang dipakainya saat itu.
Menjadi model sejak kecil membuatnya dekat dengan dunia fesyen. Rani juga memutuskan ingin bercita-cita sebagai desainer. Hot mommy satu anak yang masih batita ini memilih jurusan Tata Busana di Universitas Negeri Jogjakarta.
“Awalnya memang suka fesyen dari kecil. Saya tak punya cita-cita lain selain menjadi fashion designer. Sejak lulus SMA saya enggak mau kuliah di segala macam jurusan lain, kecuali jurusan itu,” ungkap Rani.
Hanya bertahan dua semester, perempuan cantik ini langsung dilamar sang kekasih. Menikah dan mempunyai satu anak, Rani memutuskan pindah merantau ke Jakarta.
“Saat menikah itu sama sekali enggak menutupi langkah berkarir, justru suami support melakukan apa yang saya cintai karena jadi desainer itu sudah cita-cita sejak lama,” katanya.
Menekuni karirnya kini sebagai desainer, Rani seolah bukan bekerja, tetapi bersenang-senang sambil mengerjakan hobi. Prinsipnya, pekerjaan harus disenangi agar enak dikerjakan.
“Saat pindah ke Jakarta saya memutuskan masuk ke sekolah desain Susan Budihardjo pada 2011, saat itu punya anak umur 1 tahun, tetap didukung suami,” tutur Rani.
Berbekal dari ilmu yang ditempuhnya, setelah lulus di tahun 2013, Rani memutuskan meluncurkan label Rani Hatta. Meskipun sempat jatuh bangun, namun hal itu tak membuatnya patah semangat. Rani terjun langsung menekuni karirnya, dari awal hanya memiliki tiga pegawai, kini sudah bisa mempekerjakan 50 karyawan. Tentu semangat Rani patut didukung anak muda lainnya.
“Karena saya pun awal pertama kali buka brand enggak mengerti banyak. Cuma ada basic theory dari sekolah desain, namun tertantang untuk terus belajar. Dari mulai menggosok yang rapi seperti apa, menjahit, memotong, dan semua saya tempuh dengan terjun langsung dan tidak putus asa,” ungkapnya.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
