Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 1 Juli 2025 | 20.12 WIB

Kripto Semakin Dilirik, Tapi Masih Banyak Tantangan: Bagaimana Prospeknya di Indonesia?

Roadmap proyek dalam investasi kripto/(Freepik). - Image

Roadmap proyek dalam investasi kripto/(Freepik).

JawaPos.com - Di tengah derasnya arus digitalisasi dan tren investasi modern, cryptocurrency atau kripto muncul sebagai alternatif baru yang semakin menarik perhatian masyarakat Indonesia. Namun di balik popularitasnya, jalan menuju adopsi yang lebih luas masih penuh tantangan, terutama soal literasi dan regulasi.

Chairman Indodax, Oscar Darmawan menjelaskan, perkembangan industri kripto di Indonesia dari masa awal hingga prospek masa depan. Menurut Oscar, kripto pertama kali mencuri perhatian dunia sejak kemunculan Bitcoin pada 2009.

Tantangan utama penetrasi investasi kripto di Indonesia masih berkutat pada rendahnya literasi keuangan digital di kalangan masyarakat.

Namun di Indonesia, geliat baru benar-benar terasa ketika Indodax, platform kripto lokal pertama didirikan pada 2014.

"Awalnya kripto hanya diminati kalangan digital dan komunitas teknologi. Tapi momen penting terjadi saat Indodax berdiri dan memperkenalkan layanan perdagangan kripto secara legal dan terbuka. Sejak itu, minat terus bertumbuh," jelas Oscar kepada JawaPos.com.

Tahun 2017 menjadi titik balik penting. Harga Bitcoin melejit, media global menyorot, dan masyarakat mulai tergugah. Aplikasi Indodax diunduh lebih dari 500.000 kali, dan volume transaksi harian menembus USD 1 juta.

Pandemi Covid-19 juga semakin memperkuat tren ini. Ketika dunia terkurung, kripto justru terbuka lebar sebagai instrumen investasi yang fleksibel, mudah diakses, dan tidak terikat jam bursa.

Prospek Cerah, Tapi Butuh Edukasi
Saat ini, jumlah investor kripto di Indonesia mencapai 13,71 juta orang dan diperkirakan bisa menembus 28 juta pada akhir 2025, menurut proyeksi Statista. Di sisi lain, Indodax sendiri mencatatkan lebih dari 8,5 juta pengguna dengan pertumbuhan member sebesar 21,95% dalam setahun terakhir.

Namun, menurut Oscar, pesatnya angka pertumbuhan itu tak boleh menutupi tantangan besar yang masih mengadang, terutama dalam hal literasi.

“Banyak yang tertarik karena dengar cerita soal cuan besar. Tapi belum tentu paham risiko volatilitas tinggi dan mekanisme pasar kripto itu sendiri. Ini yang bisa jadi bumerang kalau tidak disertai edukasi,” ungkap Oscar.

Indodax sendiri mengembangkan berbagai kanal edukatif seperti Indodax Academy dan webinar terbuka agar masyarakat makin paham sebelum terjun.

Terkait tantangan penetrasi kripto di Indonesia, platform lainnya memberikan pandangan juga. CEO Tokocrypto, Calvin Kizana menyebut, tantangan utama dalam penetrasi investasi kripto di Indonesia masih berkutat pada rendahnya literasi keuangan digital di kalangan masyarakat luas.

Banyak individu, terutama di luar kota besar atau dari kelompok usia dan pendidikan tertentu, masih menganggap kripto semata-mata sebagai alat spekulasi, bukan sebagai instrumen investasi yang sah dan berpotensi tumbuh.

Meski kelompok usia 18–35 tahun menunjukkan indeks literasi keuangan yang cukup tinggi, yakni sekitar 73–74% menurut Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) pemahaman terhadap aset kripto belum sepenuhnya merata.

Tantangan ini semakin nyata di kalangan masyarakat lanjut usia, serta mereka yang memiliki akses pendidikan dan informasi terbatas. Hal ini menandakan bahwa edukasi mengenai kripto perlu dilakukan secara lebih inklusif, berkelanjutan, dan disesuaikan dengan konteks lokal agar pertumbuhan adopsinya tidak timpang atau eksklusif hanya pada kelompok tertentu saja.

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore