Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 27 Agustus 2025 | 06.45 WIB

Mengenal Nasi Grombyang, Kuliner Khas Pemalang yang Ditetapkan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda, Kuah Bergoncang Jadi Ciri Unik

Semangkuk nasi grombyang khas Pemalang dengan kuah pekat berbumbu kluwek, disajikan bersama sate babat dan irisan daun bawang.  (Dok. jatengprov.go.id)

JawaPos.com – Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, memiliki kuliner khas yang kini semakin diakui keberadaannya. Nasi grombyang, sajian berbahan dasar nasi putih dan daging sapi atau kerbau, resmi tercatat sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI pada 29 Oktober 2021.

Penetapan ini bukan sekadar pada produknya, melainkan pada proses pengolahan nasi grombyang. Kuliner ini masuk dalam kategori teknologi tradisional karena cara memasak dan penyajiannya yang unik serta diwariskan turun-temurun.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pemalang, Ismun Hadiyono, menuturkan bahwa usulan nasi grombyang sebagai WBTB telah diajukan sejak 2019. “Memang bentuknya benda, masuk Warisan Budaya Tak Benda ini mengacu lebih pada kategori teknologi tradisional,” ungkap Ismun dikutip dari Jatengprov.go.id, Jumat (5/11/2021).

Penetapan ini dianggap penting karena banyak kuliner khas daerah yang berpotensi diklaim wilayah atau negara lain. “Melihat perkembangan, makanan khas banyak yang diklaim. Maka kami punya kewajiban mengusulkan nasi grombyang, itu asline sega grombyang,” imbuhnya.

Setelah resmi ditetapkan, pemerintah daerah memiliki tanggung jawab terhadap empat pilar utama, yakni perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pelestarian. Beberapa warung makan di Pemalang kini berkembang menjadi bagian dari upaya menjaga kuliner ini tetap lestari.

Sejarah Nasi Grombyang

Dilansir dari Kajian Warisan Budaya Takbenda di Kabupaten Pemalang (Universitas Pancasakti Tegal, 2017), istilah “grombyang” berasal dari bahasa Jawa grombyang-grombyang yang berarti bergoyang atau mengapung. Nama ini muncul karena kuah yang lebih banyak daripada nasi, sehingga membuat nasi tampak bergoyang di permukaan mangkuk.

Nasi grombyang diyakini sudah ada sejak 1960-an. Pada masa awal, pedagang menjajakannya secara berkeliling dengan menggunakan kuali besar. Nasi ditutupi kain merah, sementara penerangan menggunakan lampu templok.

Sekilas, nasi grombyang mirip soto. Namun kuah cokelat kehitaman yang berasal dari kluwek justru mengingatkan pada rawon khas Jawa Timur. Sajian ini semakin lengkap dengan sate babat atau sate daging sapi yang dibalut kelapa sangrai.

Bagi Anda yang ingin mencicipinya langsung, wisatapemalang.com merekomendasikan beberapa titik untuk dapat menjumpai hidangan autentik ini. 

Mulai dari kawasan Alun-Alun, Jalan RE Martadinata, hingga Kecamatan Petarukan dan Taman. Masing-masing warung menawarkan cita rasa khas dengan harga bervariasi, mulai dari Rp15 ribu per porsi.

Kini, keberadaan nasi grombyang tidak hanya menjadi identitas kuliner, tetapi juga simbol warisan budaya yang dijaga bersama. Dengan status WBTB, Pemalang berharap kuliner ini bisa semakin dikenal, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore