
Arah pasar kripto menunggu Bos The Fed, Jerome Powell, mengumumkan keputusan suku bunga. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com)
JawaPos.com - Menjelang rilis minutes FOMC Juli dan pidato Ketua The Fed Jerome Powell pada simposium Jackson Hole (22 Agustus), pasar aset digital mengalami tekanan tajam.
Bitcoin dilaporkan turun 3,2 persen ke USD 113.000 atau berkisar Rp 1,84 miliar. Sementara Ethereum terjun 5,3 persen ke USD 4.100 (Rp 66,5 miliar), Altcoin seperti ADA, SEI, PENGU, dan POL merosot lebih dari 6 persen dalam 24 jam terakhir.
Saham-saham perusahaan kripto seperti Marathon Digital (MARA), Coinbase (COIN), dan MicroStrategy (MSTR) juga melemah lebih dari 5 persen. Di sisi lain, pasar saham AS relatif stabil: Dow Jones flat, S&P 500 turun 0,59 persen, dan Nasdaq turun hampir 1,5 persen.
Fahmi Almuttaqin, analis Reku, menyebut bahwa kekhawatiran pasar muncul karena sinyal bahwa pemotongan suku bunga The Fed pada September bisa tertunda.
Faktor-faktor yang memicu antara lain tekanan tarif yang berpotensi meningkatkan inflasi, ekonomi AS yang menunjukkan sinyal campuran (pekerjaan melemah namun konsumsi tetap kuat), dan ketidakpastian kebijakan ekonomi dalam negeri AS.
"Hal ini memperkuat alasan bagi The Fed untuk tetap berhati-hati—suku bunga masih berada di level 4,5 persen sejak Desember 2024," kata Fahmi dalam catatannya yang diterima JawaPos.com.
Pidato Powell di Jackson Hole sendiri menjadi momen krusial untuk membaca arah kebijakan moneter pasar. Nada hawkish kemungkinan makin memperlemah kripto dan saham, sementara nada dovish, meski kecil kemungkinannya, bisa menjadi pemicu rebound cepat.
Pola Historis Buka Potensi Rebound
Menurut DataTrek, secara historis S&P 500 biasanya menguat sekitar 0,9 persen dalam lima hari sebelum dan sesudah pidato The Fed di Jackson Hole. Namun sejauh ini, pola tersebut belum tercermin di pasar tahun ini, membuka peluang momentum pemulihan pasca-acara.
Fahmi menambahkan bahwa koreksi saat ini juga memungkinkan peluang akumulasi. Bitcoin pada level USD 112.000 (Rp 1,82 triliun) menjadi support penting, jika level ini bertahan, tren positif bisa terjaga.
Bagi para investor, yang berpengalaman disarankan mengambil pendekatan defensif, aktif dalam pengelolaan dana, dan siap pivot jika ada sinyal dovish. Sementara investor jangka panjang bisa mempertimbangkan strategi buy the dip sebagai akumulasi. Investor pemula sebaiknya pakai strategi Dollar Cost Averaging (DCA) dan diversifikasi aset.

Puluhan Orang Terjebak di AEON Mall Kumamoto Usai Gempa Dahsyat M7,1 Diikuti Ledakan
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Malik Bawazier Dilaporkan ke Polda Metro Jaya, Suami Cut Keke Diduga Tersangkut Kasus Perzinaan
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Prediksi Skor hingga Rekor Pertemuan Persebaya vs PSMS: Ayam Kinantan Lebih Unggul Atas Green Force
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs PSMS Medan di Piala Presiden 2026: Misi Green Force Raih 3 Poin Lagi!
Prediksi Skor Port FC vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Pembuktian Magis Shin Tae-yong!
