Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 31 Maret 2025 | 01.25 WIB

Ethereum Terpuruk 50% di Kuartal I, Bloomberg Soroti Masalah Struktural

Ilustrasi Ethereum. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com) - Image

Ilustrasi Ethereum. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com)

JawaPos.com – Ethereum harus menutup bulan Maret dengan catatan suram. Altcoin terbesar kedua di pasar kripto ini mencatat salah satu performa kuartal pertama terburuk sepanjang sejarahnya, dengan penurunan hampir 50 persen dalam tiga bulan terakhir.

Harga Ethereum saat ini berada sedikit di atas USD 1.800 atau sekitar Rp 29,5 juta, melemah lebih dari 3 persen dalam 24 jam terakhir.

Dikutip dari Bitcoinist, Minggu (30/3), laporan terbaru dari Bloomberg menggarisbawahi sejumlah masalah mendasar dalam ekosistem Ethereum yang membuatnya semakin tertinggal dari Bitcoin.

Padahal, sejak diluncurkan pada Juli 2015, Ethereum digadang-gadang sebagai pesaing utama Bitcoin dan sempat merebut perhatian dunia kripto berkat fitur smart contract dan ekosistem DeFi.

Namun, memasuki dekade kedua usianya, Ethereum justru dinilai gagal memenuhi ekspektasi awal.

Bloomberg menyebut bahwa meskipun iklim regulasi kripto global mulai membaik setelah kemenangan Donald Trump dalam pemilu Amerika Serikat—dengan kebijakan yang lebih ramah terhadap aset digital—hal itu belum cukup untuk menyelamatkan Ethereum dari tekanan.

Salah satu faktor utama yang disorot adalah menurunnya jumlah pengembang aktif dalam jaringan Ethereum.

Data dari Electric Capital menunjukkan bahwa sepanjang 2024 terjadi eksodus signifikan pengembang dari platform ini. Di saat yang sama, pesaing seperti Solana justru menunjukkan tren sebaliknya.

Jumlah pengembang di jaringan Solana tumbuh 83 persen secara tahunan, menandakan kepercayaan yang meningkat terhadap ekosistem tersebut.

Bloomberg juga mengkritik cara Ethereum Foundation (EF) mengelola proyek ini. Salah satunya adalah kebijakan memindahkan sebagian besar aktivitas ke jaringan layer-2 untuk mengurangi biaya transaksi.

Meski langkah ini mendukung efisiensi pengguna, justru membuat volume dan biaya transaksi di jaringan utama Ethereum menurun drastis.

Bank investasi Standard Chartered bahkan menilai bahwa migrasi aktivitas tersebut turut menurunkan ekspektasi terhadap harga ETH karena dampaknya terhadap pendapatan jaringan inti.

Dengan tekanan internal seperti menurunnya aktivitas pengembang dan ketidakpastian arah strategi, Ethereum kini tengah berjuang mencari titik terendah baru dalam lebih dari setahun terakhir.

Di tengah dominasi Bitcoin dan kebangkitan altcoin lain seperti Solana, Ethereum kini perlu lebih dari sekadar dukungan regulasi untuk bisa kembali bersaing dalam lanskap kripto global.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore