Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 7 Desember 2017 | 09.00 WIB

Di Jepang Mereka Hafu, Dulu Di-Bully Sekarang Dicari

BEDA: Rina Fukushi menjadi salah seorang model berdarah campuran yang ternama di Jepang. - Image

BEDA: Rina Fukushi menjadi salah seorang model berdarah campuran yang ternama di Jepang.

JawaPos.com - Rina Fukushi masih berusia 18 tahun dan menjadikan Tokyo, Jepang, sebagai rumah. Rina berdarah blasteran. Ayahnya Jepang-Amerika dan ibunya Filipina. Namun dulu, menjadi anak ras campuran di Jepang tidak selalu mudah.


Dia tumbuh sebagai hafu, sebuah label yang diterjemahkan sebagai 'separuh'. ”Saya diolok-olok saat masih SD dan SMP karena saya terlihat asing,” kenangnya.


Istilah hafu dipopulerkan kali pertama pada 1970-an saat Jepang mulai membuka diri terhadap warga asing. Mereka memberi para imigran itu akses yang lebih baik ke perumahan umum, asuransi, dan kesempatan kerja.


Selain itu, peningkatan jumlah tentara Amerika di negara Matahari Terbit itu juga berkontribusi terhadap peningkatan ras campuran dan anak-anak ras campuran.


Tetapi meski demikian, jumlah para hafu tetap rendah. Orang asing dan anak-anak hafu mereka sering hidup sebagai orang luar. Bahkan, sebuah film dokumenter berjudul Hafu: The Mixed Race Experience in Japan dibikin pada tahun 2011. Film itu mengisahkan mengenai stereotip negatif yang harus dihadapi hafu.


”Sekeras apa pun hafu mencoba membaur, mereka tetap merasa seperti orang asing dan diperlakukan seperti itu,” kata Lara Perez Takagi, co-director film dokumenter itu. ”Mereka diintimidasi karena terlihat berbeda, stereotip bahwa semua hafu berbicara dalam dua bahasa dan banyak stereotip lain.” sambungnya.


Namun tahun-tahun belakangan ini, para hafu, khususnya perempuan, mendapat tempat di dunia fashion Jepang. Mereka menjadi model ternama, dicari, dan mendapat banyak tawaran. Rina salah satunya. Pun demikian dengan Kiko Mizuhara dan Rola.


Mereka telah menjadi fashion week Jepang di tahun-tahun belakangan ini. Wajah mereka digunakan untuk promosi fashion internasional dan majalah. ”Kurasa Jepang telah berubah,” kata Rina. ”Entah. Tapi sekarang orang mengatakan bahwa menjadi ras campuran itu keren. Saya kira jumlah orang yang memiliki kepercayaan diri dan gayanya sendiri meningkat,” sambungnya.


Direktur Editorial Numéro Tokyo, Sayumi Gunji, memperkirakan bahwa 30 sampai 40 persen supermodel Jepang adalah hafu. ”Hampir semua model top berusia 20-an adalah hafu, terutama model top majalah mode populer,” kata Sayumi.


”Di media dan pasar Jepang, penampilan orang asing tanpa cacat tidak mudah diterima. Tapi model ras campuran yang lebih tinggi, memiliki mata lebih besar, hidung lebih mancung, dan bertampang ala boneka Barbie mulai dikagumi. Salah satu alasannya, mereka bukan Jepang tapi tidak berbeda dari Jepang. Itulah kunci popularitas mereka,” tambah Sayumi.(*)

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore