Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 20 Agustus 2025 | 18.06 WIB

Prediksi Altseason Dimulai September, Ini Kata Coinbase dan Pantera

Ilustrasi altseason. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com) - Image

Ilustrasi altseason. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com)

JawaPos.com – Dominasi Bitcoin di pasar kripto perlahan mulai bergeser. Menurut laporan terbaru dari Coinbase dan Pantera Capital yang dikutip dari BeInCrypto dan Coindesk, Rabu (20/8), altcoin diprediksi akan mengambil alih sorotan pasar mulai September mendatang.

Fenomena ini biasa dikenal sebagai altseason, periode ketika token-token alternatif seperti Ethereum, Solana, hingga aset DeFi mengalami reli besar dan mengungguli performa Bitcoin.

Pantera Capital mengamati bahwa altcoin sudah mulai unjuk gigi dalam siklus kenaikan harga belakangan ini. Ini menjadi tanda pergeseran dari reli yang sebelumnya didominasi oleh Bitcoin, baik saat peluncuran spot ETF pada akhir 2023 hingga awal 2024, maupun saat lonjakan harga karena isu politik Amerika Serikat di pertengahan 2024.

“Kontribusi altcoin terhadap pertumbuhan pasar masih di kisaran 35 persen dalam siklus saat ini,” tulis Pantera dalam laporannya. “Namun secara historis, kontribusinya bisa menembus 55 hingga 66 persen seperti pada siklus 2015–2021. Artinya, masih ada potensi pertumbuhan 20 persen lagi dari altcoin.”

Data terbaru menunjukkan bahwa kapitalisasi pasar altcoin telah melonjak lebih dari 50 persen sejak Juli 2025, dan kini menembus USD 1,4 triliun atau setara Rp 22.820 triliun. Sementara dominasi Bitcoin turun dari 65 persen pada Mei menjadi di bawah 58 persen pada Agustus.

Coinbase menambahkan bahwa minat investor ritel terhadap altcoin juga meningkat, salah satunya terlihat dari lonjakan pencarian Google untuk kata kunci "altcoins" yang kembali ke level tertinggi sejak Januari 2018.

Selain itu, regulasi yang mulai terbentuk lewat RUU GENIUS dan CLARITY di Amerika Serikat turut menambah kepercayaan pasar, khususnya terhadap Ethereum yang saat ini juga mencatat arus masuk institusional dalam bentuk aset dunia nyata (real-world assets).

Di sisi lain, laporan dari firma riset Bernstein juga menguatkan optimisme jangka panjang. Mereka memprediksi pasar bull kripto akan bertahan lebih lama dari perkiraan semula, dan bisa mencapai puncaknya pada 2027, bukan 2025 atau 2026.

Tak tanggung-tanggung, Bernstein memperkirakan Bitcoin akan menyentuh harga USD 150.000 hingga USD 200.000 dalam satu tahun ke depan. Dengan kurs Rp 16.300 per USD, itu berarti sekitar Rp 2,4 miliar hingga Rp 3,26 miliar per BTC. Namun, yang menarik, analisis Bernstein justru menyoroti bahwa setelah itu, giliran Ethereum, Solana, dan token-token DeFi yang akan mendominasi pasar.

Dalam laporan yang sama, Bernstein juga menaikkan target harga saham Robinhood dari USD 105 menjadi USD 160 karena diprediksi mendapat manfaat besar dari reli kripto mendatang. Saham Robinhood saat ini berada di kisaran USD 115 atau Rp 1,87 juta.

Coinbase juga diposisikan sebagai penerima manfaat utama karena ekspansi bisnis derivatifnya, sedangkan adopsi stablecoin USDC milik Circle diproyeksi melonjak hingga USD 173 miliar atau Rp 2.819 triliun pada 2027.

Bernstein menyimpulkan, jika suku bunga mulai menurun pada akhir 2025, minat terhadap produk-produk kripto berbasis yield seperti staking akan kembali meningkat. Ini akan memperpanjang reli hingga dua tahun ke depan, dan memberi panggung lebih besar bagi altcoin untuk bersinar.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore